Download PDF Version

Balaganjur dalam Makna Profan

Oleh I Wayan Suharta

Adi MerdanggaPerkembangan makna Balaganjur sebagai ekspresi berkesenian dalam konteks keterkaitannya dengan ritual menjadi pertunjukan yang bermakna profan dapat dijelaskan dari pendekatan wujud kebudayaan, yaitu dari sistem budaya, sistem sosial dan sistem fisik. Sebab pada hakekatnya setiap unsur kebudayaan bermula dari ide-ide dari nilai-nilai yang mendorong ke arah prilaku dalam bentuk aktivitas yang akhirnya menghasilkan peralatan atau benda-benda konkret.

Makna profan Balaganjur dari aspek sistem budaya adalah dijadikannya Balaganjur sebagai “media ungkap seni” atau menjadi sumber inspirasi dalam konteks intepretasi estetis maupun akulturasi seni antara tradisi dengan seni modern. Munculnya karya seni dengan media Balaganjur semuanya bermula dari dunia ide para senimannya dengan mempertimbangkan manfaat praktis yang secara positif perlu dipertahankan dan dikembangkan.

Makna profan pertunjukan Balaganjur dari aspek sistem sosial adalah sebagai media penyaluran pengisi waktu dengan berkesenian, berkumpul, dan berorganisasi. Para seniman ketika merintis lahirnya sebuah seni pertunjukan, memiliki wadah berkesenian yang tidak terikat dengan ritual keagamaan. Begitu pula seniman mempunyai ekspresi berkreativitas seni yang lebih memberikan kebebasan untuk berimprovisasi.

Pembentukan sekaa-sekaa Balaganjur yang kini tersebar di Bali, pada prinsipnya dapat mengangkat potensi seni di masing-masing komunitas. Sebuah sekaa Balaganjur terwujud dari sosio-estetis para seniman tabuh. Sesuai dengan peran dan tugasnya, semua sekaa mendapat pengakuan untuk mengekspresikan bakat seni dan rasa keindahannya yang terungkap lewat Balaganjur.

Makna profan pertunjukan Balaganjur dari aspek sistem fisik adalah leluasanya para seniman dan sekaa-sekaa Balaganjur menjelajahi berbagai kemungkinan konsep artistik, baik dari segi musikalitasnya maupun tata penyajiannya. Balaganjur dari aspek sistem pisik jika ditinjau dari kreativitas ekonomi adalah kebebasan akan tempat, waktu, keadaan dan penyajiannya. Dalam konteks presentasi estetis sebagai tontonan wisatawan, Balaganjur tidak mengklasifikasikan tempat, yang penting arenanya dianggap cukup pementasannyapun dapat berlangsung. Dalam konteks profan pada prinsipnya Balaganjur dapat dipentaskan kapan saja. Tetapi untuk pementasan di ruang terbuka, Balaganjur lebih ideal dipentaskan sebagai musik prosesi dengan pertimbangan estetika dan efek akustika.

Makna Estetis

Agama Hindu merupakan unsur paling dominan sekaligus merupakan roh budaya Bali. Agama Hindu adalah sumber utama dari nilai-nilai yang menjiwai kebudayaan Bali. Setiap hasil kreativitas budaya Bali termasuk kesenian seperti Balaganjur tidak akan bisa lepas dengan ikatan nilai-nilai luhur budaya Bali, terutama nilai-nilai estetika yang bersumber dari agama Hindu.

Estetika berasal dari kata aisthesis dalam bahasa Yunani  dapat diartikan sebagai rasa nikmat, indah yang timbul melalui pencerapan panca indra (Djelantik, 2004:5). Estetika dimaknai sebagai keindahan yang dapat merangsang dan mendorong manusia untuk berkreasi dan bersikap dinamis untuk mencapai kepuasan bathin dalam mempertajam intuisinya yang menyangkut rasa keindahan yang membuat kita senang, terkesima, terpesona, bergairah dan bersemangat.

