Kolaborasi FSRD ISI – University of Canberra Karya Seni Instalasi Berbahan Sampah

Kolaborasi FSRD ISI – University of Canberra Karya Seni Instalasi Berbahan Sampah

Bahan daur ulang dari sampah memiliki nilai tinggi,  bila diolah menjadi karya seni instalasi. Bahkan selain menjadi karya seni, bahan daur ulang juga menjadi media setrategis untuk pesan menjaga alam lingkungan. 

Seperti yang dilakukan  40 mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar,memanfaatkan media sampah sebagai karya seni, Senin (4/6) di Kampus setempat.

Mereka adalah mahasiswa  dari jurusan seni rupa murni, DKV, interior, kriya seni dan film mempraktekan dalam sebuah  ‘workshop’ . Bahan karya seni instalasi itu berbahan dasar sampah (Styrofoam) yang dipungut dari pantai di Bali.

Kegiatan itu dibimbing langsung oleh dosen seni dari University of Canberra, Australia John Dahlsen,  di halaman FSRD ISI Denpasar. Selain untuk menciptakan karya seni yang memiliki nilai artistik dan estetika tinggi, ‘workshop’ tersebut juga menyampaikan pesan kepada masyarakat luas tentang pentingnya menjaga  lingkungan (pantai) dari bahaya sampah.

“Yang terpenting, kami menyampaikan pesan menyelamatkan lingkungan dari ancaman sampah,” kata John di sela kegiatan. Berdasarkan pengalamannya, John menuturkan, karya seni instalasi berbahan daur ulang sangat diminati para pencinta seni, karena dianggap memiliki nilai tinggi.

Lebih lanjut, karya seni yang diciptakan tersebut akan dipajang di FSRD ISI Denpasar sebagai koleksi kampus. Ia mengaku ingin meneruskan kerja sama jangka panjanga dengan ISI Denpasar. Serta tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada Konsulat Jenderal Australia yang telah memfasilitasi kegiatannya di kampus yang terletak di Jalan Nusa Indah Depasar itu. 

Dalam kesempatan yang sama, Dekan FSRD ISI Denpasar AA Gede Bagus Udayana, SSN., M.Si., menjelaskan, hari ini, Selasa (5/6), seluruh karya seni yang dihasilkan mahasiswanya akan dipamerkan di Alila, Seminyak, Kuta. Pameran itu disertai gala dinner puluhan wisatawan asing, khususnya Asutralia. “Kami harapkan nanti banyak wisatawan yang memberikan apresiasi,” harapnya.

Selaku pimpinan fakultas, Udayana sangat menyambut baik kegiatan yang positif semacam ini. Bahkan, ia mendorong mahasiswanya untuk mengangkat tema tersebut ke dalam tugas akhir. “Ada pesan cinta lingkungan. Itu yang sangat menarik,” kata Bagus Udayana didampingi Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama, SE., MM.

Terkait pengumpulan bahan, Udayana mengaku dikumpulkan beberapa hari sebelumnya dibantu oleh para aktivis lingkungan di sejumlah pantai di Bali. Ke depan pihaknya ingin membangun kerja sama dalam bentuk MoU untuk kegiatan serupa dengan instansi atau seniman dari luar negeri.

Udayana menambahkan  kegiatan ‘workshop’ menyulap sampah menjadi karya seni memiliki makna ganda. Di samping untuk meningkatkan kompetensi ilmu, secara tidak langsung mereka juga mendapatkan kesadaran tentang kepedulian terahadap lingkungan yang akan ditularkan pada lingkungan masing-masing mahasiswa. 

Pada kesempatan itu, John juga didampingi ketiga wakil dekan FSRD, sejumlah dosen seni murni dan pejabat struktural di lingkungan FSRD.

Comments are closed.