I Wayan Tangguh Sang Peneguh Seni Topeng Bali

I Wayan Tangguh Sang Peneguh Seni Topeng Bali

Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)

Bali berkabung  kehilangan seniman tangguhnya. I Wayan Tangguh, seorang empu membuat topeng Bali asal Banjar Mukti, Singapadu, Sukawati, Gianyar, berpulang dalam usia 80 tahun, pada Selasa (21/7) lalu karena gejala troke. Rencananya, upacara peng-aben-an maestro topeng yang karya-karyanya telah mendunia ini akan berlangsung pada Rabu (26/8).  Perjalanan Wayan Tangguh sebagai anak desa yang papa hingga mampu menjadikan dirinya sebagai seorang seniman topeng yang mumpuni dan disegani patut dihormati.

           I Tangguh lahir pada tahun 1935 dalam lingkungan keluarga yang serba miskin, termasuk kekurangan kebutuhan dasar makanan. Untuk meringankan ayah-ibunya, Tangguh berusaha mencari  sesuap nasi sendiri.  Puri Singapadu yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya dengan terbuka menerima si bocah Tangguh membantu-bantu di puri, khususnya mengukir kulit sapi untuk perhiasan barong dan rangda. Saat Tangguh berusia 12 tahun, tokoh Puri Singapadu, Ida Cokorda Oka Tublen sudah dikenal sebagai seniman pembuat barong dan rangda yang dikagumi masyarakat luas. Di bawah bimbingan Oka Tublen inilah titik berangkat I Tangguh meniti jalan hidup yang lebih cerah.

          Hingga menapak usia dewasa, I Tangguh dengan penuh kesetiaan mengabdi dan berguru pada Ida Cokorda Oka Tublen.  Ida Cokorda terkesan dengan ketekunan dan bakat yang menonjol pada I Tangguh. Oleh karena itu, bangsawan yang dikenal sebagi seniman serba bisa itu tak ragu-ragu mengarahkan bakat I Tangguh untuk mengerjakan tugas-tugas penting, dari memahat hingga menyelesaikan topeng. Kepercayaan dan asih yang diterimanya  kian menguatkan hasrat Tangguh untuk terus meningkatkan kemampuannya. Segala petuah yang diberikan Cokorda Oka Tublen dilakoninya dengan taat. Nasihat Oka Tublen agar seorang pembuat topeng harus bisa menari, dijalani  Tangguh dengan belajar menari pada penari terkenal I  Wayan Sadeg di Batuan dan penari topeng I  Ketut Rinda di Blahbatuh.

          Pemahamannya pada seni tari, di kemudian hari, memang terbukti memberikan dukungan  pada kepiawaian Tangguh dalam membuat topeng. Karyanya berupa tapel-tapel untuk kebutuhan tari topeng banyak diminati oleh para penari topeng Bali. Para pemesannya merasa puas, disebabkan tapel-tapel karya Tangguh memancarkan taksu dan memberikan stimulus saat menarikannya. Sebelum mengerjakan pesanan biasanya Tangguh bertanya siapa yang akan memakainya dan juga dengan telaten ditanyakannya latar belakangan pembelajaran tari si pemakai. Jika penarinya seniman alam, biasanya Tangguh membuatkan tapel yang lebih kalem, dan kalau akan dipakai oleh penari dengan skil dasar tari baris yang kuat, Tangguh membuat tapel yang terkesan energitik.

          Setelah Wayan Tangguh berkeluarga, Ida Cokorda Oka Tublen memintanya untuk mandiri dan bekerja  di rumahnya sendiri. Namun Tangguh tetap tak bisa memupus bakti dan hormatnya kepada sang guru. Tangguh selalu meminta saran, baik ketika menerima pesanan maupun setelah menyelesaikan garapannya. Kerendahan hati I Tangguh dalam kiprahnya sebagai pembuat topeng membuatnya semakin dikagumi dan kepercayaan masyarakat pun direngkuhnya. Tidak sedikit barong dan rangda sakral sungsungan komunitas desa telah dikerjakannya seperti di Baturiti, Apuan, Penebel Tabanan, Beneng, Getakan, dan Aan Klunkung, Bangun Lemah Bangli, Tatasan Denpasar, dan Batubulan Gianyar. Untuk mengerjakan barong dan rangda yang berkaitan dengan religiusitas masyarakat ini, I Tangguh menjalaninya dengan tulus bakti melalui proses spiritual yang suntuk.

          Kesungguhan Wayan Tangguh dan ketangguhannya sebagai seniman pembuat topeng membuatnya dikenal hingga ke mancanegara. Sejumlah seniman teater dari penjuru dunia datang berguru membuat topeng padanya. Karya-karyanya pun telah tersebar di Amerika, Jepang, Italia, Taiwan, Australia, Inggris, Prancis, Denmark, dan Jerman. Seniman topeng Bali dan dalam negeri pun tak ketinggalan mengkoleksi topeng karya I Tangguh, diantaranya I Wayan Dibia, I Made Bandem, NLN Swasthi Bandem, Fino Confessa. Museum Latamahosadi ISI Denpasar  juga mengkoleksi topeng-topeng wayang wong, barong bangkal, barong ketet, dan barong macan  karya ayah seniman I Ketut Kodi ini.

          Begitu vistuosonya Wayan Tangguh sebagai seniman pembuat topeng, sangat pantas bila ia disebut sebagai peneguh seni topeng Bali. Keteguhannya menekuni  kesenimannya telah mengundang respek pihak pemerintah. Penghargaan kepada seniman yang telah menunjukkan dedikasinya di bidang seni budaya dari tingkat Kabupaten Gianyar (Wija Kusuma) hingga tingkat Provinsi Bali (Dharma Kusuma) telah dianugrahkan kepadanya. Semestinya, bahkan, penghargaan tingkat nasional pun (Wijaya Kusuma),  sudah sangat layak dianugrahkan semasa hidupnya. Namun tanpa mengurangi arti berbagai penghargaan itu, sejatinya I Wayan Tangguh  telah menggenggam penghargaan yang abadi. Bisa jadi karya-karyanya akan lapuk dimakan waktu namun nama Sang Maestro I Wayan Tangguh kiranya akan terentang dalam ayunan zaman.

Comments are closed.