Pembaharuan Adalah Denyut Nadi Jagat Seni

Pembaharuan Adalah Denyut Nadi Jagat Seni

Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)

Secara umum karya-karya I Wayan Beratha dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu musik alias gending-gending untuk iringan tari atau sendratari dan karya musik untuk konser. Untuk iringan tari lepas,  I Wayan Beratha  mulai mencipta sejak masa mudanya tahun 1958. Tari Tani, Kuputarum, Pendet, Panyembrama, adalah beberapa karyanya yang hingga kini masih eksis. I Wayan Beratha mulai menggarap musik untuk konser sejak tahun 1959 dengan judul Kebyar Swabuanapaksa. Karya ciptanya diterima penuh suka cita oleh para penabuh dan pecinta seni karawitan. Besar kemungkinan, ciptaan Sang Empu Seni karawitan Bali ini, akan lestari menjadi karya monumental, mengingat begitu getol dan asyiknya para penabuh masa kini mempelajari dan menyajikan tabuh-tabuh kreasi almarhum.

Tabuh Gambang Suling adalah salah satu karya Wayan Beratha yang dikenal luas oleh masyarakat Bali. Peristiwa seni pertunjukan  tari kebyar (tari lepas) dan drama gong misalnya, sering menyajikan ciptaan Wayan Beratha ini menjelang pertunjukan inti dimulai. Penonton yang pada umumnya banyak hadir untuk menikmati tabuh pembukaan sebuah pertunjukan, begitu terkesan terhadap harmoni beragam instrumen gamelan kebyar dengan penonjolan titian melodi gangsa dan liukan manis suling dari tabuh Gambang Suling itu.

            Sumber inspirasi tabuh yang diciptakan Wayan  Beratha pada tahun 1963 itu datang dari tanah Jawa. Ceritanya, pada tahun itu Wayan Beratha bertandang ke Solo memimpin sebuah misi kesenian. Dalam sebuah kesempatan ia sempat menyaksikan sebuah grup gamelan Jawa memainkan gending Swara Suling. Saat itu juga nalurinya sebagai komposer beriak-riak. Tak menunggu waktu lama, “Sepulang dari Solo,  saya menciptakan tabuh  Gambang Suling, karena struktur tabuh-nya ada unsur gegambangan di bagian akhir dan alunan suling tersendiri di bagian tengah, “ ungkap Wayan Beratha.

            Gending Swara Suling adalah seni vokal yang biasa dilantunkan anak-anak pedesaan Jawa Tengah saat berdolanan. Oleh Ki Narta Sabdo, seorang dalang terkenal dari Semarang, dipopulerkan dengan lirik lagu: gambang suling ngumandang swarane/tulat tulit kepenak uline/unine mung nrenyuh ake/barengan lan kentrung ketipung suling/sigrak kendangane. Melodi dari lirik lagu itu ditranformasikan Wayan Beratha ke dalam gamelan dengan ornamentasi nan kental genre musik kebyar Bali yang relatif tidak begitu rumit namun indah.

            Sudah lazim, kreasi seni yang mengena di hati masyarakat Bali, begitu cepat tersebar. Sekaa-sekaa gamelan kebyar yang sedang menggeliat saat itu saling tak mau ketinggalan mempelajari dan menyajikan tabuh yang berduri 7-8 menit tersebut. Seorang peneliti asing, Ruby Ornstein, yang menulis disertasi berjudul Gamelan Gong Kebyar: The Development of a Balinese Musical Tradition, mencatat pada tahun 1964-1965, menyaksikan sekaa gamelan kebyar di Desa Peliatan, Gianyar, dan di Desa Kedis Kaja, Buleleng, memainkan tabuh Gambang Suling ciptaan Wayan Beratha.

Hingga kini--setelah berusia lebih dari setengah abad--tabuh Gambang Suling masih mengalun, masih sering disuguhkan dan masih diapresiasi penonton. Bahkan kumandang Gambang Suling tidak hanya terdengar di Bali namun juga bergaung di mancanegara. Grup-grup gamelan Bali di Amerika dan Jepang misalnya pernah mementaskan tabuh karya Wayan Beratha itu. Begitu juga lawatan duta-duta kesenian Bali ke berbagai belahan dunia, sering menampilkan materi tabuh pembukaan Gambang Suling. Tim kesenian ISI Denpasar dalam misi seninya di luar negeri beberapa tahun belakangan, mempesona penonton, diantaranya dengan tabuh Gambang Suling. ISI Denpasar berhasil menggugah penonton dengan tabuh Gambang Suling saat tampil di Moscow-Rusia (2010), Perth-Australia (2012), dan Beijing-Tiongkok (2013).                    

