Taridong “Ratna Mangali” Menari Sembari Mendongeng

Taridong “Ratna Mangali” Menari Sembari Mendongeng

Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)

Menari sembari mendongeng atau mendongeng sambari menari. Inilah sebuah tawaran kreasi seni pentas baru yang diberi nama Taridong yakni perpaduan seni tari dengan seni mendongeng. Senin (9/11) siang lalu disajikan di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar, pada puncak HUT ke-17 mingguan berita wanita Tokoh. Mengangkat lakon “Ratna Mangali”, Taridong yang dibawakan oleh penari dan pendongeng Bali, Sri Ayu Pradnya Larasari, bertutur tentang kemelut batin seorang wanita yang tak berdaya menghadapi pengkhianatan cinta dan kesewenang-wenangan penguasa. Penonton yang terdiri dari tokoh-tokoh wanita Bali terpukau.

Ratna Mangali adalah seorang gadis cantik jelita putri semata wayang Ni Calonarang, seorang janda yang tinggal di desa Dirah. Entah apa yang menjadi menyebabnya, tak ada seorang pemuda pun yang memiliki keberanian untuk melabuhkan cintanya pada Ratna Mangali. Besar kemungkinan para pemuda yang jatuh hati pada kemolekan Mangali tak bernyali menghadapi Ni Calonarang yang ditakuti penduduk desa sebagai penganut ilmu hitam.  Gara-gara Mangali tak kunjung memperoleh jodoh, Ni Calonarang mengancam akan menebar teror. Raja Airlangga yang membawahi desa Dirah kemudian turun tangan menyusun siasat dengan mengutus Bahula, putra Mpu Baradah, menikahi Ratna Mangali. Bukan main girangnya Ni Calonarang melihat kebahagiaan putrinya bersanding dengan seorang pemuda tampan.

Dongeng dari desa Dirah tersebut, di tengah masyarakat Bali, lazim disajikan dalam dramatari calonarang. Namun, melalui seni seni pentas Taridong yang lebih fokus mengeksplorasi tokoh Ratna Mangali,  terasa mengayun emosi penonton pada persoalan kompleksitas kehidupan, kegetiran cinta, dan hegemoni penguasa terhadap rakyat jelata yang tak berdaya. Nilai-nilai moral yang terlontar dari sajian pentas Taridong “Ratna Mangali” ini memancarkan subtansi kultural yang patut kita renungkan dan koreksi bersama. Misalnya, di tengah masyarakat Bali modern masa kini masih sering menyembul prasangka bahkan tudingan provokatif menuduh seseorang sebagai praktisi leak.

Jagat seni adalah media edukatif mencerahkan. Dongeng sebagai salah satu sumber beragam tema atau lakon ungkapan seni tak bisa dipungkiri sangat kaya dengan kandungan nilai-nilai moralitasnya. Pada masa lalu, ketika budaya sastra lisan masih kokoh, kontribusi tradisi mendongeng berperan penting memberi asupan pada pembentukan karakter masyarakat zamannya. Namun kini, ketika tradisi mendongeng sudah sayup-sayup menjauh, dari manakah generasi sumber insani bangsa kita mereguk nilai-nilai kultural-edukatif untuk membetengi dirinya dari dampak terjangan pengaruh multidimensi negatif-destruktif yang begitu agresif mengiming-imingi kita semua, setiap saat dan setiap waktu, melalui teknologi digital televisi, HP, internet yang demikian merasuk?

Diperlukan kreativitas untuk mereaktualisasikan dan mereposisi tradisi mendongeng di tengah masyarakat kita yang cenderung sibuk dan serba terburu-buru ini. Kreativitas itu, salah satunya melalui seni pertunjukan yang khusus dikemas seperti telah diluncurkan, Taridong, seni tari yang dipadukan dengan seni mendongong. Tentu diperlukan kemampuan khusus bagi para pelaku yang membawakannnya. Pertama, adalah keperigelan menari, termasuk di dalamnya pengkarakteran tokoh-tokoh yang diceritakan. Kedua, adalah kepiawaian mendongeng, tentu termasuk di dalamnya olah vokal dramatik imajinatif. Dua bekal kemampuan ini kiranya sudah cukup untuk mementaskan Taridong. Terakhir, tinggal cerdik memilih dongeng sesuai dengan siapa penontonnya serta konteks peristiwanya.

Sebagai perintis seni pentas Taridong, Sri Ayu Pradnya Larasari yang akrab disapa Laras, telah membekali diri dengan pengalaman sebagai penari dan pendongeng. Alumnus SMA Negeri 3 Denpasar yang kini mulai menapak bangku kuliah di ISI Denpasar ini, sejak SD hingga SMA telah berkali-kali menyabet Juara I se-Bali, baik untuk bidang seni tari  maupun dalam bidang masatua atau mendongeng. Bahkan atas capaian reputasinya itu, tahun 2014 lalu, oleh Pemerintah Republik Indonesia, ia dianugrahkan Piagam Kebudayaan sebagai Remaja yang Berdedikasi dalam Bidang Seni Tari dan Seni Bercerita. Tahun itu juga, gadis berambut panjang ini diutus sebagai duta Festival Dongeng Se-Asia di Korea Selatan.  Kini, melalui seni pentas Taridong, “Saya ingin terus mengasah diri pada kedua bidang seni yang  saya digeluti sejak usia belia, sekaligus ingin menawarkan suatu kreativitas seni dengan harapan diapresiasi masyarakat,” ujar Laras seusai pentas.

Taridong “Ratna Mangali” disajikan Laras dengan sarat totalitas. Diawali dengan utaian tari nan impresif, kemudian melenggang dengan rona wajah kemayu menuju ke tengah panggung. Menggunakan tata busana modivikasi kain cepuk dengan sedikit ornamen prada, kisah dimulai. Dibuka dengan kalimat: Tersebutlah di sebuah desa yang bernama Dirah, kemudian digarisbawahi dengan alunan tembang pupuh ginada basur: kocapan ni calonarang, okan nyane ratna mangali. Ratna Mangali digambarkan Laras dengan kalimat: segala tanda tanya berkecamuk dalam batin Mangali, namun tak berani mempertanyakan kepada ibunya yang pemberang. Namun setelah Bahula kabur mencuri buku tenung ibunya, Ratna Mangali menggugat menumpahkan isi hatinya. Ungkap Laras dengan suara lantang: Kenapa Bahula mengkhianatiku? Kenapa ibuku harus menyabung nyawa demi mempertahankan harga dirinya? Kenapa? Kiranya, seni pentas  Taridong akan terus mempertanyakan berbagai persoalan kemanusiaan dengan kehidupannya, lewat kisah dongeng yang lain.

Comments are closed.