Ekspresi Seni Masyarakat Tradisional Desa Adat Penglipuran Bangli Sebagai Sarana Pemujaan Kepada Tuhan

Ekspresi Seni Masyarakat Tradisional Desa Adat Penglipuran Bangli Sebagai Sarana Pemujaan Kepada Tuhan

Oleh I Nengah Duija Dosen di Fakultas Brahma Widya (Filsafat dan Teologi), IHDN Denpasar.

Berbicara tentang seni atau kesenian, maka tidak dapat dilepaskan dari kon-teks kebudayaan yang melahirkan seni itu sendiri. Pertautan ini disebabkan oleh karena seni atau kesenian merupakan bagian dari tujuh unsur kebuda-yaan yang bersifat universal, artinya sekecil atau sesederhana apapun kebu-dayaan suatu suku bangsa unsur kesenian ada di dalamnya. Menurut C. Kluckhohn, setiap kebudayaan suku bangsa terdapat tujuh unsur kebuda-yaan yang disebut cultural universal, yaitu meliputi: (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan teknologi, (5) sistem mata pencaharian hidup, (6) sistem religi, dan (7) kesenian (Koen tjaraningrat, 1990:203-204). Kesenian terdiri dari (a) seni patung, (2) seni re lief, (c) seni lukis dan gambar, (d) seni rias, (e) seni vokal, (f) seni instru-mental, (g) seni kesusastraan, (h) seni drama (Koentjaraningrat, 1985: 8).

Di Bali seni pertunjukan mengalami zaman keemasan sejak tahun 70-an, dimana seni pertunjukan di Bali cukup beragam mulai dari seni pertun-jukan yang bersifat seni Wali seperti Sanghyang, Rejang, seni Bebali yakni Gambuh, Wayang Wong, dan seni Balih-Balihan yakni Legong, Arja, Ke-byar (Bandem,1996:62). Selain itu perlu diketahui bahwa seni pertunjuk-an tradisional dalam kesenian Bali meliputi: dramatari Gambuh, Wayang Ku-lit, dramatari Topeng atau Prembon, Calonarang, Operatari Arja, Sendra-tari dan Drama Gong (Dibia, 1993:137).

Salah satu seni keagamaan (wali), yaitu Tari Baris adalah meru-pakan salah satu bentuk tari yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan watak kepahlawanan, yang sampai saat ini masih tetap digemari dan diles-tarikan oleh masyarakat Bali pada umumnya. Tari Baris adalah merupakan salah satu seni budaya yang masih hidup di Bali, dan di dalam keterpaduan unsur-unsur seni itu, maka unsur seni tari yang paling dominan. Karena seni tari itu tdak lepas dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali yang selalu mempunyai keterkaitan dengan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan.

Salah satu desa di Kabupaten Bangli yang masih kental ekspresi se-ni keagamaannya adalah Desa Adat Penglipuran. Desa Adat ini yang terda-pat di wilayah Kecamatan Bangli, Kabupaten Daerah Tingkat II Bangli. Desa Adat Penglipuran adalah merupakan salah satu objek pariwisata di Kabupaten Bangli dengan luas wilayah ± 70 Ha, dengan jumlah penduduk ± 800 orang. Desa Adat Penglipuran ditunjang dengan adanya beberapa tem-pat suci (pura) dan pementasan beberapa tari-tarian sakral pada saat upacara keagamaan. Pelaksa-naan upacara keagamaan yang diselenggarakan di Pura Penataran dan Pura Puseh Desa Adat Penglipuran selalu dilengkapi dengan pementasan tari-tarian sakral, seperti : (1) Tari Baris Jojor, (2) Tari Baris Presi, (3) Tari Baris Bedil. Pementasan tari-tarian sakral, seperti : Tari Ba-ris Jojor, Baris Presi, Baris Bedil, di samping sebagai tari penyelenggara upacara Dewa Yadnya di Desa Adat Penglipuran, juga sering dipentaskan pada saat penyelenggaraan upacara tertentu di Pura Kehen Kabupaten Bangli dan di Pura Besakih Kabupaten Karangasem.

Untuk itu pertanyaan yang dapat dirumuskan adalah : 1) bagaimana bentuk ekspresi seni di Desa Adat Penglipuran sebagai sarana pemujaan kepada Tuhan ? 2) apakah fungsi pementasan seni tari-tarian sakral bagi Desa Adat Penglipuran dalam kaitannya dengan pemujaan kepada Tuhan? 3) apa makna pementasan seni sakral di desa Adat Penglipuran yang berkaitan dengan agama Hindu dan lingkungannya sekitarnya?

Ekspresi Seni Masyarakat Tradisional Desa Adat Penglipuran Bangli Sebagai Sarana Pemujaan Kepada Tuhan, selengkapnya.

Comments are closed.