Kebutuhan manusia akan rasa kenikmatan estetis mendorong mereka untuk terus menciptakan objek-objek bernilai estetis. Jika diperhatikan di sekeliling kita terdapat berbagai objek yang dapat menimbulkan rasa lango (menyenangkan). Di jalan-jalan kita melihat benda-benda yang bernuansa estetis seperti patung-patung, tiang-tiang lampu, ukiran-ukiran rumah dan dekorasi-dekorasi lainnya. Akan tetapi benda-benda estetik yang ada di sekitar kita sesungguhnya tidak semua diciptakan oleh seniman atau penciptanya dengan tujuan yang sama sebagai benda kesenian. Ada karya-karya seni yang memang sengaja dibuat untuk dinikmati keindahannya dan tidak sedikit yang semula berupa benda atau barang pakai yang baru kemudian dijadikan benda seni. Oleh Jacques Maquet menamakan tiap-tiap objek keindahan menjadi art by distination dan art by metamorphosis (Dibia, op. cit. p. 96).

Seni pada dasarnya tidak dapat dipisahkan kehidupannya dengan masyarakat, terutama masyarakat Bali. Seni dan masyarakat adalah satu. Oleh karena itu nilai estetis adalah sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Bali. Kesadaran dan kehidupannya di bidang seni sangat tinggi, dan boleh dikatakan antara seniman dan masyarakat penontonnya terdapat komunikasi yang hidup (Mantra, 1993:32). Keberadaan seni pertunjukan dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari fungsinya sebagai suatu sarana interaksi dan komunikasi dalam masyarakat yang mengandung makna tertentu utamanya bermakna estetis.

Pembicaraan mengenai Balaganjur yang bernilai artistik bertumpu kepada masalah rasa akan selalu mengacu kepada dua sisi yang terkait, yaitu objektivitas dan subjektivitas. Sisi yang pertama menyangkut realita atau kenyataan dari bentuk Balaganjur, sedangkan sisi yang kedua menyangkut kesan yang ditimbulkan oleh Balaganjur tersebut. Oleh sebab itu, hasil penilaian estetis yang optimal dapat dicapai dengan memadukan kedua sisi objektif dan subjektif.

Penilaian terhadap kualitas Balaganjur secara estetis, juga sering kali ditentukan oleh etika (norma baik buruk) yang berlaku di lingkungan masyarakat budaya setempat. Kualitas keindahan Balaganjur sering kali kehilangan makna estetisnya jika ternyata didalamnya terdapat unsur-unsur yang bertentangan dengan etika yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu di lingkungan budaya tertentu kenikmatan keindahan juga memberikan kesenangan sesuai dengan norma baik-buruk yang berlaku.

Estetika Hindu pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa keindahan yang diikat oleh nilai-nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran kitab suci Weda. Ada beberapa konsep yang menjadi landasan penting dalam estetika Hindu. Konsep-konsep yang dimaksud antara lain konsep kesucian, konsep kebenaran dan konsep keseimbangan (Dibia, op. cit. p. 96).

Kesucian pada intinya menyangkut nilai-nilai ketuhanan yang juga mencakup yadnya dan taksu. Umat Hindu seperti yang terlihat di Bali, memiliki pandangan estetik yang diikat oleh nilai-nilai spiritual ketuhanan sesuai dengan ajaran agama Hindu. Seperti telah banyak dikemukakan oleh para pakar agama Hindu, bahwa Tuhan itu adalah maha-indah dan sumber dari segala keindahan. Atas ke-percayaan ini manusia Hindu percaya bahwa segala sesuatu yang bernilai artistik adalah ciptaan Tuhan.

