Tahun Saka Dalam Kebudayaan Bali

Tahun Saka Dalam Kebudayaan Bali

Kiriman : I Gede Mugi Raharja ( Dosen FSRD Institut Seni Indonesia Denpasar )

Abstrak

Pemberlakukan tahun Saka di Indonesia merupakan peristiwa sejarah tentang kedatangan Pendeta Aji Saka dari India ke Pulau Jawa. Peristiwa sejarah ini kemudian diberi cerita tambahan, sehingga menjadi sebuah legenda. Legenda inipun bercampur lagi dengan tambahan pendewaan tokoh, sehingga ia menjadi mitos. Pendeta Aji Saka adalah keturunan bangsa Saka dari Kshtrapa Gujarat (India). Tiba di Pulau Jawa dan mendarat di Desa Waru, Rembang (Jawa Tengah) pada 456 Masehi. Sejak kedatangan Pendeta Aji Saka di tanah Jawa, diberlakukanlah Tahun Saka di Nusantara. Pemberlakuan tahun Saka telah dimulai sejak Raja Kanishka I naik tahta pada 78 Masehi. Raja Kanishka I adalah raja dari dinasti Kushana (Kuei-shuang), keturunan dari bangsa Yueh-chi di Turkestan. Setelah mengalahkan bangsa Saka di Baktria, bangsa Kushana menetap di Baktria dan memberlakukan tahun Saka sebagai penanggalan resmi kerajaannya. Pemberlakuan tahun Saka oleh Raja Kanishka I, merupakan sikap hormat dan simpati kepada suku bangsa Saka yang telah memiliki tradisi penanggalan sejak 58 SM. Pelaksanaan Tahun Baru Saka di Indonesia, khususnya di Bali, dilakukan setelah  pelaksanaan upacara kurban suci pada tilem sasih kesanga (bulan mati pada Maret). Upacara ini adalah untuk mengharmoniskan unsur-unsur alam (bhuta). Oleh karena itu, perayaan Tahun Baru Saka dimulai dengan aktivitas “menyepi” tanpa aktivitas setelah alam di-nol-kan melalui upacara tawur tilem sasih kesanga. Perayaan tahun Baru Saka inilah yang disebut Hari Raya Nyepi. Tahun Saka juga dicantumkan pada saat pembuatan karya seni atau bangunan pada masa Bali kuno sampai era Bali madya (sebelum era kolonial), yang disebut pasasangkalan.

Kata Kunci: Aji Saka, Kanishka, Tawur, Nyepi, Pasasangkalan.

Selengkapnya dapat unduh disini

No Comments Yet.

Leave a comment