Tata Busana Adat Bali

Busana Adat Modern, busana adat ini banyak memunculkan kreasi-kreasi baru, namun tetap memakai pola dasar tradisional. Bagi wanita mengenakan baju kebaya, selendang yang dijadikan stagen, serta kain. Sanggul wanita tetap dipilih sanggul tradisional Bali. Sedangkan untuk remaja lebih sering tidak mengenakan sanggul. Yang terpenting pada penggunaan busana jenis ini adalah pemilihan warna yang serasi antara kain, baju, selendang, serta aksesoris yang dikenakan. Bagi  pria busananya terdiri dari destar atau ikat kepala, baju, kain, kampuh yang menyelimuti kain, umpal yang mengikat kampuh. Busana jenis ini sangat umum dipakai saat ini.

Dalam keseharian, untuk menghindari terlepasnya sanggul, wanita Bali akan mengenakan pengikat sanggul yang lazim disebut “teng kuluk”. Di tempat umum seperti pasar-pasar tradisional, tengkuluk sangat lazim digunakan oleh masyarakat. Jenis dan bentuk tengkuluk pun sangat be-ragam. Salah satu diantaranya ya lelunakan. Lelunakan sendiri merupakan pengembangan tengkuluk dalam bentuknya yang manis dan indah, karena kain yang dipakai bukan lagi handuk, melainkan selendang. Kain selendang yang digunakan untuk lelunakan ujung-ujungnya tertata rapi serta memiliki bukaan yang lebar, sehingga lebih melindungi kepala dan mengikat rambut yang tergelung lebih erat.

Lelunakan yang menambah ayunya wanita Bali ini, pada awalnya merupakan pengikat kepala dan rambut wanita Desa Adat Badung. Dalam perkembangannya, cenderung menjadi milik khas wanita seluruh Kabupaten Badung. Bahkan karena keindahannya, sekarang telah menjadi milik wanita Bali, secara keseluruhan. Lelunakan biasanya digunakan dalam upacara kematian di banjar yang dikenal dengan Ngaben, dengan aneka rangkaiannya. Lelunakan menjadi semakin populer saat diciptakannya tari Tenun sekitar 1960–an. Si penari Tenun yang tentunya para remaja pilihan berparas ayu tampil di pentas dengan gelung lelunakannya yang dimodifikasi begitu indah dan asrinya. Maka jadilah lelunakan ini hiasan kepala wanita Bali yang memikat dan semakin popular, bahkan sudah pula dipakai pada acara resmi diluar kegiatan adat.

Perlu diketahui bancangan merupakan alat untuk menancapkan bunga. Disamping menghias kepala wanita, bancangan dipergunakan pula untuk menghiasi beberapa jenis sesajen atau sarana pemujaan lainnya, seperti gebogan, prani, gegaluh, pratima, pralingga, dan pecanangan saat upacara keagamaan. Tangkainya bancangan umumnya terbuat dari bambu sedangkan tempat menancapkan bunga terbuat dari kawat yang dibentuk seperti spiral, sehingga bunga yang tertancap bisa bergerak gemulai kala dipakai.

Sebagai bagian dari busana wanita Bali, bancangan umum dipakai dalam Tari Pendet, Tari Sisia, atau saat prosesi yang dinamai peed dilakukan. Dalam momen seperti itu, bancangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu mahkota kebesaran atau gelung-agung.

Kerangka Bancangan terbuat dari rotan kecil yang kalau di Bali disebut penyalin. Tempat menancapkan bunga diatur sedemikian rupa yakni mengecil ke atas. Namun bentuk keseluruhannya tetap berbentuk bulan sabit, atau Ardha Chandra seperti yang terlihat pada gelung agung gelung janger, onggar-onggar rejang Bungaya dan Rejang Asak. Warna bunga jepun Bali yang dipakai adalah yang berwarna putih dengan pangkal helai bunga berwarna kuning. Bunga ini selanjutnya diimbuhi kembang kuning Alamanda di bagian bawahnya, denga tajuk mahkota digunting sehingga selaras proporsi dan komposisinya dengan bunga jepun.

Satu lagi, di puncak tengah bancangan dipasang sekuntum bunga mawar merah atau sekuntum pucuk bang kembang sepatu warna merah yang juga disebut pucuk rejuna. Dengan gradasi dan komposisi warna yang manis dan indah itu, bancangan jepun sampai sekarang menjadi salah satu mahkota wanita Bali yang sangat popular.

Onggar-onggar entah kapan diciptakan, dan entah siapa penciptanya, hiasan kepala seunik dan seindah Onggar-onggar menjadi ada dan acapkali digunakan pada suatu acara di desa adat. Onggar-onggar merupakan gelung hiasan kepala di desa adat Bungaya Karangasem. Hiasan kepala ini dipakai para wanita penari Rejang Saput Karah. Gelung Onggar-onggar diselipi bunga emas yang disebut sekar sasak. Sehingga mahkota rejang itu membuat sang penari tampak semakin anggun.

Untuk Memberikan komentar gunakan Fasilitas Forum > Berita. Fasilitas ini dapat diakses melalui alamat: http://forum.isi-dps.ac.id

Page 2 of 2 | Previous page

Share