Kalender dalam Sejarah Kebudayaan

Kalender dalam Sejarah Kebudayaan

Kiriman: I Gede Mugi Raharja ( Dosen Prodi Desain Interior)

Abstrak

Sejak zaman purba telah dilakukan usaha untuk memahami waktu dan gerak waktu oleh para ahli astronomi, ahli astrologi, serta oleh para pemimpin keagamaan. Diketahuilah  bahwa daur astronomi yang menentukan tahun, bulan dan hari, ternyata tidak tergantung satu sama lain dan tidak bersesuaian. Penyempurnaan penyusunan rangkaian hari dan bulan, agar cocok dengan kegiatan keagamaan dalam satu tahun serta musim, terus dilakukan. Kalender bangsa Babilonia lahir pada 2000 SM untuk membantu kegiatan pertanian. Orang Yahudi menetapkan 1 pekan sama dengan 7 hari. Umat Islam menetapkan kalender Kamariah, yang dihitung menurut peredaran bulan. Bangsa Mesir purba memulai tahun barunya setelah muncul bintang Sirius. Suku bangsa Maya menyusun kalender sebagai bagian dari kegiatan keagamaan dan ketepatannya mengalahkan perhitungan orang Eropa. Peradaban Eropa menggunakan kalender bangsa Romawi yang dibuat oleh Julius Caesar dan disebut kalender Julian. Konsep kalender Julian dilengkapi tahun kabisat. Pada 527 Masehi, Dionisius Exiguus, seorang pemuka biara, menetapkan Hari Raya Natal jatuh pada 25 Desember. Kalender tercetak mulai muncul pada abad pertengahan dan sangat diminati masyarakat Eropa, karena diberi dekorasi indah. Pada Oktober 1582 Paus Gregorius XIII melakukan perubahan kalender, dengan memotong tahun yang berjalan 10 hari dan menetapkan Tahun Baru pada 1 Januari. Konsep kalender ini disebut kalender Gregorian.

Kata Kunci: Astronomi, Kamariah, Julian, Kabisat, Gregorian.

Selengkapnya dapat di unduh disini

No Comments Yet.

Leave a comment