Nilai Ajaran Inkarnasi Dalam Lakon Purbosejati

Nilai Ajaran Inkarnasi Dalam Lakon Purbosejati

Oleh: I Nyoman Murtana

NakulaPertunjukan wayang sering dikatakan memiliki nilai adiluhung. Nilai ini mungkin dibangun oleh banyak faktor yang terdapat pada seluruh unsur per tunjukan wayang yakni bahasa, rupa, suara, dan gerak sebagai sarana eks-presi.  Diduga, bahwa salah satu nilai yang turut membangun keadiluhung-an pertunjukan wayang adalah ekspresi religius yaitu ungkapan rasa sujud kepada Tuhan melalui sikap dan prilaku tertentu yang dapat diinderakan melalui ujaran dan tindakan. Nilai ini juga terdapat dalam Lakon Purba Sejati yang melukiskan proses penitisan Rama pada Kresna. Istilah peni-tisan menimbulkan dugaan, bahwa dalam lakon ini terdapat nilai ajaran in-karnasi. Jika dugaan ini benar, maka nilai-nilai ajaran inkarnasi merupakan salah satu unsur yang turut andil membangun nilai adiluhung.

Di sisi lain nilai adiluhung pertunjukan wayang mulai dipertanyakan aktualitasnya, karena kini tata nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat cenderung bergeser menuju nilai-nilai secular. Hal ini menyebabkan nilai keadiluhungan terpojok. Penganutnya yaitu para generasi tua telah kehabis-an energi dan kehilangan rasa percaya diri untuk mempertahankan.  Nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam lakon wayang tidak lagi dipahami dan diyakini sebagai landasan filosifi proses berfikir, berujar, dan bertindak, meskipun wayang telah berada pada tataran budaya “adiluhung”.  Permasa-lahannya, bahwa nilai keadiluhungan pertunjukan wayang yang telah mele-wati proses perumitan (sophisticated process) tidak sepenuhnya dapat mem-beri kontribusi langsung terhadap sakralitas kehidupan masyarakat masa ki-ni yang modern, berwawasan ke depan, terbuka, maju dan rasional, karena masyarakat tanpa sadar telah melangkah menuju dunia profan. Pemicunya antara lain pola hidup konsumtif yang cenderung menghamba pada dunia materi yang dapat menyeret kehidupan dalam proses sekularisasi.Akibat-nya, nilai-nilai seni adiluhung sebagai salah satu wujud kebudayaan ideal terabaikan. Hal ini terkait dengan penemuan dan inovasi kreatif para dalang dalam menyajikan pertunjukan wayang yang dari masa ke masa menun-jukkan proses sekularisasi yang antara lain didorong oleh daya “komersial”. Ini merupakan salah satu pengaruh inovasi dan penemuan kebudayaan ma-teriil (bandingkan Ogburn dalam Johnson, 1994:112).

Kesenjangan kebudayaan materiil dan kebudayaan non-materiil yang transenden berefek pada sebagian masyarakat pengagum nilai-nilai religiusi tas pertunjukan wayang. Mereka kehilangan pegangan hidup yang dapat memperlemah mentalitas budaya. Bagi yang tidak tahan segera mencari pe-gangan lain, meskipun kurang memberi dasar keyakinan yang mantap. Ke-adiluhungan sebagai nilai substantive terkadang masih diupayakan guna mencari tumpuan sesaat, pencerahan sesaat sebagai penghias skeptisisme, sambil melirik berbagai alternatif yang fungsi sosialnya lebih menguntung-kan. Akibatnya pertunjukan wayang tidak lagi mampu menegakkan reputa-sinya sebagai seni adiluhung dan sebagai sumber pencarian nilai-nilai (Amir,1991; Hassan,1977:42), karena telah terperangkap sebagai seni hibur an. Berbeda dengan situasi pada masa lalu, bahwa dalang selain seorang se-niman, juga seorang pendeta atau guru spiritual yang unggul (Mulyono, 1974:76; Covarrubias, 1977:237; Clara van Groenandael, 1987:304). Ini mengindikasikan, bahwa pada saat itu pertunjukan wayang merujuk pada tatanan ideal yang stabil. Masyarakat stabil memiliki pandangan hidup bu-daya yang dominan berdasarkan kenyataan sosial yang absolut. Berbeda dengan masyarakat pluralistik dimana struktur sosial mudah berubah, ber-kembang berbagai pandangan hidup, dan pola-pola budaya kompetitif yang sekaligus berarti penyediaan aneka alternatif bagi masyarakat (Johnson, 1994:12). Indikasi ini juga melanda dunia pewayangan (baca: dalang, pe-nonton, patronase).

Naskah Lakon Purba Sejati yang disusun Mujaka Jakaraharja jauh dari suasana vulgar. Ia berisi nilai-nilai adiluhung yang terkait dengan ke-percayaan. Selain itu Mujaka Jakaraharja tergolong dalang apik yang serius (Murtiyoso, wawancara tanggal 13 Mei 2005). Lagi pula, situasi pedalangan pada waktu dia masih hidup (dia wafat di panggung saat mendalang pada tahun 1992 di Tawangmangu), belum mengalami disparitas bentuk dan re-duksi isi seperti pada era “Pantap dan Reformasi”. Ini adalah satu aspek yang menggugah peneliti untuk menelaah signifikansi nilai ajaran inkarnasi Lakon Purba Sejati susunannya.

Nilai Ajaran Inkarnasi Dalam Lakon Purbosejati, selengkapnya:

Comments are closed.