Fungsi Karawitan Bali Di Yogyakarta: Sebuah Tinjauan Kontekstual

Fungsi Karawitan Bali Di Yogyakarta: Sebuah Tinjauan Kontekstual

Fungsi Karawitan Bali Di Yogyakarta: Sebuah Tinjauan Kontekstual, kiriman   I Ketut Ardana (dosen ISI Yogyakarta)

Gong Kebyar dalam Ujian TAMenelaah fenomena kesenian secara kontekstual sangat erat hubungannya dengan sosio kultural terhadap lingkungan tempat seni itu hidup dan berkembang.  Ahimsa-Putra mengelompokan telaah kesenian dalam antropologi ada 2 katagori, yaitu (1) telaah yang berciri tekstual, (2) telaah yang berciri kontekstual. Telaah tekstual yaitu memandang fenomena kesenian sebagai sebuah “teks” untuk dibaca, untuk diberi makna, atau untuk dideskripsikan strukturnya, bukan untuk dijelaskan atau dicarikan sebab musababnya. Hal ini berbeda dengan telaah kontekstual, yakni telaah yang menempatkan fenomena kesenian di tengah konstelasi sejumlah elemen, bagian, atau fenomena yang berhubungan dengan fenomena tersebut. Paradigma yang umumnya digunakan dalam menelaah kesenian secara kontekstual adalah struktural, fungsional karena pendekatan inilah yang sangat menonjol kontekstualitasnya. Paradigma fungsional yang digunakan dalam tulisan ini dibatasi permasalahannya. Permasalahan itu menyangkut seputar karawitan Bali di Yogyakarta sebagai topik utama dalam penulisan.

Peran dan fungsi kesenian pada umumnya dalam masyarakat sangatlah beranekaragam.  Pluralitas budaya memposisikan kesenian khususnya kesenian tradisi memiliki kekayaan bentuk maupun fungsi. Antara daerah yang satu dengan daerah yang lain memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda. Selain keragaman budaya, hal ini juga dipengaruhi oleh iklim geografis yang berbeda. Sebagai contoh, Antara manusia yang hidup di negara berkembangan dengan yang hidup di negara maju sangat berlainan dalam memanfaatkan seni pertunjukan pada hidup mereka. Di negara-negara yang sedang berkembang yang dalam tata kehidupanya masih banyak mengacu ke budaya agraris, kesenian memiliki fungsi ritual yang sangat beragam. Lebih-lebih apabila negara tersebut memeluk agama yang selalu melibatkan seni dalam kegiatan-kegiatan upacaranya, seperti misalnya agama Hindu di Bali. Sebaliknya, di negara-negara maju yang dalam tata kehidupannya sudah mengacu ke budaya industrial, yang segala sesuatu diukur dengan uang, sebagian besar bentuk-bentuk kesenian merupakan penyajian estetis yang melulu untuk dinikmati keindahannya. Keadaan semacam ini bisa diamati misalnya di Amerika Serikat. Oleh karena itu, Ada beberapa teori fungsi yang dirumuskan oleh para pakar seni. Curt Sachs dalam bukunya History Of The Dance menyatakan bahwa ada 2 fungsi tari, yaitu (1) untuk tujuan-tujuan magis; dan (2) sebagai seni tontonan. R.M. Soedarsono mengelompokan fungsi seni pertunjukan menjadi 2 kelompok yaitu, kelompok fungsi-fungsi primer dan kelompok fungsi-fungi sekunder. Secara garis besar seni pertunjukan memiliki 3 fungsi primer, yaitu (1) sebagi sarana ritual; (2) sebagai  ungkapan pribadi yang pada umunya berupa hiburan pribadi; (3) sebagai presentasi estetis. Khusus tentang seni musik etnis Alan P. Merriam  dalam bukunya yang berjudul The Antropology Of Music mengatakan ada 8 fungsi musik etnis, yaitu (1) sebagai kenikmatan estetis, yang bisa dinikmati oleh penciptanya atau penontonnya; (2) hiburan bagi seluruh masyarakat; (3) komunikasi bagi masyarakat yang memahami musik, karena musik bukanlah bahasa universal; (4) representasi simbolis; (5) respons fisik; (6) memperkuat konformitas norma-norma sosial; (7) mengesahkan institusi-institusi sosial dan ritual-ritual keagamaan; (8) sumbangan pada pelestarian serta stabilitas kebudayaan. Para pakar ini memfungsikan seni pertunjukan baik tari, karawitan (musik etnis), serta teater tradisional dengan proporsi yang berbeda-beda. Namun demikian, ada suatu persamaan persepsi, yaitu seni selalu dihadirkan dalam upacara ritual keagamaan serta sebagai “benda” untuk dinikmati keindahannya. Dari keragamaan pernyataan di atas muncul suatu pertanyaan, bagiamanakah peran dan fungsi karawitan Bali di Yogyakarta?. pertanyaan ini tentu saja bisa dijawab dari beberapa teori fungsi di atas.

Karawitan Bali sebagai mana yang dikenal oleh banyak kalangan memiliki 2 katagori, yiatu (1) karawitan instrumental; dan (2) karawitan vokal. Karawitan instrumental adalah seni suara yang menggunakan alat musik sebagai sumber suara sedangkan karawitan vokal adalah seni suara yang menggunakan suara manusia sebagai sumber suara. Namun demikian, tidak dipungkiri ada juga penggabungan kedua elemen tersebut dalam 1 bentuk lagu yang disebut dengan sandyagita, dan gegitan. Oleh karena itu, fungsi karawitan Bali di Yogyakarta dikaji dari aspek karawitan Instrumental, karawitan vokal, dan sandyagita.

Fungsi Karawitan Bali Di Yogyakarta: Sebuah Tinjauan Kontekstual, selengkapnya

Comments are closed.