Pentas Dongeng Di Tengah Layar Globalisasi

Pentas Dongeng Di Tengah Layar Globalisasi

Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)

            Suatu malam, di Sanggar Seni Paripurna, Desa Bona, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Masyarakat setempat, undangan, dan komunitas seni yang dipimpin oleh seniman I Made Sidia memperingati hari ulang tahun sanggarnya yang ke-25 tahun. Segenap yang hadir—anak-anak, remaja, orang-orang dewasa—tampak begitu antusias memusatkan perhatiannya pada seorang gadis yang sedang beraksi di tengah arena pentas.  Tepuk tangan dan derai tawa berkali-kali mengemuka dari para penonton. Pertunjukan apa gerangan yang tersaji? Pada Minggu (26/4) malam itu, gadis tersebut, seorang penari muda, Sri Ayu Pradnya Larasari, didaulat mesatua alias mendongeng. Lho, dongeng dapat dipentaskan?

Tradisi mendongeng di abad modern serba canggih ini sejatinya telah semakin menepi. Ungkapan ada katuturan satua (alkisah sebuah cerita) yang mengawali keasyikan mesatua di tengah masyarakat Bali tak pernah terdengar lagi pada malam-malam menjelang tidur. Pembukaan anuju sawijining dina (pada suatu hari)  juga semakin sayup-sayup di tengah masyarakat Jawa masa kini. Nikmatnya bersahibul hikayat dalam tradisi mendongeng kini bak menjadi dongeng yang indah bagi generasi yang pernah mencerap nilai-nilai kehidupan lewat oral tradisi itu.

            Mungkin karena menyadari tradisi mendongeng itu masih pantas diaktualisasi kepada generasi muda masa kini,  maka upaya-upaya untuk menggeliatkan aktivitas mesatua itu terus dicoba dibangkitkan. Salah satu langkah menggairahkan tradisi mendongeng di Bali adalah lewat fomat kompetisi mendongeng atau lomba mesatua. Adalah Badan Perpustakaan Propinsi Bali telah beberapa kali menggelar lomba mesatua itu. Betapa melalui kompetisi tersebut seluruh peserta menunjukkan kegairahan yang menyala-nyala di depan penonton yang juga tekun menyimaknya. Demikian pula dalam Porsenijar yang berlangsung setiap tahun di Bali, lomba mendongeng cukup menarik perhatian penonton. Pradnya Larasari yang pernah tampil dalam Festival Mendongeng Internasional di Korea  tahun 2014, memiliki kepiawaian mendongeng dari ketekunannya mengikuti kompetisi dari kedua arena tersebut.

             Apresiasi masyarakat Bali terhadap sastra lisan mesatua ternyata masih menjanjikan. Terbukti ketika beberapa kali Larasari yang kini duduk di bangku SMA, diundang pentas mesatua, masyarakat begitu menikmatinya seperti apa yang tampak di Sanggar Paripurna tersebut. Kisah Pan Balangtamak yang dituturkan dengan amat memikat oleh gadis Desa Sukawati itu disimak dengan penuh kesungguhan. Di tengah masyarakat Bali, kisah Pan Balang Tamak bukan hanya sekedar dongeng namun juga dipercaya sebagai legenda. Kisahnya, bertutur tentang seorang laki-laki yang bodoh-bodoh pintar. Ia selalu mengkritisi segala hal dalam lingkungan sosialnya. Melalui akal dan logikanya, Pan Balang Tamak, mendongkel tirani mayoritas dan pemimpin yang sewenang-wenang. Pembangkangannya tersebut harus dibayar dengan nyawa, mati diracun. Namun akhirnya masyarakat sadar tingkah polah cerdik dan konyol Pan Balang Tamak tersebut adalah perjuangannya  menegakkan demokrasi.

            Aksentuasi pesan demokrasi dalam kisah Pan Balang Tamak itu, oleh Larasari, disimpulkan dalam akhir cerita melalui sebuah tembang Ginanti. Dibawakan dengan olah vokal yang mantap, liriknya sebagai berikut: belog celang dewek ipun/pan balang tamak puniki/matulak ring sang wisesa/mabela ngetohang urip/ngastiti panjake bagia/salunglung mademokrasi. Sri Ayu Pradnya Larasari yang menerima Anugrah Kebudayaan Pemerintah RI Tahun 2014 dalam bidang Tari dan Bercerita,  mengelaborasinya secara dramatik dalam nuansa jenaka--ketika Pan Balang Tamak diadili krama desa--situasi berdemokrasi di tengah masyarakat Bali yang memaksakan kehendak mengatasnamakan orang banyak dalam pekik briuk siu

            Tradisi mendongeng di masa lalu dituturkan terutama untuk hiburan namun baik langsung maupun tak langsung sejatinya kandungan dongeng juga sarat dengan pelajaran moral, seperti moral demokrasi dalam dongeng Pan Balang Tamak tersebut. Sebab dalam tradisi mendongeng itu, materinya tak hanya melulu tentang  keajaiban dan musizat di negeri antah berantah. Kala kejayaan tradisi mendongeng di tengah masyarakat Jawa dan Bali, epos Mahabharata dan Ramayana umum dikisahkan  tahap demi tahap, setiap malam, episode per episode. Zaman dulu, ketika tradisi baca tulis masih asing, kisah Pandawa dan Korawa atau perseteruan Rama dan Rahwana justru banyak diserap anak-anak Jawa dan Bali melalui tradisi mendongeng.

             Pada masa lalu, kakek dan nenek atau ayah dan ibu adalah nara sumber utama sebagai pengkisah yang dongeng-dongengnya dihayati anak-anak atau cucu-cucunya. Tetapi harus dilihat bahwa mereka yang di masa kini tergolong kakek dan nenek serta mereka yang menjadi bapak atau ibu sebenarnya juga tidak akrab dengan tradisi mendongeng dan lebih jauh lagi tak ada waktu untuk mendongeng. Orang-orang tua dan dewasa masa kini lebih banyak berkutat menghadapi realita duniawi kehidupan. 

Karenanya, anak-anak masa kini tak pernah lagi ditidurkan oleh dongeng atau kisah-kisah epik. Mereka adalah generasi yang dikeloni oleh layar-layar globalisasi, layar televisi, layar HP, layar internet dan seterusnya. Sebab, kepungan layar-layar itu memberikan hampir semuanya, dari madu yang positif-konstruktif hingga racun yang negatif-destrukstif. Namun idealisme untuk menawarkan penyeimbang kehidupan dengan nilai-nilai etika, estetika, dan logika melalui tradisi mesatua semestinya terus diberi ruang. Sebab satua bukan sat tuara ada (dianggap tak ada), sebaliknya  sangat bermakna. Tradisi mendongeng yang begitu kontributif terhadap pembentukan watak para pencerapnya, di masa lalu, kiranya kini perlu diaktualisasikan kembali di tengah masyarakat kontemporer. Mereguk nilai kehidupan lewat oral tradisi dongeng perlu dilirik kembali.

Comments are closed.