Janger Bergirang Ceria Pasca Trauma G30S/PKI

Janger Bergirang Ceria Pasca Trauma G30S/PKI

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Lenggang girang dan dendang ceria kini kembali membuncah pada tari Janger. Jika dulu tari jenis pergaulan Bali ini lazimnya dibawakan oleh kalangan muda-mudi, belakangan kaum bapak-bapak dan ibu-ibu pun bergairah majangeran. Bahkan seperti dapat kita saksikan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) atau dalam tayangan televisi, beberapa grup  Janger seluruh penarinya ibu-ibu. Kelompok ibu-ibu Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar, misalnya, pertengahan September lalu menyajikan tari Janger di bale banjar setempat, sebagian menjadi pemain pria, kecak.

Janger biasanya dibawakan sekumpulan remaja pria dan wanita dalam jumlah yang seimbang banyaknya. Unsur utama yang disajikan dalam seni pertunjukan ini adalah tari dan nyanyi. Sebelum seluruh penari muncul di arena pentas, secara klasik diawali dengan nyanyian dan tari perkenalan oleh seluruh pemain dalam sebuah formasi menghadap penonton. Dalam perkembangannya, tari Janger tidak hanya menari dan melantunkan koor yang bersahut-sahutan namun juga ditambahkan dengan tampilan cerita yang dibawakan oleh pemain khusus. Janger yang disertai drama ini disebut Janger Malampahan alias Janger  berkisah.

Tari Janger sempat mengalami trauma berat. Itu terjadi setelah peristiwa kelam G30S/PKI pada tahun 1965. Pementasan Janger yang saat itu didaulat untuk mengumandangkan jargon-jargon partai politik, terjerembab menjadi seni yang bergidik. Tak sedikit para pegiat Janger yang pentas sebagai corong politik PKI dibunuh atau dikucilkan dalam pergaulan sosial hingga bertahun-tahun. Namun seiring dengan perjalanan waktu, sekitar tahun 1970-an, Janger mulai berani menggeliat. Janger menunjukkan eksistensi sebagai seni pentas hiburan yang merakyat namun tak jarang diganduli pesan-pesan pembangunan pemerintah Orde Baru.

Adalah Bung Karno, presiden pertama RI, begitu gandrung dengan tari Janger. Keriangan dan penuh semangat yang menjadi karakter tari ini menggugah presiden berdarah Bali itu  memberikan perhatian dan dorongan terhadap perkembangan seni pentas ini. Saat konfrontasi Indonesia dan Malaysia pada tahun 1963, sekaa-sekaa Janger yang marak di seluruh Bali dengan lantang memekikan “Ganyang Malaysia!“, baik dalam bentuk lagu maupun dalam lakon yang melengkapinya. Janger sebagai ungkapan seni juga sering diusung Bung Karno ke Istana Tampaksiring sebagai seni pentas terhormat bagi tamu-tamu negara.

Diduga cikal bakal munculnya tari Janger berawal dari budaya agraris tradisional. Untuk mengibur diri dan menghilangkan penat saat bekerja atau  panen, masyarakat petani di Bali suka bernyanyi-nyanyi, baik secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok saling berbalas. Adapun lagu-lagu yang banyak dikumandangkan adalah gending-gending dari ritual tari sakral Sanghyang yang merupakan ritus penolak bala. Pada tahun 1930-an Janger bermunculan dengan gending-gending kerakyatan yang dikembangkan dari koor para pelantun wanita dalam tari Sanghyang itu.

Kendati gending-gending-nya dikembangkan dari seni sakral, sejatinya kelahiran Janger adalah sebagai presentasi estetik semata, seni hiburan profan. Sebagi seni balih-balihan, tari Janger sering dipergelarkan untuk memeriahkan upacara keagamaan hingga tampil sebagai seni pertunjukan turistik. Namun ada pula komunitas-komunitas yang  tak hanya memfungsikan Janger sebagai seni pentas hiburan semata melainkan juga menghormati dalam konteks sakral. Sebuah komunitas di Bangli misalnya memaknai secara takzim kesenian Janger-nya sebagai tari keramat yang disebut Janger Maborbor dengan ciri pentas kesurupan menginjak bara api.

Janger Bergirang Ceria Pasca Trauma G30S/PKI selengkapnya

Comments are closed.