Daerah Perkembangan Kesenian Tradisional Minangkabau I

Daerah Perkembangan Kesenian Tradisional Minangkabau I

Oleh: Wardizal, Dosen PS Seni Karawitan

Secara geo-hirtoris, kesenian tradisional yang berkembang di Minangkabau dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu kesenian yang berkembang di daerah darek (daratan) dan kesenian yang berkembang di daerah pasisia (pesisir). Perbedaan letak geo-historis tersebut, juga menimbulkan perbedaan pada bentuk-bentuk kesenian tradisonal yang tumbuh dan berkembang pada masing-masing daerah. Timbulnya perbedaan tersebut, selaras dengan mamangan mereka luhak bapangulu, rantau barajo (luhak berpenghulu, rantau beraja). Artinya adalah, pemerintahan tertinggi di wilayah luhak berada ditangan seorang penghulu, sedangkan pemerintahan tertinggi di daerah rantau berada ditangan seorang raja.

Kesenian tradisional yang berkembang di daerah darek lebih bersifat Minangkabau, seperti musik dan nyanyian, tarian dan bela diri. Bersifat Minangkabau dapat diartikan bentuk dan temanya yang sederhana. Pelakunya kebanyakan laki-laki; jarang yang dilakukan oleh wanita. Begitupun tari-tarian yang berkembang di daerah darek, lebih banyak mengangkat gerakan yang mengandung arti atau mengandung suatu kisah. Kesenian yang berkembang di daerah pasisia (pesisir) lebih beragam. Hal ini disebabkan pengaruh kebudayaan luar yang sangat kuat di wilayah tersebut. Selain yang bersifat Minangkabau, kesenian yang berasal dari pengaruh Islam Syiah cukup dominan seperti: tabut, indang, debus, salawat dulang dan lain sebagainya. Tari-tarian yang bekembang di daerah pesisir lebih bersifat tari pergaulan yang gerakannya tidak mengandung arti. Beberapa bentuk permainan rakyat juga diperankan oleh wanita (Navis, 1984:264).

Daerah Perkembangan Kesenian Tradisional Minangkabau I Selengkapnya

Comments are closed.