Joged Pingitan Desa Pengosekan Direkonstruksi

Joged Pingitan Desa Pengosekan Direkonstruksi

Joged Pingitan Desa Pengosekan Direkonstruksi.

Komitmen ISI Denpasar Selamatkan Tradisi Langka 

Koordinator Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat LP2MPP Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Dr. I Ketut Muka P. M.Si., mengatakan, pihaknya tengah melakukan upaya rekonstruksi terhadap kesenian yang hampir punah yakni Joged Pingitan di Desa Pengosekan, Kecamatan Ubud, Gianyar. Kegiatan rekonstrsuksi dimulai sejak Maret dan ditargetkan rampung Agustus 2018.

ISI Denpasar, kata Muka, ikut terlibat dalam pelestarian dan pemajuan kesenian Bali. Salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah melakukan rekonstruksi kesenian langka atau yang hampir punah yang ada di masyarakat. Untuk Joget Pingitan yang menjadi obyek rekonstruksi adalah tari, tabuh dan kostum, dengan menggunakan metode observasi, ceramah, diskusi, pelatihan, pementasan, selanjutnya tahap evaluasi, dan dokumentasi.

“Merupakan kewajiban ISI Denpasar merekonsstruksi seni pertunjukan tradisi seperti ini agar tidak terlanjur punah,” kata Muka di sela pembukaan rekonstruksi di Banjar Pengosekan, Desa Mas, Ubud, Jumat (11/5) lalu. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengabmas) ini, diharapkan para dosen, mahasiswa, alumni dan tokoh seni dapat membantu masyarakat melakukan rekonstrsuksi seni pertujukan tradisi, sekaligus melakukan penelitian yang selanjutnya dapat dikembangkan dalam proses belajar mengajar di kampus.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum memaparkan, rekonstruksi adalah program unggulan lembaga yang dipimpinnya. Setiap tahun, ia mengaku berusaha menyelenggarakan rekonstruksi di sejumlah daerah di Bali yang bertujuan untuk mengimbangi semaraknya lahirnya garapan baru.

“Garapan baru sangat marak. Ada yang sudah yang bisa dinikmati, namun parahnya banyak juga yang arahnya tidak jelas,” kata Arya. Untuk itu, perlu dilakukan penggalian dan pelestarian (rekonstruksi) terhadap kesenian yang hampir punah. Jika sudah terlanjur punah, diakui sangat susah untuk merekonstruksi kembali. “Daya ingat para sesepuh, akan kami padukan dengan kemampuan dosen untuk merekonstruksi. Kalau tiang baca di Lontar Tutur Catur Muni-muni, Joged Pingitan ini salah satu kesenian istana, selaini Semar Pegulingan, Pelegongan, dan bebarongan,” imbuh dia didampingi Humas I Gede Eko Jaya Utama, SE., MM. 

Kadis Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Gusti Ngurah Wijana mengaku menyambut baik kegiatan yang dimotori LP2MPP ISI Denpasar tersebut. menurutnya, di sejumlah desa di Gianyar juga memiliki joged serupa, namun pihaknya mengarahkan rekonstruksi di Pengosekan didasari atas nilai kesakralan. “Kami dengar di Desa Payangan juga ada (Joget Pingitan) tapi kami pilih di Pura Taman Limut, Duwen Ida Betrara iriki,” katanya sembari mengucapkan terimakasih atas komitmen ISI Denpasar dalam upaya pelestarian. 

Hal senada disampaikan Kelian Pemaksan Pura Taman Limut I Nyoman Narda. Selaku ‘tuan rumah’ pihaknya siap membantu, mendukung dan memfasilitasi segala hal yang diperlukan selama proses rekonstruksi berlangsung hingga masuk ke tahap akhir. 

Menurutnya, menjaga tradisi warisan leluhur yang sakral adalah suatu kewajiban bersama. Ia pun mengajak seluruh pihak untuk berdoa supaya segala tujuan dilancarkan oleh Ida Sesuhunan. “Pinaka krama titiang ngaturang suksesmaning manah. Domogi Joged Pingitan Duwen Ida Betara iriki nenten punah. (Selaku warga saya mengucapkan terimakasih. Semoga Joged Pingitan yang sakral ini tidak punah),” pungkas Narda.

Comments are closed.