Beberapa Catatan Kecil Tentang Raden Mahyar Angga Kusumadinata (RMAK)

Beberapa Catatan Kecil Tentang Raden Mahyar Angga Kusumadinata (RMAK)

Oleh: Hendra Santosa (Dosen PS Seni Karawitan)

Rd. Mahyar Angga Kusumadinata (RMK) seorang guru musik yang tentunya sangat mengenal antara teori dan prakteknya. Ketika beliau mencoba mengiringi lagu Sunda, seperti yang dikenalnya ketika masih kecil, pikirannya agak terhenyak, karena iringan musik itu terasa tidak pas dengan lagu yang dibawakannya. Dari rasa penasaran itu, EMK kemudian mencari tahu, di mana dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Bukankah musik barat (diatonis) bisa mengiringi lagu apa saja, karena apa yang disebut musik intinya sama, yaitu seni suara (Nano S, dalam Gelitik Dalam Karawitan Sunda seperti yang tercantum dalam  http://www. pikiran-rakyat.com/cetak/0304/09/0806.htm).

Rd. Muhyar Angga Kusumadinata yang mengenal ilmu musik dengan relung-relung hitungannya, mulai dengan ukuran centi sampai dengan interval-intervalnya, kemudian mengukur susunan tangga nada (laras) Sunda, pada waditra (instrumen) gamelan, secara cermat dan teliti. Dari telaahannya akhirnya membuahkan hasil, bahwa swarantara (interval) pada tangga nada karawitan Sunda, berbeda dengan interval musik. Mulailah beliau berguru pada seniman gamelan, sekaligus mengenal tabuh dan lagu gamelan di pendopo Kabupaten Sumedang. Dengan terjun langsung belajar, baik vokal dan tabuhannya, akhirnya Rd Muhyar AK membuat kesimpulan, bahwa antara musik dan karawitan teu harib-harib acan! (jangankan sama, dekatpun tidak-red). Itulah sekelumit uraian Rd Muhyar AK yang mengawali latar belakang mengapa beliau menggeluti karawitan Sunda, seperti yang diungkapkannya dalam buku "Pangawikan Rinengga Swara", dan "Sari Raras". Konon sejak tahun 1916 Rd Muhyar AK mulai merintis penelitiannya yang kemudian dikembakgkan menjadi teori karawitan Sunda. Dibuatlah serat kanayagan (notasi) Da Mi Na Ti La, yang membedakan dengan musik yang mempergunakan Do Re Mi Fa So La Ti Do. Untuk mencoba penggunaan serat kanayagan yang dibuatnya, RMK mencoba mengajarkannya kepada Abdul Gafur orang Sumatera Barat, dengan lagunya "Suba Kastawa".  Ternyata Abdul Gafur bisa membacanya dengan baik dan legalah hatinya karena apa yang dibuatnya ternyata tidak sia-sia. Dari sana Rd Muhyar AK mulai menuliskan lagu-lagu Sunda dengan serat kanayagan ciptaannya. Tangga pada pelog ditentukan jumlahnya 9 swara. Selendro pada awalnya jumlahnya beragam, ada yang 10 swara, 15 swara, dan 17 swara. Di mana akhirnya ditetapkan bahwa tangga nada selendro jumlahnya 17 swara (musik 12 swara), (Heri Herdini, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/26/khazanah/utama2.htm).

Rd Muhyar AK pernah pula mencoba menulis lagu dengan angka huruf Arab, mempergunakan not balok dengan mempergunakan kunci loloran, dan akhirnya tetaplah mempergunakan angka 1 (da) 2 (mi) 3 (na) 4 (ti) 5 (la). "Daminatila" disebut nada relatif, artinya bisa berpindah-pindah, sedangkan istilah Tugu. Loloran, Panelu, Galimer dan Singgul disebut nada mutlak. Itstilah kritis dan mol pada musik, identik dengan kata miring dan malang. Dari buku nyanyian yang ditulisnya Rd Muhyar AK tidak hanya menuliskan lagu-lagu anak-anak saja, tetapi juga menulis lagu pupuh dan tembang, seperti terungkap dalam bukunya Kawih Murangkalih dan Sari Arum (Heri Herdini, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/26/khazanah/utama2.htm).

Selain itu beliau pun membuat beberapa lagu yang abadi dikenal sampai sekarang, di antaranya lagu "Lemah Cai" dan "Dewi Sartika". Gamelan Ki Pembayun yang dibuatnya pada akhir taun 60-an, merupakan realisasi dari teorinya tentang lara salendro beda antara 17 swara. Sayang dokumen besar yang begitu tinggi nilainya itu, hilang tak tahu rimbanya, dan tidak ada instansi yang bertanggung jawab, padahal biaya untuk pembuatan gamelan itu didukung oleh salah satu instansi di Pemda Jabar (Heri Herdini, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/26/khazanah/utama2.htm).

Beberapa Catatan Kecil Tentang Raden Mahyar Angga Kusumadinata (RMAK) Selengkapnya

Comments are closed.