Melawak Sebagai Model Alternatif Gaya Hidup Berkesenian Di Bali

Melawak Sebagai Model Alternatif Gaya Hidup Berkesenian Di Bali

Kiriman : I Wayan Mudra (Dosen FSRD Institut Seni Indonesia Denpasar)

Abstrak

Fenomena pementasan pelawak Bali yang akhir-akhir ini muncul merupakan dekontruksi dari lawakan tradisional Bali yang disebut bebondresan. Bebondresan atau bondres merupakan dramatari yang pemainnya (penarinya)  menggunakan topeng (penutup wajah). Bondres memadukan antara seni tari, seni drama dan seni gamelan. Selain menampilkan tokoh-tokoh lucu, dengan humor-humor yang segar kadang diselingi dengan sindiran-sindiran ketimpangan sosial atau konflik yang terjadi di masyarakat. Kadang kala juga menyampaikan pesan-pesan etika moral dengan mengambil falsafah-falsafah atau pitutur-pitutur yang bersumber dari Agama Hindu. Alur ceritanya lebih banyak mengambil cerita rakyat pada umumnya, isu-isu yang sedang terjadi, kadangkala diselingi dengan banyolan-banyolan (lawakan) lucu yang menghibur, membuat penonton tertawa. Walaupun pementasan bondres tidak terikat pada pakem tari namun pemainnya harus tahu dan menguasai agem (sikap tubuh) tari topeng. Simbol-simbol tari topeng itu, baik yang disebabkan oleh pakaian maupun oleh topeng punya ciri khas. Orang yang sama sekali tak tahu hal ini, tidak akan bisa membawakan bebondresan, betapa pun lucunya orang itu. Model-model lawakan Bali yang muncul saat ini telah bergeser dari makna awal yang ditampilkan. Pergeseran tersebut bagi beberapa pelakunya telah menjadi gaya hidup kesehariaan dengan karakter dan identitas masing-masing.

Kata Kunci: Bondres, Humor, Agem, Simbol, Bergeser.  

Selengkapnya dapat unduh disini

No Comments Yet.

Leave a comment