Balaganjur Dalam Makna Religius

Balaganjur Dalam Makna Religius

Kiriman I Wayan Suharta Dosen PS. Seni Karawitan dan telah diterbitkan dalam jurnal Mudra edisi Februari 2007.

Adhi Merdangga ISI DenpasarKehidupan masyarakat Bali di masa silam sangat tergantung dengan alam. Perilaku mereka mencerminkan pemikiran magis dan sakral yang kuat seperti keyakinan adanya hubungan antara manusia dengan kekuatan gaib, serta relasi antara manusia dengan kekuatan spiritual. Persepsi yang relegius iniĀ  menunjukan sudah adanya gejala-gejala tentang kepercayaan kepada kekuatan spiritual tertinggi atau Tuhan, yang dikondisikan oleh alam pikiran mereka memuja kekuatan alam dan alam gaib (Suartaya, 2001:130).

Di kalangan masyarakat Hindu di Bali kesenian persembahan kepada Tuhan dan alam niskala dapat dibedakan menjadi dua kelompok; kesenianĀ  wali dan kesenian bebali. Kesenian wali mencakup berbagai bentuk kesenian yang tergolong tua dan oleh karena itu telah memiliki unsur-unsur keaslian (originalitas) dan kesucian. Dikalangan masyarakat Bali seni sakral merupakan salah satu aspek vital kehidupan spiritual masyarakat Hindu yang bermakna relegius yang merupakan bagian integral dari pelaksanaan upacara (Dibia, 2003:98).

Balaganjur dalam kaitannya dengan kegiatan ritual merupakan implementasi dari sosio-relegius yang sangat ketat dan kuat memberikan dukungan terhadap keberadaan Balaganjur. Dalam kontek religius, semua angota sekaa terlibat dalam penyajian Balaganjur sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, yang semuanya dilandasi dengan perasaan tulus yang disebut ngayah.

Ketika terlibat dalam kegiatan ritual, para penabuh Balaganjur menyerahkan diri secara tulus demi suatu kepercayaan yang mereka yakini. Berpatisipasi megambel terutama bagi kaum pria yang me-rasa mampu, selain untuk mengekpresikan naluri berkesenian namun pada intinya merupakan yadnya bagi kehidupannya dibawah perlindungan dari kekuatan Yang Maha Kuasa.

Yadnya atau pengorbanan suci mencakup penyerahan diri sering kali melibatkan upacara-upacara ritual. Berpegang kepada keyakinan bahwa kesenian adalah ciptaan Tuhan, orang Hindu men-jadikan kesenian sebagai sebuah persembahan dan yadnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan yadnya dimaksudkan bahwa berkesenian itu tidak saja memuaskan serta memenuhi dorongan estetis pribadi atau masyarakat, tapi juga sebagai wahana bagi seniman untuk mendekatkan dirinya kepada sumber keindahan itu, yaitu Tuhan.

Eksistensi masyarakat Bali dalam mengekpresikan peng-akuannya terhadap kebesaran Ida Sanghyang Widhi diejawantahkan dalam wujud ngayah tersebut. Budaya ini selalu diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam gerak laku masyarakat Bali hingga sekarang. Dalam bidang kesenian misalnya, semua orang merasa memiliki peran. Mereka yang tak bisa menari atau menabuh mungkin bertugas menata atau mengerjakan dekorasi panggung. Termasuk juga ketika membantu para penari mengenakan kostum tarinyapun sudah termasuk ngayah. Begitu juga bila berpartisipasi mengangkat gamelan dan mengurus konsumsi penari dan penabuh juga termasuk ngayah.

Terkait dengan prinsip ritual seniman-seniwati di Bali yang berkesenian atas dasar ngayah, baik kepada masyarakat maupun kepada Tuhan selalu melibatkan unsur-unsur ritual dalam setiap aktivitas berkesenian untuk menjaga kesucian karya seni yang dihasilkan. Selain itu, upacara ritual dilaksanakan sebagai suatu cara untuk memohon lindungan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya agar penyajian kesenian dapat berlangsung sebagaimana mestinya dan yang lebih penting lagi bisa memperoleh kekuatan sinar suci-Nya (Ibid., p. 101).

Untuk mengawali penyajian Balaganjur atau jenis pertunjukan yang lain, sudah menjadi kebiasaan bagi para seniman seni pertunjukan di Bali untuk melakukan upacara ritual. Upacara ritual seperti ini akan selalu mengingatkan para seniman akan keberadaan Tuhan. Disamping itu, juga memperlihatkan bahwa berkesenian adalah sebuah persembahan yang bermakna relegius yang intinya mengingatkan pelaku seni akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

Kehidupan berkesenian bagi masyarakat Bali menjadi satu aspek yang sangat menonjol dalam kehidupan sehari-hari, karena sebagian besar dari wujud hidup keseharian itu dibarengi dengan penyertaan unsur-unsur benda, aktivitas dan pilosofi yang bernilai seni. Terbentuknya kelompok-kelompok kesenian seperti; sekaa gong, sekaa barong, sekaa angklung dan sebagainya, menunjuk pada aspek kesenian yang dapat berorientasi ekonomi. Sekaa-sekaa tersebut menunjukkan kelompok kesenian yang memiliki makna relegius dan banyak dihubungkan dengan ketakso; kreativitas budaya yang memberikan kekuatan spiritual untuk mewujudkan keseniannya. Karena itu peranannya dalam menunjang kegiatan adat dan agama khususnya upacara menjadi sangat besar (Astika, 1994:121).

Balaganjur dalam fungsinya mengiringi prosesi ritual keagamaan memiliki makna relegius. Penabuh Balaganjur oleh puluhan partisipan mengikuti ritual dalam prosesi ritual keagamaan. Kendatipun para penabuh tidak disakralkan akan tetapi saat keterlibatan mereka ketika ngayah, baik sebelum memulai atau seusai menyajikan gending-gending Balaganjur, para penabuh mendapatkan percikan air suci, mendapatkan berkah atau pem-bersihan diri secara niskala.

Comments are closed.