Download PDF Version

Tabuh Telu Lelambatan Pegongan ”Tabuh Telu Lilit”

Oleh: Gede Yudartha

Gamelan Gong Gede

Gamelan Gong Gede

Tabuh lelambatan pegongan merupakan salah satu komposisi klasik dalam seni karawitan Bali. Dari berbagai bentuk komposisi yang ada, komposisi ini memiliki spesifikasi dan ciri khas tersendiri dimana penekanan pada istilah ”lelambatan” mencerminkan sebuah identitas yang kuat. Lelambatan berasal dari kata Lambat yang berarti pelan yang mendapat awalan Le dan akhiran an kemudian menjadi lelambatan yang berarti komposisi lagu yang dimainkan dengan tempo dan irama yang lambat/pelan. Tambahan kata Pegongan pada bagian belakang kata Lelambatan sebagai penegasan pengertian bahwa gending-gending lelambatan klasik pagongan adalah merupakan repertoar dari gending-gending yang dimainkan dengan memakai barungan gamelan Gong. Gamelan Gong yang dimaksud adalah gamelan-gamelan yang tergolong dalam kelompok barungan yang memiliki Patutan Gong. Patutan adalah merupakan istilah yang dipergunakan untuk menyebutkan tangga nada (laras) gamelan Bali yang mempergunakan laras pelog 5 (lima) nada.

Diantara barungan gamelan yang berlaras pelog lima nada, yang biasanya dipergunakan untuk menyajikan tabuh-tabuh lelambatan adalah gamelan Gong Gede dan Gamelan Gong Kebyar. Dari kedua barungan tersebut secara khusus tabuh-tabuh lelambatan adalah merupakan repertoar dari barungan Gamelan Gong Gede.

Sebagai sebuah komposisi karawitan klasik, keberadaannya sudah cukup lama dalam blantika musik tradisional Bali. terkait dengan keberadaannya itu, hingga saat ini belum ada data akurat yang mengungkap awal mula keberadaan tabuh-tabuh lelambatan klasik pegongan. Namun demikian, sebagai bagian dari repertoar gamelan Gong Gede, keberadaan gamelan tersebut dapat dipakai acuan sementara terkait dengan awal mula keberadaan komposisi-komposisi tabuh lelambatan tersebut.

Gamelan Gong Gede diduga mengalami puncak perkembangannya pada abad ke XVI-XVII yaitu pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Raja sebagai patronase pada waktu itu menunjukkan supremasinya melalui pembinaan berbagai bentuk kesenian termasuk diantaranya gamelan Gong Gede (Astita dalam Mudra, 1995:120). Abad tersebut dianggap sebagai jaman keemasan kesenian Bali, dimana pada waktu itu banyak bermunculan berbagai jenis seni pertunjukan tradisional baik berupa tari, karawitan dan pewayangan.

Secara filosifis, tabuh sebagaimana diuraikan dalam prekempa (Bandem, 1986:65) bait ke 36 ada disebutkan:

”Iti pretyakaning tabuh. Tabuh kang inaran tata ing buh. Tata ngaran prawerti. Prawerti ngaran kasusilan, susila ngaran sesana mwang penglaksana. Apan wiwiting hana wyaktinya sangkaning tiga, apan Sang Hyang Tri Wisesa angadakaken salwiring tumuwuh mwang salwiring maurip. Iti hana Sang Hyang Buh loka yaika sangkaning payoganira Sang Hyang Tri Wisesa kang gumawe utpeti, sthiti pralina….”.

Artinya:

”…Inilah keterangan dari susunan tabuh. Tabuh berasal dari tata dan buh. Tata yang disebut prawerti, prawerti artinya kesusilaan, susila yang berarti sesana dan pelaksana. Karena asal mula yang sebenarnya berasal dari tiga, karena Sang Hyang Tri Wisesa yang mengadakan segala yang tumbuh dan segala yang  berjiwa…”

Dari uraian tersebut dapat dicermati bahwa tabuh mengandung pemaknaan yang cukup dalam mengenai ajaran tata susila serta konsepsi tentang kelahiran, kehidupan dan kematian yang merupakan siklus kehidupan manusia di dunia. Di dalam konteks seni karawitan, tabuh diuraikan sebagai suatu bentuk komposisi karawitan yang disajikan melalui media seperangkat gamelan Bali baik intrumentalia dan sebagai musik pengiring tari, drama, prosesi dan sebagainya (Kamus Bali-Indonesia (1978:555).

Di lain pihak, I Nyoman Rembang (1984/1985:8-9) secara spesifik memberikan penjelasan bahwa tabuh bila dilihat sebagai suatu estetika teknik penampilan adalah hasil kemampuan seniman mencapai keseimbangan permainan dalam mewujudkan suatu repertoir hingga sesuai dengan jiwa, rasa dan tujuan komposisi. Sedangkan, tabuh sebagai suatu bentuk komposisi, juga dapat diartikan sebagai kerangka dasar gending-gending lelambatan tradisional Misalnya tabuh pisan, tabuh dua, tabuh telu, tabuh pat dan sebagainya.

Selengkapnya dapay diunduh di sini

Untuk Memberikan komentar gunakan Fasilitas Forum > Berita. Fasilitas ini dapat diakses melalui alamat: http://forum.isi-dps.ac.id

Share