Makna Kreativitas

Berbicara  tentang perwujudan karya seni, belumlah sempurna sebelum menyebut dua macam perbuatan dan perilaku kesenian yang berbeda secara mendasar, yakni kreativitas; perilaku kesenian yang menghasilkan kreasi baru, dan produktifitas; perilaku kesenian yang menghasilkan produksi baru merupakan ulangan dari apa yang telah terwujud, walau sedikit percobaan atau variasi di dalam pola yang telah ada (Djelantik, op. cit. p. 67).

Kebebasan berkreasi tidak berhenti pada satu titik atau era tertentu. Sepanjang proses berkesenian itu terus bergulir,  selama itu kreasi-kreasi baru akan terus ada, artinya pada suatu era suatu produk seni adalah sebuah kreasi baru. Namun ketika kreasi baru itu sudah biasa dan tidak baru lagi atau sudah menjadi pola tertentu, maka muncullah kreasi-kreasi yang lebih baru lagi yang pada era-era berikutnya kembali menjadi tidak baru, demikian seterusnya (Ibid., p. 68).

Kayam (1981:39) antara lain mengemukakan  bahwa kesenian tidak pernah lepas dari akar kulturnya yakni masyarakat. Masyarakat sebagai pendukung kesenian dan kebudayaannya tidak pernah berhenti berkreasi. Kesenian adalah ungkapan kreativitas dari kebudayaan itu sendiri. Masyarakat sebagai menyangga kebudayaan, demikian pula kesenian dapat memberikan peluang untuk bergerak, memelihara dan mengembangkan. Sedangkan kreativitas masyarakat berasal dari manusia-manusia yang mendukungnya.

Berpijak dari konsep Kayam tersebut, maka Balaganjur merupakan salah satu ungkapan kreativitas masyarakat dalam bidang seni pertunjukan, memiliki unsur-unsur yang bermakna dalam kehidupan bermasyarakat. Dorongan ke arah kreativitas dan pengalaman-pengalaman estetis dihidupi oleh semangat jiwa yang mendorong untuk tampil ke depan dan mengorbit (Sumandiyo, 2003:6). Sehubungan dengan dorongan kreatif serta kebutuhan indra yang mendasar, Balaganjur kaya akan warna nada dan ritme.

Lomba Balaganjur dan difungsikannya Balaganjur sebagai musik iringan tari merupakan babakan baru dari moment kreatif gamelan Bali. Sehingga penataan artistik dalam Balaganjur  menempati proporsi yang lebih dominan, Balaganjur sudah menjadi bentuk seni pertunjukkan tersendiri; para pemain sebagai penabuh dan juga sebagai penari. Hal ini merupakan bentuk kreativitas baru dalam menyemarakkan kehidupan dan perkembangan dunia kesenian, tentunya tidak terlepas dari peranan seniman didalam melahirkan nuansa baru dalam seni pertunjukan di Bali.

Seniman selalu berusaha memperbaharui tingkat perkembangan terakhir dari sebuah perkembangan. Tidak jarang garapan Balaganjur memiliki unsur kerumitan yang sangat tinggi dengan menampilkan kompleksitas garap melalui penonjolan pada pengolahan dinamika, ritme, melodi dan harmoni. Secara konsepsual telah menunjukkan adanya ungkapan kreativitas selera kekinian, terutama dalam hal penyajian gending-gending Balaganjur yang muncul belakangan ini.

Demikian pula upaya-upaya untuk menghasilkan sebuah ungkapan baru tidak saja mengolah materi yang telah ada melainkan menggali, menambahkan atau juga mereformasi bentuk-bentuk yang telah ada, sehingga memberi nuansa dan kesan yang baru pula. Memadukan unsur-unsur lama dan baru juga merupakan upaya kreatif seorang seniman, dalam upaya menghadapi pengaruh kultural dari luar dengan mencari bentuk dan model untuk menyesuaikannya.

