Cak Wanita ‘Bungan Sandat’ Membuat Penonton Berdecak Kagum

Cak Wanita ‘Bungan Sandat’ Membuat Penonton Berdecak Kagum

Denpasar- Setelah sukses menampilkan Cak Wanita pada peringatan hari Kartini beberapa waktu lalu, Cak Wanita Bungan Sandat ISI Denpasar tampil memukau dalam ajang bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-32, pada 1 Juli 2010. Kelompok cak wanita yang beranggotakan ibu-ibu Darma Wanita Persatuan (DWP) ISI Denpasar tampil percaya diri di panggung Kesirarnawa Taman Budaya Denpasar. Yang menjadikan cak ini tampil berbeda dari biasanya adalah dengan menyelipkan tetembangan dalam setiap sela-sela pementasan, bahkan ada pesan yang disampaikan lewat bebondresan dengan iringan geguntangan. Sementara keindahan wanita diispirasikan lewat pembentukan formasi bunga-bunga disela-sela penampilan cak dengan menggunakan media kipas. Selain itu kemasan bondres dibuat kocak, yang menjadikan paket cak ini sangat menarik. Dalam bondres disampaikan bahwa wanita dalam hal ini ibu memiliki peranan yang besar dalam membina rumah tangga. Selain sebagai seorang ibu, dia juga memiliki mandat untuk mengarahkan suami agar bertindak pisotif. Cerita dalam garapan ini dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, diantaranya pertenggaran kecil terjadi dalam rumah tangga karena sang suami terlalu mabuk akan judi tajen. Sang istri terus berupaya untuk menyakinkan sang suami agar tidak hanyut dalam permainan judi yang pasti merugikan. Namun suami tidak mempedulikan pesan istri hingga akhirnya karma menimpa suami. Pesan-pesan singkat lewat lawakan menjadikan suasana begitu mencair. Apalagi adegan metajen sang suami benr-benar diperankan secara alami. Tak ayal ayam asli pun masuk ke ranah panggung untuk tampil mendukung pementasan. sontak polah tingkah ayampun menarik perhatian penonton. Termasuk diantaranya Kepada Dinas Kebudayaan, Kepala UPT Taman Budaya, Ibu Wagub, Bintang Puspayoga serta undangan lainnya. Ide yang digagas oleh Koordinator Asti Pertiwi (Skaa tabuh wanita ISI Denpasar), Ni Ketut Suryatini, M.Sn ini sangat didukung oleh Ketua Darma Wanita ISI Denpasar, I Gusti Ayu Srinatih, S.ST., M.Si. Menurutnya kegiatan ini sangat penting untuk menjalin keakraban dan kebersamaan antar anggota.

Sebagai acara pembuka untuk menyambut kedatangan tamu-tamu serta penonton, seniman-seniman cilik yang tergabung dalam Sanggar Karawitan Gangsa Dewa, dengan lihai memainkan alat musik gender. Tiga puluh enam penabuh yang rata-rata berusia sekitar 7 sampai dengan 13 tahun ini memaikan gending tabuh yang berjudul tulang lindung, seketi, Sekar Taman, Cucuk Punyah, Merak Nyelo, serta Cecek Megelut. Menurut Pembina Ni Ketut Suryatini yang juga dosen Karawitan ISI Denpasar, anak-anak ini berlatih secara intensif 2 kali dalam seminggu. Mereka sangat antusias untuk belajar gender, walaupun ada kesan bermain gender itu sulit. Namun dengan metode dan teknik pengajaran yang menarik menjadikan mereka tertarin untuk belajar bermain gender. Kini keanggotaan sanggar sudah ada sekitar 60 peserta. Rencananya kedepan akan membuat konser gender khusus anak-anak. Dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk turut tampil dalam ajang bergengsi ini, maka dapat memotivasi generasi lain untuk berkarya.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.