BAMBU, POHON MUSIKAL PENEDUH SUKMAWI

BAMBU, POHON MUSIKAL PENEDUH SUKMAWI

Salah satu gamelan Bali yang terbuat dari bamboo adalah Jegog. Gamelan ini umumnya dapat dijumpai belahan Bali Barat

Salah satu gamelan Bali yang terbuat dari bamboo adalah Jegog. Gamelan ini umumnya dapat dijumpai belahan Bali Barat

Bambu adalah tumbuh-tumbuhan purba yang paling musikal. Flora jenis rumput raksasa (gramineae) yang telah ada sejak 200.000 tahun SM ini banyak dijadikan alat musik di berbagai belahan dunia. Keindahan tiupan seruling dan puspa warna nada-nada yang dilantunkan si buluh perindu ini telah mengisi kehidupan dan kebudayaan masyarakat, sejak zaman primitif hingga sekarang. Beragam alat musik dari bambu telah tercipta dan diwarisi, termasuk di Bali. Beberapa bentuk alat musik bambu yang ada di Bali, 4-6 Nopember lalu ditampilkan dalam  sebuah Festival Bambu di Bentara Budaya Bali, Sukawati, Gianyar.

Di tanah air kita, bambu sebagai media musikal setidaknya telah dicatat keberadaanya pada abad ke-12. Sastra kakawin Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh (1130 - 1160) dalam salah satu baitnya menulis: pering bungbang muni kanginan manguluwang yeaken tudungan nyangiring yang terjemahan bebasnya adalah bambu berlubang tertiup angin suaranya merdu meraung-raung bagaikan suara suling. Musik bambu yang dimaksud dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno itu adalah sunari yang hingga kini masih ditemukan di Bali, mengalun sendu di tengah persawahan atau berdesah magis dalam ritual keagamaan besar di pura.

Gambang sebagai salah satu gamelan bambu tua Bali juga telah dilukiskan dalam Candi Penataran di Jawa Timur (abad ke-14 Masehi). Prasasti yang dibuat pada zaman pemerintahan  Anak Wungsu di Bali (1045 Masehi) menyinggung pula tentang  anuling (peniup seruling), yang kemungkinan besar serulingnya terbuat dari bambu. Dua lontar tua tentang gamelan Bali, Aji Gurnita dan Prakempa memposisikan gamelan Gambang  dan Petangyan (gamelan Joged Pingitan) sebagai barungan (set gamelan) bambu yang menjadi representasi budaya dan presentasi estetik masyarakat Bali zaman kerajaan tempo dulu.

Selain memiliki martabat sebagai media ekspresi musikal, bambu di tengah masyarakat Bali, sejak dulu hingga sekarang, menempati posisi sakral-simbolik disamping tentu juga praktis multi fungsi. Dalam konteks sakral religius, ketika hari raya Galungan, sebatang bambu yang dihias janur ditancapkan di depan rumah setiap penduduk sebagai ungkapan syukur kemenangan dharma (kebajikan) atas adharma (kezaliman).  Tiying gading (bambu kuning) secara khusus dipakai properti benda-benda suci keagamaan, dari upacara persembahan kepada Tuhan hingga upacara pembakaran mayat. Karena pentingnya fungsi dan makna bambu tersebut maka masyarakat Bali mengenal dewasa ayu (hari baik) menebang bambu dan mengupacarai segala tanaman pada Tumpek Bubuh, bersiklus 210 hari. Bambu dalam wujudnya sebagai gamelan juga dipersembahnkan sesajen setiap enam bulan sekali pada hari Tumpek Krulut.

Kendati diupacarai begitu takzim, di tengah dinamika kehidupan yang dahsyat dalam era kesejagatan ini, kini seni tradisi pada umumnya mengalami guncangan hebat. Termasuk, beberapa bentuk gamelan bambu seperti Gambang dan Tingklik (gamelan Joged Pingitan) yang semakin langka. Bahkan Terompong Beruk, gamelan yang dulu menjadi bagian dari budaya agraris tradisional itu kini hampir punah. Namun demikian, di sisi lain, hak hidup tumbuhan bambu dan kesanggupannya sebagai wadah berkesenian masih tampak menunjukkan geliatnya. Gamelan Joged Bumbung masih bergairah mengiringi gelinjang para penarinya. Gamelan Gong Suling menguak di tengah gemerincing pariwisata Bali. Gamelan Jegog mendongak hingga ke luar negeri.

