Pengetahuan Lokal Dalam Epistemologi Relasional: Kajian Filsafat Kebudayaan

Pengetahuan Lokal Dalam Epistemologi Relasional: Kajian Filsafat Kebudayaan

Oleh I Gede Mudana, diterbitkan dalam Jurnal Mudra edisi September 2007

Membicarakan secara epistemologis eksistensi kearifan lokal dalam era globalisasi masa kini setidaknya, dalam pemahaman penulis, adalah membicarakan pengetahuan lokal dalam konteks kajian budaya di samping dalam konteks epistemologi relasional yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Dikatakan demikian karena membicarakan (ke)ilmu(an) masa kini, salah satu yang paling populer dan menjadi kecenderungan, di antaranya, adalah membicarakan kajian budaya (cultural studies) betapapun pokok masalah yang dibicarakan adalah diskursus-diskursus yang lekat dengan nuansa kemasalaluan, seperti kearifan lokal  (local wisdom) di sini penulis lebih suka menggunakan istilah “pengetahuan lokal” (local knowledge).

Kajian budaya memang “disiplin ilmu” yang senantiasa menyambungkan (suturing, istilah yang kerap dikemukakan oleh Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (almarhum) kemasalaluan dengan kepentingannya di masa kini untuk emansipasi manusia si pencipta/pemilik/pelaksana/pemakai disiplin ilmu tersebut. Itulah sebabnya mengapa eksistensi kearifan lokal dalam era globalisasi serta merta di sini dicoba di-suturing dengan pengetahuan lokal dalam konteks kajian budaya. Karenanya, dengan segala kerendahan hati, tulisan ini terutama menelisik secara agak filsafati khususnya filsafat kebudayaan   pengetahuan lokal dalam epistemologi relasional sebagaimana yang dikemukakan dalam judul tulisan.

Dari keberadaan kearifan lokal dalam era globalisasi, kesan luar yang pertama-tama muncul adalah semacam “contradictio in terminis”, yakni sebuah pertentangan yang dibawa oleh tema itu sendiri. Kearifan/pengetahuan lokal, yang nota bene sebuah proses pemberdayaan lokalitas-lokalitas “dilawankan” dengan gerakan-gerakan maha dasyat dan serba besar bernama globalisasi.

Globalisasi bukanlah “gombalisasi”. Ia merupakan fenomena yang benar-benar ada: bukan citra, bukan sekadar rekaan, apalagi guyonan iseng. Banyak yang mencoba mendefinisikan dan mengidentifikasinya tetapi, secara umum, ia tetap fenomena  pergerakan bebas kehidupan manusia dan kebudayaannya. Dengan dibantu oleh teknologi, termasuk dan terutama teknologi informasi dan transportasi, manusia bisa bergerak dan pergi ke mana saja tanpa batas (borderless). Bahkan lebih dari itu, Arjun Appadurai (1990:295-310.) menandainya sebagai suatu hubungan di antara lima dimensi: a) ethnoscape, b) mediascape, c) technoscape, d) finanscape, dan e)  ideoscape.

Tentang hubungan antara globalisasi dan lokalisasi, ia sebenarnya bukan sekadar sebuah pertentangan biasa, tetapi yang terjadi adalah sebuah proses dialektik. Dalam pendekatan dialektika, yang secara umum dapat dikatakan diwarisi dari Karl Marx dan bahkan dari Hegel, sebuah tesis akan dihadapi oleh sebuah antitesis yang kemudian menghasilkan sebuah sintesis. Dengan itu, globalisasi adalah tesis, lokalisasi adalah antitesis, maka sintesis keduanya adalah apa yang dapat disebut “glokalisasi”  dari kata globalisasi dan lokalisasi. Istilah glocal (globalism dan localism) diperkenalkan oleh Mike Featherstone dalam karyanya Undoing Culture, Globalization, Postmodernism, and Identity (1995) yang tampak jelas dalam contoh budaya populer musik pop Bali (lihat: Darma Putra, 2004:89-108.).

Ini berarti, yang sesungguhnya terjadi tidak saja globalisasi secara linear tetapi juga glokalisasi. Pada saat dunia berubah menjadi “the global village”, sebuah konsep Marshall McLuhan yang ditulis dalam sejumlah bukunya, di antaranya War and Peace in the Global Village (1968), atau menjadi satu dunia (yang “sama”), ia juga pergi menuju fragmentasi, keterpecah-pecahan, sebuah proses lokalisasi. Di Bali misalnya, dalam contoh besarnya, globalisasi diselang-selingi oleh bergerak majunya lokalitas-lokalitas, termasuk di antaranya dengan mengemukanya ideologi “ajeg Bali” di sejumlah media massa lokal yang sangat membius dan memabukkan begitu banyak manusia Bali kontemporer.

Fenomena gaya hidup mengglobal, misalnya budaya massa sepakbola atau potongan rambut mendunia gaya Demi More, boleh ke mana-mana dan ke sini tetapi, pada saat yang sama, senantiasa terdapat gerakan-gerakan sosial, adat, dan agama yang sebaliknya, di antaranya di sini membentuk semangat mencari lelintihan, leluhur, soroh, kewangsan, dan simbol-simbol primordial lainnya. Anak-anak muda yang pergi bersembahyang ke pura pun melakukannya sembari memanjakan nafsu fetisisme citarasa terkini: berdandan funky layaknya bule-bule di tempat wisata Kuta, bercengkerama begitu gaul dengan “lu-lu-gue-gue”, atau ber-HP-ria sambil ditemani: …Coca Cola (tentu!).

Namun demikian, penulis tidak berpretensi bisa menjawab keseluruhan permasalahan yang luas dan kompleks dari persambungan pengetahuan lokal dan globalisasi ke dalam epistemologi kajian budaya, yakni suatu wilayah yang sampai saat ini sesungguhnya belum sangat banyak dikenal secara benar di negeri ini dan bahkan sering disalahpahami kalau bukan “dizalimi”. Di samping itu, membedah kepentingan pengetahuan lokal di masa kini adalah mengurai “teka-teki” posmodernisme, sesuatu yang juga, seperti kajian budaya, sering kurang dimengerti secara memadai (Lebih ekstrem lagi, posmodernisme sering dianggap aneh, sok, suka meng-ada-ada, dan nihilisme, sehingga tidak jarang dirasakan perlu dienyahkan dari kancah lalu lintas intelektualitas). Padahal, perbincangan glokalisasi (= globalisasi + lokalisasi) tidak lain adalah perbincangan posmodernisme.

Pengetahuan Lokal Dalam Epistemologi Relasional: Kajian Filsafat Kebudayaan, selengkapnya

Comments are closed.