Menganalisis Film The Artist Dengan Komodifikasi

Menganalisis Film The Artist Dengan Komodifikasi

Kiriman : Ade Aprilia Puspayanti (Mahasiwa Jurusan Film Televisi )

ABSTRAK

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka (1990 : 242), film adalah selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan di bioskop). Film juga diartikan sebagai lakon (cerita) gambar hidup. Pengertian lebih lengkap dan mendalam tercantum jelas dalam pasal 1 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman di mana disebutkan bahwa yang dimaksud dengan film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronika, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem mekanik, elektronik dan/atau lainnya. Sedangkan film maksudnya adalah film yang secara keseluruhan diproduksi oleh lembaga pemerintah atau swasta atau pengusaha film di Indonesia, atau yang merupakan hasil kerja sama dengan pengusaha film asing. Fungsi lain tentang film adalah sebagai media informasi. Informasi yang tersaji dalam sebuah film memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat. Banyak aspek yang dapat disajikan dalam sebuah film, misalnya: alur cerita, karakter tokoh atau pemain, gaya bahasa, kostum, ilustrasi musik, dan setting. Apapun jenis atau temanya, film selalu meninggalkan pesan moral kepada masyarakat yang dapat diserap dengan mudah karena film menyajikan pesan tersebut secara nyata. Komodifikasi mampu mengupas sebuah film dalam menerangkan pesan yang lebih dalam yang ingin dissampaikan oleh sutradara. Komodifikasi menurut Vincent Mosco merupakan sebuah proses transformasi hal yang bernilai untuk dijadikan produk yang dapat dijual. Komodifikasi mendeskripsikan cara kapitalisme melancarkan tujuannya dengan mengakumulasi kapital atau menyadari transformasi nilai guna menjadi nilai tukar. Komoditas dan komodifikasi adalah dua hal yang memiliki hubungan objek dan proses, dan menjadi salah satu indikator kapitalisme global yang kini tengah terjadi. Dalam ekonomi politik media komodifikasi adalah salah satu bentuk penguasaan media selain strukturasi dan spasialisasi (Mosco, 2009: 127). Film The Artist merupakan sebuah film hitam putih asal Perancis yang mengambil set di Hollywood pada tahun 1927 sampai 1932 tetapi bukan merupakan film lawas, melainkan sebuah film karya Michel Hazanavicius yang lahir pada tahun 2011. Dengan set yang mendetail serta aspek rasio yang menyesuaikan film lawas, sutradara memiliki pesan tersendiri dalam pembuatan film The Artist.

Kata Kunci: analisis film, komodifikasi, film, The Artist, 2011

PENDAHULUAN

Di era globalisasi yang penuh dengan rupa dan warna yang berbeda ini, produk apapun yang dibuat manusia akan lebih menuntut keanekaragaman. Termasuk dalam film, kini banyak yang menciptakan film dengan genre yang berhubungan dengan teknologi tinggi. Seperti film-film yang mengangkat tema superhero yaitu The Avengers, Iron Man, Big Hero 6, dan lain-lain.

Namun film The Artist ini justru menciptakan hal yang berbeda, seperti oasis ditengah padang pasir, The Artist menjadi satu-satunya film bisu hitam-putih yang lahir di tahun 2011. Film ini mengangkat cerita tentang seorang aktor terkenal dalam film bisu hitam-putih yang tidak ingin terbawa dalam arus zaman perkembangan teknologi. Seiring dengan teknologi yang maju, film bisu mulai beralih menjadi film bicara. Film ini juga menggunakan aspek rasio 4:3 yang justru mendukung film tersebut sangat nyata berasal dari sebelum tahun 20-an. Dengan ide cerita dan konsep yang sangat maksimal, sutradara tentu memiliki pesan yang ingin disampaikan.

Sebuah cerita mengenai film bisu hitam-putih ini dijadikan sebuah barang yang dijual kepada konsumen film oleh sang sutradara. Dengan adanya ide yang berbeda dengan sutradara kebanyakan, maka penulis akan menganalisis film The Artist ini dengan metode komodifikasi.