Masyarakat Bali memiliki tak kurang dari 25 barung gamelan, delapan hingga 10 ansembel adalah gambelan bambu. Gamelan berbahan logam Gong Kebyar adalah salah satu gamelan Bali yang berkembang sejak tahun 1915 yang kini hampir dapat dijumpai di setiap banjar atau desa di Bali. Namun walaupun eksistensi gamelan bambu kalah jauh dari gebyar-gebyar Gong Kebyar, sejatinya salah satu instrumen yang terbuat dari bambu, seruling atau suling, justru masuk dalam hampir setiap barungan gamelan Bali, sebagai pembawa melodi dan mempermanis lagu. Bahkan salah satu ansambel gamelan Bali, gamelan Gambuh, yang memiliki pengaruh luas terhadap gamelan lainnya, menempatkan beberapa instrumen suling sebagai alat musik terpentingya.

Beberapa bentuk gamelan bambu yang kini masih diwarisi dan diteruskan oleh masing-masing komunitasnya, secara tradisional diklasifikasikan fungsinya sebagai gamelan yang berkaitan dengan ritual adat atau keagamaan dan gamelan bambu yang berfungi sebagai ungkapan seni murni dan hiburan. Gambang misalnya adalah gamelan yang biasanya disajikan saat prosesi upacara agama. Ansembel xylophone bambu yang dimainkan dengan panggul (pemukul gamelan) yang bercabang dua ini kini hanya mampu dimainkan oleh segelintir seniman tua. Penampilannya di tengah upacara keagamaan juga kurang mampu mengusik perhatian hadirin.

Jika Gambang hanya merupakan gamelan bersifat instrumental, gamelan Tingklik dipakai sebagai iringan Joged Pingitan atau Gandrung. Seni pentas yang dulu khusus ditampilkan di kalangan kaum bangsawan pada era feodalisme itu, setelah datangnya para penjajah, membiak melahirkan bentuk-bentuk seni pergaulan seperti  Leko,  Adar, Gudegan, Tongkohan dan lain-lainnya. Kini dua kelompok grup Joged Pingitan atau Gandrung masih mencoba bertahan dengan sanggaan religiusitas masyarakat adat, satu di Ketapian, Denpasar, dan satu lagi di desa Sukawati Gianyar.

Joged Bumbung adalah bentuk tari pergaulan yang merupakan cucu dari Joged Pingitan. Jika Leko, Adar, Gudegan, Tongkohan kini tak jelas keberadaannya, Joged Bumbung berkembang di seluruh Bali dengan kekhasannya masing-masing. Gamelan Joged Bumbung yang juga disebut Rindik selain berfungsi untuk mengiringi tari joged juga dapat berdiri sendiri sebagai sajian musik instrumental. Seperti halnya Gong Suling, gamelan Joged Bumbung terlihat sering dihadirkan memberikan suasana nyaman di hotel atau menemani para wisatawan makan-minum di restauran.

Gamelan bambu yang disebut Jegog dapat dijumpai di kawasan Bali Barat, khususnya di Kabupaten Jembrana. Secara fisik, dibandingkan dengan gamelan Bali lainnya, Jegog tampak megah dan gagah. Tongkrongannya yang mendongak dan kemeriahan cat ukirannya, memunculkan kesan penuh percaya diri. Batangan-batangan bambu besar yang menjadi media utama sumber bunyinya mencuatkan identitas yang agung. Selain menyajikan musik instrumental, belakangan gamelan ini juga dipakai sebagai iringan tari kreasi dan sendratari.

Adalah I Nyoman Rembang, empu karawitan Bali yang berinovasi mengeksplorasi batangan-batangan bambu menjadi media musikal baru pada tahun 1985. Melalui Bumbang, demikian ansembal bambu ciptaannya disebut, Rembang bukan hanya menambah khasanah gamelan bambu  namun juga menggugah para seniman dan masyarakat akan potensi dan riwayat bambu sebagai mediator keindahan seni. Kehadiran Bumbang yang menjelajahi laras pelog dan slendro, bahkan nada-nada pentatonik, juga mempertegas bahwa bambu memang pohon musikal yang meneduhkan sukmawi manusia.

Kadek Suartaya

Comments are closed.