Kusumawardani (2003:339), menyatakan berbagai bentuk seni timbul karena kemampuan manusia untuk menggali pandangan-pandangan yang tajam dari pengalaman hidup, karena keinginan untuk memberikan bentuk luar dari tanggapan serta imajinasi yang unik. Seni berkaitan erat dengan kreativitas, tentunya identik dengan kegiatan inovasi untuk menemukan gagasan baru, ide-ide baru yang cemerlang, fungsional dan komunikatif.

Makna Ekonomi

Ketika menjadi seni pertunjukan sekuler, Balaganjur telah mengalami perkembangan makna secara sistem budaya, sistem sosial dan sistem pisik. Perkembangan Balaganjur dari makna relegius dalam konteks ritual kepada makna ekonomi dapat ditinjau dari kreativitas estetis dan aktivitas sebagai seni wisata.

Balaganjur bermakna ekonomi dapat ditinjau dari aspek sistem budaya pada aktivitas dan kreativitas Balaganjur dalam perkembangannya menjadi seni pertunjukan turistik, penyajian Balaganjur dapat ditonton dan dibayar oleh para wisatawan. Munculnya Balaganjur sebagai tontonan turis di Bali merupakan stimulasi dari potensi pasar wisata dan kesadaran ekonomi para seniman Balaganjur.

Sebagaimana yang diramalkan oleh Covarrubias, kini terbukti bahwa perkembangan pariwisata telah membawa energi dobrak yang sangat dahsyat, sehingga menyebabkan perubahan-perubahan yang sangat struktural bagi masyarakat dan kebudayaan Bali (Bagus, 1977:92). Industri pariwisata adalah cermin teknologi modern. Ia digarap, dikelola dan digerakkan menurut prinsip dan nilai-nilai modern, nilai-nilai yang terutama berlaku dalam tatanan masyarakat  yang sudah bergeser dari statusnya yang “utuh” dan “tertutup”. Karena industri ini percaya kepada kompetisi, kepada prestasi individu, kepada efisiensi organisasi, kepada pengejaran dan perluasan keuntungan, kepada pengembangan yang terus menerus.

Pariwisata dalam arus modernisasi mengarahkan per-kembangan kebudayaan ke suatu arah modernitas. Pariwisata pada suatu sisi memberikan dampak positif, karena telah memberikan kontribusi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali yang tidak kecil jumlahnya. Demikian pula pada kehidupan berkesenian seperti Balaganjur selalu memberikan peluang untuk memunculkan kreativitas yang baru untuk menghibur wisatawan, sekaligus sebagai salah satu daya tarik pariwisata.

Barker (2004:115), menjelaskan globalisasi bukan hanya menyangkut persoalan ekonomi saja, melainkan juga telah terkait dengan isu budaya. Kendatipun nilai makna yang sudah melekat pada suatu tempat tetap mempunyai arti, bagi yang berkiprah di bidang budaya merasa semakin terjerat dalam jaringan yang meluas jauh keluar dari fisik budaya. Dalam hal ini yang digambarkan budaya bukanlah suatu bagian dari negara atau budaya dunia yang satu, namun di sini cukup jelas dapat mengidentifikasikan proses global, integrasi dan disintegrasi budaya, yang terlepas dari hubungan antar negara. Globalisasi yang mengalami percepatan pada era modernitas akhirnya menjadikan metafora perjalanan begitu relevan karena semua yang lokal kini mampu dipengaruhi.

Makna ekonomi seni pertunjukan Balaganjur dari aspek sistem sosial adalah munculnya Balaganjur sebagai komuditas pariwisata. Sebagian besar dari motivasi sekaa-sekaa Balaganjur adalah didasari oleh suatu kesepakatan sosio-ekonomis, dimana orientasi pasarnya adalah para wisatawan yang datang ke Bali. Sangat jarang ada pementasan Balaganjur yang mencari keuntungan finansial dari masyarakat lokal Bali.

Untuk Memberikan komentar gunakan Fasilitas Forum > Berita. Fasilitas ini dapat diakses melalui alamat: http://forum.isi-dps.ac.id

Share