Kajian Poskolonialitas Pada Arsitektur dan Desain Interior Taman Ujung Karangasem

Kajian Poskolonialitas Pada Arsitektur dan Desain Interior Taman Ujung Karangasem

Kiriman : Dr. Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn (Dosen Prodi Desain Interior FSRD ISI Denpasar)

Abstrak

Taman Ujung (Sukasada) merupakan taman peninggalan Kerajaan Karangasem yang  mulai dibangun oleh Raja A.A. Gde Djelantik pada 1901, kemudian dilanjutkan oleh Raja A.A. Bagus Djelantik pada 1909 – 1920. Taman Ujung yang ada sekarang, merupakan hasil revitalisasi pada 2004. Sebelumnya, Taman Ujung mengalami kerusakan akibat erupsi Gunung Agung pada 1963, bencana gempa bumi pada 1976, 1978, dan 1980. Wacana poskolonialitas Taman Ujung direpresentasikan melalui rancangan arsitektur dan desain interiornya yang bersifat hibrid. Oleh karena, Raja Karangasem ingin menunjukkan kepada dunia Barat bahwa orang Bali saat masih dijajah oleh Belanda, telah mampu mendesain taman dengan perpaduan desain taman modern dan gaya desain taman tradisional Bali. Representasi desain hibrid tersebut menghasilkan bentuk baru identitas, melalui perwujudan bangunan paviliun modern di tengah kolam. Desain Taman Ujung juga merepresentasikan adanya diplomasi kebudayaan dengan identitas etnik. Hal ini ditunjukkan oleh adanya kreasi ragam hias bergaya tradisi Bali, tetapi memvisualkan singa bermahkota dan mahkota diapit oleh dua ekor singa. Ragam hias ini terinspirasi oleh mahkota Ratu Wilhelmina dan simbol Kerajaan. Kreativitas lokal ini menunjukkan adanya diplomasi kebudayaan dengan Kerajaan Belanda dan tetap menjunjung tinggi identitas etnik Bali. Diplomasi kebudayaan melalui ragam hias oleh Raja Karangasem, menunjukkan bahwa Raja Karangasem telah melakukan upaya negosiasi secara damai dengan Kerajaan Belanda. Sehingga tak perlu lagi melakukan perang, untuk membina hubungan harmonis yang dapat mengalirkan kemajuan bagi Kerajaan Belanda.

Kata Kunci: Hibrid, Diplomasi, Ragam Hias, Negosiasi, Etnik  

Selengkapnya dapat unduh disini 

 

No Comments Yet.

Leave a comment