Fungsi Geguritan Sebun Bangkung

Fungsi Geguritan Sebun Bangkung

Oleh I Wayan Rinda Suardika

Fungsi Geguritan Sebun Bangkung terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Hindu di Bali meliputi fungsi Ketuhanan (Widhi Tatwa), fungsi moralitas (etika), fungsi upacara (rituil), fungsi pendidikan, fungsi estetika, dan fungsi sosial budaya. Fungsi Ketuhanan dapat dilihat lewat tokoh-tokoh dewa-dewa, bhatara, seperti Dewa Parama Siwa, Dewa-dewa Panca Dewata, Dewata Nawa Sanga, Sang Hyang Licin, Sang Hyang Guru Reka, Hyang Durga, bahkan dalam Teks Nabi ada sebutan Allah. Semua itu adalah Tuhan itu sendiri atau manifestasi kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan fungsinya masing-masing. Fungsi pendidikan moral (etika) dapat dilihat atau tecermin pada tokoh Jero Dukuh ketika memberikan ajaran agama (sastra) kepada tokoh I Made Tanu dan I Gede Togag, seperti yang tersirat pada Teks Guyu Pasaja. Fungsi upacara (ritual) dapat dilihat hanya berkisar pada upacara-upacara yang berhubungan  dengan kelahiran manusia dalam ajaran Kanda Empat (Geguritan Sebun Bangkung, bait 96). Fungsi pendidikan dapat dilihat dari metode pendidikan malajah sambilang magending (“belajar sambil bernyanyi”). Dengan membaca sebuah lontar, dididik untuk membaca huruf Bali, memahami bahasa yang dipergunakan, serta mencari nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam kesusastraan tersebut sehingga dapat menjauhi budaya anak muda seperti Teddy Boys, Hippies, Hell Angels (Tester, 2003:154). Fungsi estetika, pengungkapan rasa estetik tersirat pada kemampuan pengarang untuk mengungkapkan rasa keindahannya lewat tokoh-tokoh Dewi Saraswati, Kawi Swara, Dewa Kama, Dewi Ratih. Kemudian ungkapan rasa keindahan lewat sajak keindahan dalam diri seorang gadis, dalam bunga, deburan ombak (Geguritan Sebun Bangkung, Lb. 25a, bait 198). Di samping itu pemakaian berbagai macam pupuh dalam Geguritan Sebun Bangkung sehingga dapat dinyanyikan sesuai dengan watak, fungsi serta misi yang dibawa untuk menghibur pendengar, maupun yang menyanyikan. Fungsi sosial budaya, fungsi ini dapat terlihat dalam mengimplementasikan ajaran melalui megeguritan. Dalam megeguritan jelas ada aktivitas manusia baik secara individu maupun berkelompok dalam bentuk Sekaa Santi, seorang terhibur, menghibur, menghilangkan rasa gundah. Melalui kegiatan ini pula ada aktivitas saling tolong menolong sesama umat tatkala melakukan upacara-upacara keagamaan disuguhkan nyanyian (gending-gending) oleh sesama Sekaa Santi. Hal ini sesuai dengan pendapat Horace (Welled dan Waren, 1990:25) yang menyebutkan bahwa karya sastra dalam masyarakat berfungsi dulce (hiburan atau menghibur) dan utile (bermanfaat).

Geguritan Sebun Bakung Selengkapnya

Comments are closed.