Bentuk Seni pertunjukan Bali di Kota Mataram

Bentuk Seni pertunjukan Bali di Kota Mataram

Kiriman I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Pengelompokan terhadap bidang seni ini dapat dicirikan atas tiga bentuk yaitu:

1)         Seni Karawitan (seni musik trasional) yang berarti musik tradisional baik vokal maupun instrumental yang berlaras pelog dan selendro. Yang dimaksud musik vokal adalah musik yang mempergunakan suara manusia sebagai sumber bunyinya sedangkan musik instrumental adalah musik yang mempergunakan alat/instrumen sebagai sumber bunyinya. Dari hasil pengamatan yang dilakukann prihal keberadaan jenis perangkat gamelan Bali yang terdapat di Kota Mataram diantaranya: Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Gong Gede, Gamelan Angklung, Gamelan Gender Wayang, Gamelan Smar Pagulingan, Gamelan Joged, Rindik serta pesantian dan cekepung untuk di bidang vokal.

2)      Seni Tari, adalah ungkapan rasa keindahan yang diungkapkan lewat gerak-gerak tangan, kaki dan anggota badan yang lainnya. Jenis-jenis tarian Bali yang ada di Mataram diantaranya: Tari Klasik, Tari Kreasi Baru,

3)      Seni Teater Tradisional merupakan ungkapan rasa indah yang disampai-kan dalam bentuk drama teaterikal yang disampaikan melalui dialog antara tokoh-tokoh yang berperan didalamnya. Penampilan cerita-cerita tradisional yang dalam pementasannya didukung dengan gerak tari dan tembang. Yang tergolong seni teater tradisional diantaranya Wayang, Topeng, Drama Gong, Arja dan Prembon.

Potensi Seni Pertunjukan Bali

Keberadaan berbagai jenis seni pertunjukan Bali di Kota Mataram, menunjuk-kan bahwa potensi yang dimiliki sangat tinggi dan tidak kalah dengan apa yang ada di Bali. Swarsi (dalam Yudha Triguna, 2008:34) menyebutkan, kajian budaya mengungkapkan sumber-sumber keunggulan budaya terdapat dalam berbagai sentra dan aktivitas, diantaranya:

1)      Kehidupan publik (folk life) memberikan folk culture seperti: sistem banjar, sistem desa pekraman dan sistem subak yang berifat otonomi.

2)      Kehidupan puri (court life) melahirkan court culture yang kaya dengan tradisi sastra, tardisi seni tari dan musik, dan tardisi ritual.

3)      Sentra-sentra budaya seperti museum, sanggar, yayasan budaya, yang melahirkan kreatifitas, buah karya seni, pameran dan pendidikan,

4)      Pemberdayaan dan berbagai eksperimen ke arah kreasi, inovasi, invensi, dan akulturasi dan

5)      Dialog budaya, melalui festival, kolaborasi, misi seni membuka peluang untuk saling menukar wawasan, gagasan, karya dan eksperimen budaya.

Kelima keunggulan tentunya dilengkapi oleh kandungan nilai-nilai terdapat di dalamnya. Adapun nilai-nilai tersebut diantaranya:

1)      Nilai Budaya, yaitu nilai-nilai budaya kemasyarakatan yang di landasi oleh ajaran agama Hindu.

2)      Nilai Religius, nilai-nilai spiritual dalam upaya pendekatan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa

3)      Nilai Estetis yaitu nilai keindahan dengan berbagai sifat-sifat satyam (kebenaran), siwam (kesucian) dan sundaram (keindahan).

Terdapatnya berbagai keunggulan sebagaimana telah diuraikan di atas, hal ini sangat memungkinkan untuk menjadikan seni pertunjukan Bali sebagai sarana pendukung dalam membangun dunia kepariwisataan di Kota Mataram. Sebagaimana halnya di Bali, seni pertunjukan merupakan salah satu modal budaya dalam industri pariwisata. Pemanfaatannya dalam usaha ini lebih banyak untuk menarik perhatian para wisatawan yang pada umumnya tertarik dengan seni budaya tradisional.

Guna mewujudkan keunggulan tersebut dalam pengembangan kepariwisa-taan di Lombok, diperlukan managemen yang efektif dari berbagai pihak yang berkompe-ten selaku leading sector dalam wacana ini. Pada jalur birokrasi, Dinas Pariwisata dan Budaya selaku leading sector selayaknya memiliki komitmen dan tanggungjawab serta mampu mengoptimalkan berbagai potensi yang ada dalam pembangunan dan pengembangan kepariwisataan di Lombok.

Membangun dunia kepariwisataan harus ditunjang oleh berbagai aspek baik berupa sarana dan prasarana yang semuanya saling berkaitan satu sama lainnya. Demikian pula halnya dengan sumber-sumber daya yang dimiliki seyogyanya dapat dioptimalkan guna mendukung program peningkatan kepariwisataan. Kesenian khususnya seni pertunjukan sebagai sub unsur kebudayaan, merupakan salah satu aset yang telah dimanfaatkan sebagai modal budaya dalam pembangunan bangsa Indonesia. Hal ini telah termaktub dalam TAP No. II/MPR/1988 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), dimana modal budaya telah ditetapkan sebagai salah satu modal dasar bagi peningkatan pembangunan bangsa. Adapun pembangunan yang dimaksud adalah ke “dalam” membangun dan meningkatkan derajat segenap warga bangsa Indonesia, dan ke “luar” membangun citra dan pergaulan antar bangsa atas dasar kedaulatan dan kesederajatan (Yudha Triguna, 2008:7).

Bentuk Seni pertunjukan Bali di Kota Mataram selengkapnya

Comments are closed.