Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Puluhan orang gadis Rusia tampak begitu antusias belajar tari Bali. Akhir Agustus lalu, para penari ballet itu mengikuti pelatihan tari Bali yang diarahkan oleh dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.  Bertempat di Tartarstan State Choreography Theater, beberapa sikap pokok tari Bali seperti agem dan gerakan mata seledet, tampak sangat mengesan para peserta workshop itu. Sepenggal tari Pendet itu, rupanya mereka selami lekuk-lekuk keunikan dan keindahannya. Sensasi dari karakter estetik bahasa tubuh tari Bali tersebut agaknya mereka nikmati dengan suka cita. Tari Pendet tak hanya populer di Malaysia namun juga disukai gadis-gadis Rusia.

Adalah sekelompok seniman dari Pulau Dewata, pada pertengahan Agustus hingga awal September lalu melawat ke salah satu negeri pecahan Uni Soviet itu. Workshop tari Bali adalah salah satu program memperkenalkan kesenian Indonesia di belahan Eropa Timur itu. Kota Kazan, ibu kota Tartarstan—sekitar 18 jam perjalanan darat arah selatan Moscow--adalah tempat yang sempat disinggahi oleh tim kesenian ISI Denpasar tersebut. Selain memperkenalkan tari Pendet, dalam workshop yang bergulir sekitar satu jam itu, para peballet pria Kazan juga diberikan gerak-gerak tajam dan lugas tari Baris.

Kesenian Bali memang telah tampil di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, Rusia  mungkin salah satu negeri yang belum begitu banyak disambangi oleh para seniman Pulau Dewata. Tahun ini, untuk memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia, seperti sudah disinggung tadi, sekelompok penari dan penabuh gamelan Bali melanglang Rusia pada 24 Agustus-3 September lalu, “Melalui kesenian, kita berharap dapat membuka jalan untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia,“ ujar Duta Besar Republik Indonesia, Hamid Awaludin, saat menyambut kedatangan 22 orang seniman Bali di KBRI Moscow.

Kesenian sebagai pembuka jalan memang banyak dipergunakan sebagai alat diplomasi budaya. Soft diplomacy yakni diplomasi dengan cara damai kini banyak dilancarkan dalam pergaulan antar bangsa dan diplomasi antar negara. Untuk kepentingan itulah, Pemerintah Indonesia, sejak Juni lalu mengutus para seniman Indonesia, salah satunya, ke Rusia. Para seniman Bali yang terdiri dari para mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ditampilkan sebagai puncak penampilan kesenian Indonesia. Para insan seni dari Pulau Dewata bukan hanya menyajikan tari dan gamelan Bali saja namun sajian seni pentas yang merepresentasikan keindahan kesenian Nusantara.

Penampilan tari Nusantara sebagai ekspresi estetik dari keberagam budaya Indonesia itu ditutup dengan pementasan Kecak atau Cak. Seluruh penari dan penabuh bergabung menyajikan Cak Ramayana berdurasi 25-30 menit. Keunikan suara dan jalinan vokal dari 22 orang seniman Bali ini mengundang decak penonton. Seusai pementasan di kota tua Tula--sekitar 4 jam perjalanan darat dari Moscow--misalnya, penonton seakan histeris dan secara kompak memekikkan ocen ichorosho (bagus sekali) berkali-kali sembari mencoba mengocehkan cak cak cak dengan amat girang. Rangkain bunga dibawa penonton ke atas panggung sebagai ungkapan suka cita mereka. “Syukur, mereka kagum dengan penampilan kita,“ ujar Ida Bagus Nyoman Mas, SSKar dengan wajah berseri-seri sumeringah yang bertugas mengkomandoi Cak.

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet selengkapnya

Comments are closed.