|
Ragam karawitan tradisional Bali telah tersebar, membentangkan di nusantara bahkan di seluruh dunia. Hal tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kebutuhan akan seni karawitan Bali. Banyak universitas yang terkenal di Nusantara dan bahkan di luar negeri telah mempunyai Gamelan Bali. Menurut Business News tanggal 8 September 1994, menyatakan bahwa pada tahun 1992 ekspor Gamelan dari Indonesia mencapai 194.125 buah dan pada tahun 1993 sebanyak 120.332 buah yang terdiri dari instrumen maupun ensambel.
Konten pembelajaran seni Karawitan pada saat itu belum tersedia secara mudah dan murah untuk didapatkan. Kebutuhan stakeholder seni Karawitan Bali dalam proses pembinaan dan pembelajaran dasar, mempunyai peminat yang sangat besar baik di Bali, Indonesia, maupun Internasional. Kapasitas dosen dengan spesifikasi keahlian yang berlainan diantara dosen Program Studi Seni Karawitan, merupakan kekuatan utama dalam pengembangan konten seni Karawitan. Dengan kenyataan seperti demikan, maka mekanisme penetapan konten ini adalah berdasarkan realitas kebutuhan stake holder eksternal yang ingin mendapatkan dasar-dasar menabuh seni Karawitan Bali.
Jenis dan ragam gamelan yang bervariasi, dan judul mata kuliah yang sama antara perguruan tinggi seni satu dengan perguruan tinggi seni lainnya tetapi dengan materi dan fokus yang berbeda, seperti misalnya mata kuliah teknik karawitan I atau praktek karawitan I antara ISI Denpasar dengan ISI Surakarta mempunyai nama mata kuliah yang sama tetapi materinya sangat berbeda. Materi mata kuliah Teknik Karawitan I di ISI Denpasar menggunakan gamelan Gong Gede, sedangkan di ISI Surakarta menggunakan Gamelan Ageng. Materi mata kuliah Praktek Karawitan I di ISI Denpasar menggunakan gamelan Gong Kebyar sedangkan di ISI Yogyakarta menggunakan gamelan Gong Ageng.
Jumlah konten seni karawitan yang akan dikembangkan adalah 2 buah konten dengan materi teknik dasar menabuh gamelan Gong Gede dan Gamelan Gong Kebyar. Pembahasan pada teknik tabuh gamelan Gong Gede akan dititik beratkan pada gending Tabuh Telu, sedangkan untuk pembahasan teknik tabuh gamelan Gong Kebyar akan di fokuskan pada jenis gending Gegaboran dan Bapang.
Seni Tari tradisional Bali telah terkenal di seluruh dunia. Konten pembelajaran seni Tari Bali pada saat itu belum tersedia secara mudah dan murah untuk didapatkan. Kebutuhan stakeholder seni Tari Bali dalam proses pembelajaran dasar mempunyai peminat yang sangat besar baik di Bali, Indonesia, maupun Internasional. Jumlah mahasiswa asing yang mengikuti pembelajaran tari dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, dan kapasitas dosen dengan spesifikasi keahlian tari yang berlainan diantara dosen Program Studi Seni Tari, merupakan kekuatan utama dalam pengembangan konten seni Tari. Dengan kenyataan seperti itu, maka mekanisme penetapan konten ini adalah berdasarkan realitas kebutuhan stake holder eksternal yang ingin mendapatkan dasar-dasar melakukan gerak tari Bali.
Konten seni Tari yang akan dikembangkan adalah materi dasar tari yang menjadi patokan dan panduan bagi setiap tarian yang ada di Bali. Konten yang akan dikembangkan berjumlah 2 buah konten dasar tari Bali yaitu tari dasar putri dan tari dasar putra. Konten tari dasar putra mengambil tari Baris sedangkan untuk konten tari dasar Putri mengambil tari Condong Legong Keraton.
Metoda pembelajaran seni pedalangan saat ini, disamping dilaksanakan secara akademis di perguruan tinggi seni, juga dapat dilakukan dengan metoda nyantrik yaitu belajar pada dalang-dalang yang sudah terkenal. Akses pembelajaran nyantrik seperti ini, disamping memerlukan ketekunan yang mendalam juga memerlukan waktu dan biaya yang cukup mahal. ISI Denpasar sebagai penyelenggara pendidikan tinggi seni yang mempunyai program studi seni pedalangan, sudah sepentasnya mengembangkan sebuah metode pembelajaran pedalangan yang berbasis multi media dengan memanfaatkan TIK.
Jumlah peminat untuk proram studi seni pedalangan umunya di Indonesia khususnya di Bali untuk melanjutkan belajar pada program studi seni pedalangan sangat minim. Untuk menarik minat stakeholder mempelajari ilmu pedalangan perlu di perkenalkan secara luas baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Program Studi Seni Pedalangan ISI Denpasar sebagai penyangga seni pedalangan Bali, memiliki amanat yang cukup berat dalam melestarikan seni budaya pedalangan Bali. Disamping itu dengan dimasukannya wayang sebagai bagian program konservasi seni dan budaya UNESCO merupakan suatu landasan untuk melestarikan dan mengembangkan seni pedalangan Indonesia umumnya dan Bali pada khususnya.
Adanya mahasiswa asing yang belajar pada Program Studi Seni Pedalangan, yang tealah terbiasa memperoleh kemudahan akses pada sumber belajar, sering mengalami kesulitan dalam metode pembelajaran tradisional seni pedalangan yang banyak dilaksanakan di ISI Denpasar. Adanya mahasiswa asing yang sering mengeluhkan proses belajar mengajar dan akses pada sumber bahan pengajaran merupakan sebuah lecutan cambuk yang perlu diperbaiki untuk proses pembelajaran yang lebih baik, efektif dan efisien. Sudah sewajarnya konten pembelajaran yang mempunyai format multimedia di adakan untuk meningkatkan proses belajar-mengajar yang lebih baik.
|