Memaknai “Ulun Danu” dalam Kebudayaan Bali

Memaknai “Ulun Danu” dalam Kebudayaan Bali

Kiriman : I Gede Mugi Raharja (Dosen Prodi Desain Interior FSRD ISI Denpasar)

Abstrak

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 pada 2017 bertemakan Ulun Danu (hulu danau). Tema Ulun Danu ini mengandung pesan kepada seluruh rakyat Bali, agar turut berperan serta dalam upaya melestarikan air sebagai sumber kehidupan. Sebagai sumber air yang besar, danau-danau yang ada di Bali agar terus dilestarikan dan dijaga. Tema tersebut diharapkan bisa menjadi refleksi kehidupan dengan membangun kesadaran masyarakat dalam memuliakan dan menghargai air sebagai sumber kehidupan dan peradaban manusia. Beberapa peradaban purba di dunia diketahui membangun peradabannya dekat dengan sumber air, seperti peradaban Mesir kuno dekat Sungai Nil, peradaban Mesopotamia (Irak purba) di dekat Sungai Tigris dan Eufrat. Mohenjo-Daro dan Harappa yang merupakan peradaban India purba, peradabannya di bangun di dekat Sungai Indus (Sindhu). Peradaban Bali menurut pada prinsipnya juga dibangun oleh “peradaban air”. Agama Hindu dimulai dari sisi Sungai Sindhu di India dan berkembang dari Sungai Sindhu ke wilayah sekitarnya, hingga menyebar keluar India dan sering disebut Agama Tirtha. Oleh karena itu, umat Hindu memuliakan dan menghargai air sebagai sumber kehidupan. Tujuan hidup menurut Hindu adalah mencari amerta, kehidupan yang langgeng, lepas dari kesengsaraan (suka tan pawali duka). Hal itulah yang menyebabkan agama Hindu sangat memuliakan air. Dalam keyakinan masyarakat Hindu Bali, gunung-gunung dan danau merupakan tempat yang suci, stana para Dewa. Pada naskah Purana Bali, disebutkan bahwa Danau Batur adalah Kahyangan Betari Uma, Danau Buyan adalah Kahyangan Betari Gangga, Danau Beratan merupakan Kahyangan Betari Laksmi dan Danau Tamblingan adalah Kahyangan Betari Sri.

Kata Kunci: Hulu Danau, Peradaban Air, Agama Tirta, Amertha.

 

 Selengkapnya dapat unduh disini

No Comments Yet.

Leave a comment