Makna Balaganjur Dalam Aktivitas Sosial Masyarakat Bali

Makna Balaganjur Dalam Aktivitas Sosial Masyarakat Bali

Kiriman I Wayan Suharta

Adhi Merdangga ISI DenpasarBalaganjur adalah sebuah orkestra tradisional Bali yang memiliki perangai keras, didominasi oleh alat-alat perkusi dalam bentuk lepas. Ciri yang sangat menonjol untuk menentukan identitas Balaganjur bahwa umumnya dimainkan sambil berjalan kaki untuk mengiringi kegiatan-kegiatan tertentu yang sifatnya prosesi. Balaganjur terbentuk dari berbagai jenis alat dengan “warna” suara yang beraneka ragam. Kendati demikian, semua jenis alat tersebut masih memiliki kesamaan dari cara memainkannya yaitu dengan cara dipukul (Sugiartha, 1996:31).

Secara fisik Balaganjur didominasi oleh instrumen-instrumen berpencon, bentuk instrumen-instrumen tersebut pada dasarnya sama, hanya saja terdapat perbedaan ukuran besar-kecil setiap bagian instrumen. Alat-alat yang menjadi kesatuan barungan Balaganjur dapat dikelompokkan menjadi kelompok instrumen pemegang melodi, kelompok instrumen pemberi ornamentasi, kelompok  instrumen pemurba irama dan kelompok instrumen pengatur matra.

Kelompok instrumen pemegang melodi, dimainkan oleh enam orang penabuh (pemain gamelan); empat orang pemain reyong dan dua orang sebagai pemain ponggang. Instrumen pemberi ornamentasi yaitu cengceng kopyak, pemainnya tidak tetap  antara enam sampai duabelas  orang. Kelompok instrumen pemurba irama yaitu dua buah kendang (lanang-wadon) dimainkan oleh dua orang. Instrumen pengatur matra; meliputi dua buah gong (lanang-wadon) dimainkan oleh seorang penabuh, sebuah tawa-tawa, sebuah kempli, sebuah kempul dan sebuah bende yang masing-masing dimainkan oleh seorang penabuh. Karena Balaganjur adalah musik prosesi, maka diperlukan tenaga tambahan yang membantu membawakan gong empat orang, kempul satu orang dan bende satu orang.  Jadi secara keseluruhan penabuh yang diperlukan untuk mendukung penyajian Balaganjur antara 25 sampai 35 orang.

Balaganjur merupakan salah satu wujud kesenian yang hingga sekarang masih mencerminkan karya seni yang adiluhung, sehingga harus dilestarikan keberadaannya. Namun demikian kedudukan Balaganjur akhir-akhir ini telah menghadapi masalah yang dapat dikatakan dilematis, meskipun tidak secara keseluruhan meng-anggap demikian. Pada satu pihak merisaukan bahwa Balaganjur tengah terancam nilai-nilai keasliannya, disisi lain justru keberadan Balaganjur semakin kokoh, kendatipun ditengah-tengah gelombang modernisasi yang begitu pesat.

Sebagai seni tradisional kesadaran untuk mengembangkan Balaganjur di kalangan seniman dan masyarakat Bali semakin bergaerah. Perhatian yang sungguh-sungguh dalam menggarap seni karawitan ini begitu menonjol bila dibandingkan dengan jenis karawitan yang lain. Walaupun gamelan merupakan bagian tak terpisahkan dari seni pertunjukan, secara audio-visual Balaganjur dapat berdiri sebagai seni tersendiri. Maka kemudian yang harus dipikirkan adalah bagaimana upaya yang dilakukan agar Balaganjur tetap lestari, akan tetapi juga harus mendasarkan pada sikap terbuka terhadap kemungkinan penyesuaian unsur-unsur seni yang ada, sehingga relevan dan diterima menurut situasi zamannya.

Tulisan ini akan mengkaji eksistensi Balaganjur dewasa ini dengan berbagai inovasinya, terutama mengenai makna Balaganjur ketika Balaganjur sedang mengalami proses sekularisasi dengan dampak membawa “perubahan estetis” secara musikalitas. Perubahan yang dimaksud lebih mengarah kepada pengembangan khasanah yang dimiliki Balaganjur, yang pada intinya lebih banyak berpijak pada konsep dasar yang  telah ada untuk menghasilkan karya-karya yang inovatif, mantap dan masih mampu dicerna oleh masyarakat pendukungnya.

Dengan menjadikan Balaganjur sebagai topik tulisan ini, penulis bermaksud untuk menyajikan bagaimana masyarakat di Bali memberikan makna terhadap penyajian Balaganjur terutama dalam konteks aktivitas sosial masyarakat, baik  yang berkaitan dengan aspek kehidupan beragama dan adat, maupun dengan aspek kehidupan berkesenian dalam menghadapi perubahan di lingkungan budayanya. Beberapa hal penting yang menjadi catatan bahwa   1) Balaganjur masih tetap eksis dan unsur-unsurnya telah banyak mengalami perkembangan; 2) Balaganjur telah memiliki satu konsep garap yang mapan untuk melahirkan karya-karya yang baru; dan 3) dewasa ini telah lahir kreasi-kreasi Balaganjur, baik hasil karya para seniman muda maupun seniman tua dengan mengadopsi unsur-unsur seni kekinian yang dapat memperkaya khasanah Balaganjur itu sendiri.

Kesenian seperti Balaganjur adalah salah satu unsur kebudayaan memiliki wujud dan peran yang sangat menonjol dalam mengisi tujuan, yang berorientasi kepada pelestarian nilai-nilai budaya. Sebagai bagian dari kebudayaan kesenian merupakan simbol dari masyarakat dan mengandung nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Tema-tema yang diangkat sebagai isi dari kesenian itu pada dasarnya bersumber dari kehidupan masyarakat.

Hakekat hidup orang Bali yang berpedoman pada hukum karma phala, sikap hidup yang berorientasi pada dualisme; baik dan buruk, sangat berpengaruh terhadap kesenian Bali (Bandem, 1996:33). Tema-tema kesenian Bali sebagian besar berangkat dari dualisme tersebut sehingga muncul norma dan etika yang kuat serta mengandung makna tertentu bagi setiap pertunjukan kesenian. Makna penyajian seperti Balaganjur sangat bergantung pada fungsinya. Ketika Balaganjur berfungsi melengkapi pelaksanaan ritual keagamaan Balaganjur memiliki makna religius dan ketika Balaganjur mengalami sekularisasi yang berorientasi seni presentasi estetis, Balaganjur mengalami perkembangan makna yang mengarah kepada makna profan.

Makna Balaganjur Dalam Aktivitas Sosial Masyarakat, selengkapnya.

Comments are closed.