Tari Panen: Representasi Budaya Agraris di Minangkabau

Tari Panen: Representasi Budaya Agraris di Minangkabau

Kiriman : Yulinis (Dosen Jurusan TARI FSP ISI Denpasar)

Abstrak

Tari Panen merupakan tari yang diciptakan oleh Gusmiati Suid yang menggambarkan tentang peristiwa panen padi di Minangkabau. Kebiasaan perempuan-perempuan Minangkabau ketika memanen padi adalah mengerjakannya secara bersama-sama atau dalam istilah budayanya adalah “Bajulo-Julo”. Akibat dari kebiasaan tersebut memunculkan perilaku yang kreatif dari masyarakat. Suasana yang muncul adalah bersuka cita, bersenda gurau, dan bermain-main dalam bekerja. Hal inilah yang diambil oleh pencipta untuk mewujudkannya menjadi sebuah tari.

Konsep yang digunakan untuk melihat representasi budaya agraris di Minangkabau dalam Tari Panen ini adalah konsep mimesis dan strukturalisme. Teori Mimesis yang digunakan adalah teori mimesis yang dikemukan oleh Aristoteles yang menyempurnakan teori mimesis Plato. Konsep mimesis menjelaskan bahwa karya seni merupakan cerminan dari realitas masyarakat. Strukturalisme yang digunakan adalah hasil pemikiran Levi Strauss yang menjelaskan bahwa karya seni terdiri dari struktur-struktur yang saling berhubungan.

Hasil dari tulisan ini memperlihatkan bahwa karya tari panen ciptaan Gusmiati Suid adalah representasi dari budaya agraris di Minangkabau. Hal ini bisa dilihat dari bentuk geraknya yang menggambarkan gerakan dari perempuan-perempaun yang memanen padi di sawah. Begitu juga dari segi musik yang juga memakai musik yang berasal dari peristiwa memanen padi, yaitu memakai pupuik batang padi.

Kata kunci : agraris, tari panen, budaya, Minangkabau

Selengkapnya dapat unduh disini

Comments are closed.