Ngesti Laras Kelompok Karawitan Jawa di Denpasar

Ngesti Laras Kelompok Karawitan Jawa di Denpasar

Kiriman : Gading Nova Dwi Aryanto Dan Galih Febri Hastiyanto (Mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Prodi Musik) 

Abstrak

Di Denpasar, ada suatu kelompok seni karawitan Jawa yang bernaung di bawah Yayasan Adi Budaya, pada Paguyuban Ngeksi Ganda. Kegiatan rutinitasnya adalah berlatih setiap hari minggu. Dalam yayasan ini, ada dua kelompok karawitan, yaitu kelompok bapak dan kelompok ibu, yang pelakunya adalah hampir semua warga paguyuban Ngeksi Ganda di Denpasar. Dari sekian kegiatan yang digladi setiap hari minggu, jika tidak diberikan kesempatan untuk pentas, rasanya kurang semangat. Maka dari itu, inisiatif para pengurus paguyuban memberikan kesempatan pada saat ulang tahun paguyuban yang jatuh pada setiap bulan juni, diadakan pementasan kecil, jika tidak diadakan secara mewah atau khusus.

Kata kunci: karawitan, ngestilaras, Ngeksigondo

Pendahuluan

Pementasan seni merupakan tujuan dari latihan yang dilaksanakan oleh suatu kelompok. Jika dalam suatu latihan tidak di pentaskan, maka dari suasana latihan itu tidak akan memberikan semangat kepada pesertanya. Meskipun dalam pementasan hanya bersifat kecil dan tidak terlalu resmi, namun jika diadakan pementasan, maka suasana latihan yang dibangun setiap minggu akan bertambah gairah atau semangat.

photo pementasan2Pementasan sederhana kelompok Ngesti Laras karawitan Jawa pimpinan Tri Haryanto, S.Kar., M.Si., di jalan Padma no. 98 Denpasar dalam rangka arisan rutin Paguyuban Ngeksi Ganda (warga Yogyakarta dan sekitarnya) Denpasar. Kegiatan karawitan Jawa dilakukan latihan rutin pada setiap hari minggu mulai jam 14.00 Wita sampai jam 17.00 Wita di Jl. Padma No. 98 Penatih Denpasar. Materi yang dilatih berkisar pada bentuk gending Lancaran, Ketawang, Ladrang, Ayak-ayak, Srepeg, dan Sampak. Materi iringan Wayang, iringan Tari, dan untuk prosesi pernikahan juga sebagai latihan.

Materi iringan wayang biasanya pada materi Lancaran untuk budalan atau keberangkatan prajurit untuk menuju ke suatu tempat, materi Ketawang Subakasta untuk mengiringi tokoh ksatriya berjalan di tengah hutan, dan materi jenis Ayak-ayak, srepeg, dan sampak sebagai iringan wayang yang disebut dengan srambahan atau bisa dipergunakan untuk mengiringi apa saja tanpa memperhitungkan suatu tokoh.

Materi iringan Tari yang biasa dilatih adalah iringan tari Gambyong Pareanom, tari Gambyong Pangkur, tari Golek Ayun-ayun, Tari Klana Topeng, Tari Karonsih, Tari Bondan, dan Tari Gatutkaca Gandrung. Untuk materi prosesi pernikahan materi disesuaikan dengan gaya atau stile kedaerahan seperti gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta. Untuk gaya Yogyakarta materi berbeda dengan materi gaya Surakarta, meskipun ada beberapa materi yang sama untuk isian dalam sajian diluar materi pokok sajian peosesi.  

Penulis juga sebagai peserta latihan, namun pada saat pementasan kecil ini, penulis tidak ikut menabuh karena yang lebih senior berkesempatan hadir semua, jadi penulis tidak ikut serta untuk memberikan kesempatan kepada bapak-bapak yang senior. Penulis berkesempatan sebagai peladen/sinoman untuk menyiapkan makanan kecil dan minuman. Di samping itu penulis juga sebagai pendokumentasi.photo pementasan3

Pengurus Karawitan Ngesti Laras dan para penabuh dengan susunannya sebagai berikut: 1) pemimpin atau ketua sekaligus sebagai Pembina I Bp. Tri Haryanto, S.Kar., M.Si., 2) Pembina II Bp. Saptono, S.Sen., M.Si., 3) Sekretaris Bp. Drs. Rinto Widyarto, M.Si., 4) Bendahara Bp. H. Subandi Idris, 5) Bp. Sutomo, 6) Bp. Dru Hendro, S.Sn., M.Si., juga sebagai Pembina bidang Pedalangan, 7) Bp. Triyanto, 8) Bp. Supardi, 9) Bp. Yuli, 10) Bp. Suyatmo, 11) Ibu Suyatmo, 12) Ibu Tri Haryanto, 13) Ibu Rinto, 14) Ibu Sukamto, 15) Kurnia, 16) Galih, 17) Gading, 18) Rangga, 19) Ibu Hajah Salim, dan 20) Bp. Pojijan.

Pada pementasan kecil ini, karena bersifat hiburan dan tidak mengikat maka materi spontanitas dari para penabuh, seperti yang terjadi pada saat pesinden minta lagu Sinom Parijata langsung di respon oleh penabuh lainnya, yang secara urutan sajian biasanya belum dimainkan setelah beberapa materi lainnya disajikan. Penabuhpun juga berpindah-pindah sesuai dengan kehendaknya atau memberikan kesempatan bapak-bapak untuk menampilkan skill masing-masing, seperti bapak penulis yang sebagai ketua karawitan Ngesti Laras semula main kendang berpindah ke Saron, yang main saron pindah main kendang, yang lainnya pun juga begitu sesuai keinginan yang akan ditabuhnya.photo pementasan1

Pada kesempatan sajian ini, ketua Paguyuban Ngeksi Ganda juga ikut berperan serta dalam sajian, yaitu sebagai vokalis yang menyajikan empat jenis palaran, Sinom Parijata laras pelog nyamat atau pelog nem, laras yang berbeda dengan yang telah disajikan di awal sajian dengan laras slendro. Sajian juga diisi dengan sajian yang memberikan hiburan kepada orang tua dengan sajian jenis langgam, bahkan lagu kroncong Bengawan Solo juga digarap dalam bentuk garapan langgam.

Setelah santap siang, dilanjutkan latihan oleh penabuh wanita, yang anggotanya dari ibu-ibu paguyuban Ngeksi Ganda yang di latih oleh Bp. Supardi. Karena masih sangat dasar maka materi yang diberikan juga masih sangat dasar, yaitu dengan bentuk lancaran saja. Materi yang dilatih antara lain lancaran Bendrong, Lancaran Manyar Sewu, Lancaran Bindri, dan lancaran Suwe Ora Jamu.

Comments are closed.