AS Kucurkan Rp1,5 Triliun untuk Pendidikan

AS Kucurkan Rp1,5 Triliun untuk Pendidikan

Jakarta - Hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika bidang pendidikan di perkuat melalui kerja sama untuk penelitian dan pemberian beasiswa. Pemerintah Amerika Serikat melalui duta besarnya di Indonesia, Scot Marciel, mengucurkan US$150 juta atau sekitar Rp1,5 triliun untuk kebutuhan kerja sama pendidikan selama lima tahun ke depan.

"Tujuan kerja sama ini adalah untuk mempromosikan pendidikan di kedua negara guna meningkatkan jumlah pelajar Indonesia di Amerika. Begitu pun sebaliknya," ujar Scot Marciel usai seminar Post Joint Declaration On The Comprehensive Partnership, di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (1/06).

Menurut Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, banyak perguruan tinggi di Amerika Serikat yang bisa dijadikan tempat belajar yang baik bagi mahasiswa Indonesia. Kendalanya, sejak tragedi  9 September 2001, sulit bagi calon mahasiswa Indonesia untuk mengurus visa belajar di sana. Kesulitan tidak hanya dialami calon mahasiswa, tapi orang tua mahasiswa pun sulit untuk mengunjungi anak-anak mereka. "Karena soal climate change, science, technology, engineering, mathemathics and business, adalah ilmu-ilmu yang kita perlukan, dan Amerika memiliki universitas terbaik untuk ilmu tersebut," kata Wamendiknas.

Namun sekarang, 95 persen dari permohonan visa mahasiswa Indonesia telah dikabulkan. Fasli berharap 100 persen permohonan bisa dipenuhi agar peluang untuk calon mahasiswa berikutnya menjadi lebih besar. "Kita harus akui, bahwa Duta Besar Amerika Serikat sudah mengusahakan yang terbaik agar permohonan visa kita bisa dikabulkan semua. Saat ini sudah 95 persen, kita berharap bisa 100 persen nantinya," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Amerika Serikat menjembatani kerja sama antar universitas bagi kedua negara. Kerja sama tersebut berupa penelitian maupun bentuk lain. "Tergantung kesepakatan antaruniversitas, pemerintah Amerika Serikat tidak memiliki wewenang untuk intervensi ke dalam kampus," ujar Dubes Scot.

Saat ini Indonesia memiliki tujuh universitas kelas dunia. Untuk itu, Wamendiknas mengatakan, kesiapan untuk mendukung universitas kelas dunia perlu dipacu, agar perguruan tinggi di Indonesia lebih siap menerima mahasiswa-mahasiswa asing. "Kita harus lebih mempersiapkan untuk kredit transfer, dan program-program studi internasional, jadi kita bisa membawa mereka (mahasiswa asing) lebih banyak kesini," katanya.

Sumber: kemdiknas.go.id

Comments are closed.