Foto Seni/ Ekspresi: Estetika Dalam Fotografi

Foto Seni/ Ekspresi: Estetika Dalam Fotografi

Kiriman : I Komang Arba Wirawan (Dosen Film dan Televisi FSRD ISI Denpasar)

ABSTRAK

Sebuah karya atau foto kita katakan sebagai benda seni, ia harus bukan sekedar hasil upaya proses reproduksi belaka. Foto seni/ekspresi semestinya berasal dari suatu kontemplasi yang intens. Pemunculan gagasan/idea tidaklah serentak dan berkesan dadakan. Ada suatu proses pengamatan empirik, komparasi, perenungan, dan bahkan serangkaian mimpi-mimpi yang panjang yang lalu berwujud sebagai titik akhir sebuah eksekusi: konsep dan visi/misi yang transparan serta “baru”. Dengan begitu sebuah foto ekspresi tidak hanya sebentuk “seni instan” belaka. Foto ekspresi, merupakan bagian dari cabang seni rupa yang paling muda dan memiliki pengayaan ide dan teknik.

* * * * *

Lebih dari satu abad yang lalu fotografi ditemukan sebagai teknologi baru di bidang perekaman visual yang cukup revolusioner. Prinsip dasar fotografi telah dikenal melalui cara kerja kamera Obscura, sebagai alat yang dapat mengabadikan objek ke atas permukaaan lempengan tembaga dan kertas. Mereka yang melakukan hal tersebut kemudian dikenal sebagai tokoh pionir fotografi seperti, Josep Necepphore, Louis Jacques Mande Daguerre (keduanya dari Perancis) dan Henry Fox Talbot (Inggris).

            Selanjutnya, secara bertahap fotografi berkembang ke arah penyempurnaan teknik dan kualitas gambarnya. Pada akhir abad ke-19 saat George Eastmen mempopulerkan produk kamera KODAK ke pasaran Amerika, fotografi telah mencapai kualitas hasil yang mendekati seperti yang kita kenal sekarang, yang paling mutakhir adalah teknologi digital. Teknologi fotografi terus dikembangkan oleh peneliti-peneliti penghasil produk kamera, sampai pada teknologi miroles. Teknologi miroles ini tanpa penggunakan kaca cendela pada body kamera, tetapi hasil  akhir sama seperti fotografi analog dan DSLR.

Selengkapnya dapat unduh disini

No Comments Yet.

Leave a comment