Siwanataraja Gelorakan Tari Kebesaran

Siwanataraja Gelorakan Tari Kebesaran

Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)

Di Bali, belakangan ini, terasa ada gelora penciptaan seni tari di sejumlah perguruan tinggi hingga di sekolah-sekolah jenjang menengah. Karya cipta seni tari itu ditampilkan dalam kesempatan-kesempatan penting seperti misalnya saat dies natalis dan wisuda atau ulang tahun sekolah. Sajian seni pertunjukan ekspklusif itu disebut tari kebesaran.  Melalui tari kebesaran masing-masing-- dilukiskan dalam estetika gerak dengan iringan gamelan--identitas atau visi dan misi universitas, institusi, sekolah bersangkutan.  Misalnya, Universitas Udayana (Unud) punya tari kebesaran “Udayana”, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bangga dengan tari kebesaran “Ganesha”, dan Universitas Saraswati memililiki tari kebesaran “Saraswati”.

          Gairah penciptaan dan pementasan tari-tari kebesaran itu membinarkan atsmosfer berkesenian yang menggembirakan. Betapa tidak. Seni tari sebagai ekspresi budaya, diapresiasi dan menunjukkan kemahadayaannya dalam konteks asumsi sebagai penciri, pencitra, dan pencerah, baik untuk kepentingan internal universitas atau sekolah pemiliknya maupun untuk permakluman kepada masyarakat luas. Hadirnya beragam cipta tari kebesaran tersebut, merupakan ruang berkesenian yang meletupkan denyut kreatif  seniman Bali, khususnya para penata seni tari dan pencipta tabuh iringan tari.

          Untuk menciptakan sebuah tari kebesaran memerlukan suatu rentetan proses kreatif, mulai dari rancangan konsep, tahap-tahap penggarapan, dan penampilan atau pementasan. Proses kreatif merancang konsep tari kebesaran “Saraswati” milik Universitas Saraswati misalnya, tentu harus disangga oleh pemahaman tentang figur Dewi Saraswati dari aspek mitologis, fiosofis, dan aspek relegi-kultural. Demikian pula pada proses kreatif tahap-tahap penggarapan, sang penggarap tari dan iringannya menjelajahi berbagai simbol gerak (koreografi) dan bunyi musik (komposisi), dalam tapsir estetik yang mampu mewakili isi atau pesan yang ingin dikomunikasikan.

          Komunikasi seni adalah dengan bahasa simbolik. Simbolisasi dalam bentuk tari kebesaran itu kini menjadi salah satu pemberi identitas perguruan tinggi-perguruan tinggi atau sekolah-sekolah di Bali. Tampaknya tak ada yang mengharuskan atau kewajiban perguruan tinggi atau sekolah di Bali memiliki tari kebesaran. Belum jelas pula, apakah dengan simbolisasi identitas atau visi-misi melalui media tari kebesaran itu akan atau telah mampu lebih memberikan spirit konstruktif kepada civitas akademika sebuah perguruan tinggi atau guru-guru dan para siswa sekolah. Namun yang tampak, keberadaan tari-tari kebesaran itu, saat dipentaskan, mampu menciptakan semacam “kewibawaan” dan debur kebanggaan pemiliknya.  

          Jika diteliksik, euporia merebaknya tari-tari kebesaran di Bali, tampak ada kaitannya dengan menguaknya tari kebesaran “Siwanataraja”.  Mitologi Hindu menuturkan, Siwanataraja adalah manifestasi Dewa Siwa sebagai raja diraja kesenian. Geliat tubuh yang magis dan gerakan tangan kedua tangan Siwanataraja yang disebut mudra memancarkan energi aneka rupa wujud nan indah yang dianugrahkan kepada umat manusia. Pesona indahnya ciptaan Dewa Siwa itulah memercikkan kedamaian hati sanubari kehidupan manusia di bumi. Seni dalam beragam ekspresinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan relegi-sosial-kultural masyarakat manusia. Umat Hindu lalu memuja Siwanataraja sebagai dewa kesenian yang maha asih.   

           Figur Dewa Siwa sebagai dewa kesenian itu divisualisasikan menjadi tari kebesaran Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada tahun 1990. Sajian tari kebesaran yang bertajuk “Siwanataraja” dalam setiap dies natalis dan wisada kampus seni itu, yang mengundang berbagai kalangan, rupanya menggugah kampus-kampus lainnya di Bali untuk tak kalah gengsi membuat tari kebesaran. Selain Unud, Undiksa, Universitas Saraswati yang telah disinggung di atas, sekolah-sekolah menengah juga tak ketinggalan membuat tari kebesarannya masing-masing, seperti SMK Negeri 3 Sukawati (dulu bernama Kokar) memiliki tari kebesaran “Semara Adi Guna”.

          Tari kebesaran “Siwanataraja” ISI Denpasar digarap oleh N. L. N. Swasthi Widjaja Bandem (koreografer) dan I Nyoman Windha (komposer). Cipta tari yang berdurasi sekitar tujuh menit ini dibawakan oleh sembilan penari putri, seorang sebagai Dewa Siwa, dan delapan orang lainnya sebagai pancaran cahaya atau sinar suci. Struktur sajiannya terbagi tiga yaitu diawali dengan penampilan Dewa Siwa menari tunggal dalam laku koreografi yang simbolik magis, lalu memancar sinar dibawakan delapan penari dalam lenggang mengayun lembut berseling beberapa variasi perubahan pola lantai, dan terakhir Dewa Siwa dengan sinar-sinarnya bersatu padu dalam tempo menanjak menuju ritme nan lincah, ditutup dengan  konfigurasi seluruh penari di mana tokoh Siwanataraja menjadi pusat pujaan.

          Ditata dalam balutan kostum modivikasi yang memadukan warna biru dan kuning, tari kebesaran “Siwanataraja” terasa anggun dan agung. Perbendaharaan gerak tari Bali dalam ramuan stilisasi  unsur-unsur tari bharatanatyam India, menjadikan tari ini hadir dengan penampilan estetika yang apik lewat simbol laku tari serta tata karawitan yang imajinatif. Penampilan tari kebesaran “Siwanataraja” yang menawan secara bentuk dan mengesankan secara makna dan isi itulah  yang diduga kuat, kini menginspirasi penciptaan tari-tari kebesaran di sejumlah perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di Bali. Tampaknya di Bali, Siwanataraja sebagai dewa kesenian tak hanya hidup dalam psiko-mitologis namun nyata menganugrahkan sinarnya dalam realita berkesenian.        

Comments are closed.