Eksistensi Drama Tari Genggong Desa Batuan Di Tengah Arus Global

Eksistensi Drama Tari Genggong Desa Batuan Di Tengah Arus Global

Kiriman : I Wayan Budiarsa (Dosen Jurusan Tari FSP ISI Denpasar)

Abstrak

Berbagai jenis kesenian balih-balihan yang tercipta dan berkembang di Bali hingga saat ini, merupakan daya kreativitas seniman-senimannya yang unggul, sehingga garapannya mampu bertahan sepanjang masa mewarnai disetiap even-even pertunjukan seni tari khususnya, baik dalam konteks ritus keagamaan maupun sebagai tontonan/ hiburan semata. Arus global yang bergerak dengan cepat dan tanpa sekat, mempengaruhi pola pikir masyarakatnya ditakuti akan membawa aura seninya kearah pusaran kegamangan, dan pada akhirnya merusak esensi makna dari sebuah berkesenian itu sendiri. Akan tetapi, di tengah derasnya era global sekarang ini, beragam seni tradisi masih nampak geliat eksistensinya karena berkat dukungan para masyarakatnya melalui wadah organisasi seni Bali yang disebut sekaa. Sekaa-sekaa inilah sebagai ujung tombak atas keberlangsungan kehidupan berkesian di Bali dan biasanya dikoordinir melalui perseorangan, tingkat banjar, tingkat desa, puri, dan lainnya.     Genggong, sebagai seni balih-balihan yang awalnya merupakan alat gamelan yang hanya dimainkan secara solo, oleh pemuda Bali di waktu senggang, oleh pengembala, namun dalam perkembangannya mampu diwujudkan sebagai bentuk seni pertunjukan yang menarik, apik, dan harmonis terjalin dalam bingkai cerita Panji. Sampai kini, khususnya di Desa Batuan Gianyar keberadaannya kerap kali dipertontonkan sebagai sajian hiburan dikala ada upacara keagamaan di salah satu pura, serta sebagai sajian favorit seni wisata di Bali.

Kata kunci: genggong, eksistensi, Desa Batuan                                                                           

Abstrac

Various types of art Balih-balihan created and developed in Bali until today, is the creative power of his artists were superior, so that his work can last throughout the period of coloring each events dance performance in particular, both in the context of religious rites as well as mere entertainment. Global currents that move quickly and without insulation, affecting the mindset of people feared would bring the aura of his art towards the vortex of uncertainty, and ultimately destroy the essence of the meaning of an art in itself. But, in the middle of the swift current global era, a variety of traditional art is still visible stretching its existence because of the support of the community through the art of Balinese umbrella organization called sekaa. Sekaa-sekaa is spearheading the sustainability of artistic life in Bali and is usually coordinated through individual, banjar level, the village, the castle, and others. Genggong, as art balih-balihan which was originally a gamelan instrument which only played solo, youth Bali at leisure, by shepherds, but in its development can be realized as a form of performance art that is interesting, neat, and harmoniously entwined in the frame Panji stories. Until now, especially in Desa Batuan Gianyar existence is often shown as entertainment programs when there is a religious ceremony at one of the temples, as well as favorites in Bali tourist art.

Keywords: genggong, existence, Desa Batuan

selengkapnya dapat unduh disini

No Comments Yet.

Leave a comment