Gagal Gaul Sebuah Karya Kontemporer

Gagal Gaul Sebuah Karya Kontemporer

Oleh: I Ketut Sutapa, dosen pada Jurusan Seni Tari ISI Denpasar.

Masyarakat masa depan yang penuh resiko mengalihkan pemikiran manusia bukan kepada masa lalu tetapi ke masa depan. Masyarakat masa depan yang penuh resiko, berorientasi kepada masa depan, sebagai masa depan yang telah diperhitungkan hal-hal yang mungkin terjadi (calculate tisk). Masyarakat masa depan yang digambarkan selalu dipertanyakan mengenai, bagaimana kita harus hidup menghidupi masa depan/ Apakah kita telah menyimak secara seksama apa yang akan terjadi di masa depan, maka sekurang-kurannya kita mempunyai pegangan hidup secara mantap untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Dapat kita ambil contoh, misalnya, mengenai masyarakat masa depan yang penuh resiko ialah: apakah resiko tersebut merupakan kenyataan faktual atau moral? Yang jelas, pertanyaan mengenai masyarakat masa depan yang penuh resiko tersebut haruslah merupakan suatu pertanyaan moral karena hal ini berkaitan dengan visi masyarakat masa depan yang kita inginkan. Ada yang beranggapan bahwa masyarakat masa depan dapat dikalkulasikan secara matematis artinya menghitung resiko yang akan terjadi, yang akan dipikul karena keputusan yang diambil pada masa kini.

Masyarakat masa depan yang penuh resiko menyajikan konsekuensi-konsekuensi kehidupan yang akan dihadapi namun tidak diinginkan. Dengan mengetahui konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan berarti kita memprediksikan hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi di masa depan atau sekurang-kurangnya, kita dapat mengurangi resiko negatif yang dapat terjadi karena keputusan yang diambil pada masa kini, kehidupan yang akan dihadapi yang tidak diinginkan. Bicara mengenai resiko berarti mempersoalkan mengenai apa yang seharusnya tidak boleh kita perbuat, dan bukan apa yang harus diperbuat. Pandangan ini kelihatannya pandangan yang negatif namun sebenarnya hanyalah memperlihatkan kepada kita mengenai kehati-hatian dalam mengambil keputusan masa kini karena konsekuensinya di masa depan yang tidak kita harapkan.

Kita semua mengetahui keadaan di Indonesia saat ini adanya krisis yang melanda bangsa masih terus terasa meskipun telah ada tanda-tanda kebangkitan di dalam sektor ekonomi dan keuangan. Tetapi keterpurukan yang lebih parah adalah keterpurukan moral.  Bahkan penyakit tersebut semakin mengganas karena juga merongrong kehidupan dan keteraturan hidup bersama, yaitu krisis hukum, sejak krisis moneter 1997 menunjukkan adanya kerapuhan moral dari pribadi warga negara Indonesia. kemerosotan moral tersebut menunjukkan ada sesuatu yang kurang di dalam sistem pendidikan. Oleh sebab itu, pembaruan pendidikan merupakan tanggung jawab moral dari bangsa Indonesia untuk melihat kembali, menyusun kembali, dan mencari jalan untuk memperbaiki sistem pendidian  agar dapat dihasilkan  warga negara yang cakap, terampil,  bermoral, dan bertanggung jawab (Tilaar, 2004: 335).

Karena yang terjadi sekarang, saat ditengah terpaan globalisasi dan kebutuhan material yang membumbung tinggi, banyak orang tua dari keluarga sederhana dan pendidikan pas-pasan yang kehilangan semangat hidup atau terjerumus melakukan tindakan nista untuk bertahan hidup, berdagang narkoba, menjual diri, dan bahkan membunuh (Murgiyanto, 2004:11).

Penciptaan karya seni bertujuan untuk mengangkat fenomena masyarakat sejak krisis moneter 1997 yang melanda bangsa kita masih terus terasa meskipun telah ada tanda-tanda kebangkitan di dalam sektor ekonomi dan keuangan. Tetapi keterpurukan yang lebih parah adalah keterpurukan moral. Bahkan penyakit tersebut semakin mengganas karena juga merongrong kehidupan dan keteraturan hidup bersama, yaitu krisis hukum. Pada kesempatan ini saya mencoba mencari solusi untuk memberikan penyadaran akan nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat melalui penggarapan sebuah karya yang tidak lagi semata-mata sebagai hiburan belaka.

Gagal Gaul Sebuah Karya Kontemporer, selengkapnya.

Comments are closed.