PEMBAHASAN

1

Biodata Film:

Judul             :         The Artist

Sutradara      :         Michel Hazanavicius

Produser       :         Thomas Langmann

Negara          :         Perancis

Tahun           :         2011

Language      :         Silent, English

Dalam film ini terdapat beberapa hal yang dijadikan komoditi yang kemudian dijual oleh sutradara menjadi sebuah produk dalam filmnya. Yaitu:

  1. Ide Cerita Mengenai Bagaimana Rasanya Menjadi Aktor Film Bisu Hitam-Putih.

George Valentin yang merupakan aktor terkenal di Hollywood pada zaman film bisu hitam-putih ini sangat menyukai dan mencintai kepopulerannya sendiri. Ia tidak akan tunduk pada pendapat siapapun karena ia terkenal sebagai seorang aktor yang mampu menyampaikan pesan film tanpa harus bercerita lewat dialog. Karena memang pada zaman itu belum bisa menampilkan film dengan suara bahkan belum ada film dengan keanekaragaman warna seperti sekarang ini. Sehingga George sangat bangga pada dirinya, namun juga memiliki sifat sangat tertarik dan baik pada wanita manapun yang ia temui.

  1. Tampilan Mengenai Bagaimana Set dan Cara Pengambilan Gambar Pada Zaman Film Bisu Hitam-Putih.

Dalam film juga ditampilkan bagaimana pengambilan gambar film bisu berlangsung. Mulut pemain film hanya tertutup tanpa mengatakan dialog satupun. Serta lampu, kamera, dan segala alat dalam pengambilan gambar yang sesuai dengan set tahunnya. Sama sekali tidak menampilkan alat dengan kesesuaian tahun pembuatan film The Artist ini. Sehingga penonton diajak menikmati bagaimana rasanya berada di dalam set tahun 19-an.

  1. Aspek Rasio yang Menyesuaikan dengan Konsep Film.

Di zaman yang penuh dengan kemajuan teknologi yang pesat sekarang ini, film-film produksi besar kebanyakan menggunakan aspek rasio 16:9. Tetapi karena sang sutradara mengikuti konsep ide cerita film-nya, dan sang sutradara juga ingin meyakinkan penonton bahwa film itu memang buatan tahun 19-an, maka aspek rasio film disengaja menggunakan 4:3.

  1. Konflik Dalam Diri Seorang Aktor.

Kita juga diajak merasakan bagaimana menjadi seorang aktor yang dipaksa mengikuti keinginan masyarakat meskipun tidak sesuai dengan hatinya. Dalam film ini, George Valentin sangat percaya pada dirinya sendiri yang sangat terkenal di zamannya. Berbeda dengan Peppy Miller yang pernah dimotivasi oleh George Valentin. Peppy Miller mengikuti keinginan masyarakat sehingga ia menjadi sosok yang sangat dicintai masyarakat. George hingga akhir tetap ingin menjadi aktor film Bisu hingga istrinya meminta bercerai dengannya, namun filmnya sangat sedikit peminat disbanding dengan film Peppy Miller yang luncur di waktu yang bersamaan.

  1. Kisah Cinta Antar Aktor.

George Valentin yang sudah memiliki istri, mengenal Peppy Miller karena sebuah kebetulan. Hingga akhir cinta mereka tidak pernah bertemu sampai akhirnya George mau mendengarkan Peppy dan menjadi aktor terkenal yang bermain bersama Peppy Miller.

PENUTUP

Film The Artist yang menggunakan set tahun 19-an sangat mengejutkan para penikmat film di tahun 2011. Sehingga banyak yang ingin mengetahui apa yang menjadi motivasi sang sutradara dalam membuat film ini. Dalam film ini terdapat beberapa komodifikasi yang dilakukan sang sutradara agar mampu menarik minat penonton yaitu ide cerita mengenai bagaimana rasanya menjadi aktor film bisu hitam-putih, tampilan mengenai bagaimana set dan cara pengambilan gambar pada zaman film bisu hitam-putih, aspek rasio yang menyesuaikan dengan konsep film, konflik dalam diri seorang aktor, dan kisah cinta antar aktor.

DAFTAR RUJUKAN

Ayu Astria R.A. 2010. Komodifikasi sebagai Konsep Ekonomi Politik Media. (Online). (https://id.scribd.com/doc/28389949/Komodifikasi-sebagai-Konsep-Ekonomi-Politik-Media, diakses 16 Juni 2015).

IMDB. 2015. The Artist. (Online). (http://www.imdb.com/title/tt1655442/ , diakses 16 Juni 2015).

Kalarensi Naibaho. 2008. Film : Aset Budaya Bangsa Yang Harus Dilestarikan!. (Online). (http://www.pnri.go.id/majalahonlineadd.aspx?id=85, diakses 16 Juni 2015).

Comments are closed.