            Keberhasilannya menciptakan berbagai jenis gending iringan tari dan karya tabuh-tabuh instrumentalia,  mengukuhkan nama I Wayan Beratha sebagai komposer besar Bali yang membuat dirinya disegani oleh komunitas seni. Sebagai pencipta sendratari pertama, Sendratari Jayaprana,  dan kemudian tetap berkreasi dan berinovasi dalam penggarapan sendratari kolosal PKB, I Wayan Beratha mendapat pengakuan masyarakat luas dan diapresiasi secara formal oleh pemerintah lewat penganugrahan tanda penghargaan dari tingkat kabupaten/kota hingga nasional.

Peran I Gusti Bagus Nyoman Pandji dan Ida Bagus Mantra sangat besar dalam menjadikan Wayan Beratha sebagai bapak sendratari Bali. Lahirnya Sendratari Jayaprana pada awalnya adalah atas permintaan I Gusti Bagus Nyoman Pandji, direktur pertama Kokar Bali guna memeriahkan hari ulang tahun pertama Kokar pada tanggal 1 Oktober 1961 di Denpasar “Panggung Ardha Candra Taman Budaya Denpasar yang pembangunannya dirintis Ida Bagus Mantra selaku Dirjen Kebudayaan RI dan pemakaiannya dimulai ketika era Pak Mantra jadi Gubernur Bali, yang menjadi stimulasi menggugah dan menantang saya dan kawan-kawan di Kokar Bali menggarap sendratari kolasal Pemutaran Mandara Giri produksi Kokar pada tahun 1978,” kenang I Wayan Beratha semasa hidupnya. Gagasan sendratari yang dibawakan ratusan pemain di panggung terbuka itu, sejak PKB dibuka Ida Bagus Mantra pada tahun 1979,  menjadi salah satu seni pertunjukan yang banyak menyedot perhatian masyarakat penonton.

           Konsep estetis  yang telah digariskan I Wayan Beratha pada seni pertunjukan sendratari adalah penyajian sebuah cerita atau lakon melalui perkawinan antara seni tari dan karawitan. Antawacana atau narasi yang disampaikan oleh seorang dalang dimaksudkan untuk memberikan penekanan dramatik yang tidak terlalu dominan bagi adegan-adegan yang terjadi di atas pentas. Konsep artistik sendratari seperti ini masih secara konsisten dipertahankan I Wayan Beratha setidaknya hingga akhir tahun 1970-an. 

            Konsep estetis sendratari Bali yang dikembangkan I Wayan Beratha ini seturut dengan konsep artistik sendratari yang muncul di Jawa, Sendratari Ramayana Prambanan, yaitu dramatari  yang dimainkan oleh para penari tanpa menggunakan dialog. Sendratari Bali yang dipelopori I Wayan Beratha taat pada konsep artistik dramatari yang diungkapkan melalui jalinan tari dan iringan gamelan. Dramatisasinya digarisbawahi oleh narasi dalang dalam alunan tembang yang mengelaborasi melodi gamelan. Unsur-unsur dialog yang dibawakan seorang dalang hanya memberi aksentuasi cerita. Bersama dalang atau tukang tandak, aspek dramatik sendratari juga diperindah dan diperkuat oleh pengkisahan dalam bentuk alunan lagu/gending oleh beberapa vokalis wanita yang disebut tukang gerong.

            Pembaharuan aspek-aspek musikal iringan sendratari yang dielaborasi oleh I Wayan Beratha kini menginspirasi bahkan menjadi acuan generasi penerusnya. Pola-pola melodi, ritme, tempo, dinamika, harmoni yang dikembangkan Beratha dari kekayaan musik tradisional Bali diteruskan oleh para komposer muda. Dari aspek instrumental yang dijadikan media iringan sendratari  PKB, I Wayan Beratha mencetuskan gagasan pengembangan pemakaian dua hingga tiga  barung gamelan untuk memenuhi tuntutan estetis. Selain memakai gong kebyar, sendratari  PKB juga sekaligus diiringi dengan gamelan gong gede dan semarapagulingan. Pemakaian tiga barung gamelan sekaligus ini memunculkan gagasan pada diri I Wayan Beratha untuk menyatukannya. Pada tahun 1983 Beratha kemudian menciptakan gamelan yang diberinya nama gamelan Genta Pinara Pitu yang dikembangkan pada tahun 1984 menjadi gamelan  Semara Dahana (Semaradana) yang prinsipnya merupakan penggabungan gamelan gong kebyar dengan semara pagulingan. Gamelan baru ciptaan I Wayan Beratha ini dengan cepat berkembang di Bali, Amerika, dan Jepang karena gamelan ini  bukan hanya ideal untuk mengiri sendratari namun juga sangat fleksibel sebagai media musik konser maupun untuk mengiringi tari klasik dan kreasi. “Pembaharuan adalah denyut nadi jagat seni,“ ujar Pak Beratha menegaskan prinsip berkeniannya.

Comments are closed.