Dampak Pariwisata Terhadap Seni Patung Tradisional Di Desa Silakarang

Dampak Pariwisata Terhadap Seni Patung Tradisional Di Desa Silakarang

Oleh I Wayan Mudana, diterbitkan dalam Jurnal Mudra Edisi September 2007

Pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya masyarakat Bali dapat dilihat dari berbagai kreativitas seni yang dilakukan oleh masyarakat, sistem organisasi kemasyarakatan yang dijalankan, serta karakteristik atau prilaku masyarakat Bali yang merupakan unsur utama ke Baliannya. Dari unsur seni budaya, pariwisata dapat mendorong masyarakat untuk menghidupkan kembali seni kebudayan asli yang sudah hampir terlupakan, dapat menggairahkan perkembangan kebudayaan asli, serta dapat menumbuhkan kreativitas seni masyarakat yang dapat memperkaya kasanah budaya Bali. Namun disayangkan kebanyakan motivasi mereka lebih pada komersialisasi, sehingga sering mengakibatkan terjadinya provanisasi benda-benda seni yang bersifat sakral dan tempat suci yang sering mendapatkan sorotan masyarakat banyak. Dari aspek keorganisasian, pariwisata dapat memperkokoh organisasi tradisional seperti banjar, desa pakraman, subak yang merupakan identitas masyarakat Bali yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Sedangkan dari aspek prilaku dan pola hidup yang sering digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai kebaliannya masyarakat Bali sudah adanya tedensi pergeseran, namun secara umum masyarakat Bali masih bisa mempertahankan karakteristik prilaku sebagai masyarakat Bali.

Khusus mengenai eksistensi seni budaya yang merupakan hasil karya masyarakat Bali asli yang belum dipengaruhi budaya asing (luar) yang sering diidentifikasikan sebagai budaya tradisional yang mencerminkan identitas warna lokal (budaya lokal) Dalam melihat pengaruh pariwisata terhadap budaya lokal maka dalam penelitian ini akan diteliti tentang salah satu unsur seni budaya yang berupa karya seni patung yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Silakarang, Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar. Lokasi ini merupakan jalur pariwisata yang sering dilewati bahkan dikunjungi oleh wisatawan yang membeli dan memesan patung. Sering sekali patung yang dipesan oleh wisatawan sesuai dengan desain yang mereka kehendaki, sehingga eksistensi patung tradisional terancam perkembangannya bahkan dikwatirkan terancam kepunahannya. Apalagi dengan berkembangnya kunjungan wisatawan dari berbagai belahan dunia yang memungkinkan banyak ide atau desain-desain yang bervaraiasi yang mengapresiasi patung tradisional. Sehingga patung yang dihasilkan tidak lagi memberikan warna lokal asli daerah Bali, tetapi lebih pada dominasi budaya wisatawan terhadap budaya lokal.

Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif dan komperatif, yaitu penelitian yang menjelaskan suatu fenomena dan membandingkan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya. Dalam penelitian ini akan menjelaskan tentang eksistensi seni patung tradisional akibat adanya pengaruh pariwisata, dan membandingkan antara pendapatan yang diterima oleh masyarakat dari pembuatan patung tradisional (warna lokal) dengan pendapatan yang diterima dari pembuatan patung modern.

Penelitian ini dilakukan di Desa Silakarang yang merupakan jalur menuju kawasan pariwisata Ubud dan mulai dilakukan dari bulan Oktober 2005 sampai bulan Februari 2006. Alasan pengambilan lokasi ini, karena di Desa Silakarang yang 90% masyarakatnya sebagai pematung batu padas dan merupakan daerah pematung pertama di daerah Gianyar, yang sering disebut sebagai sentral seni patung batu padas. Karya-karya seni patung yang dibuat di Silakarang dianggap bisa mewakili eksistensi seni patung tradisional kalau dilihat dari aspek bentuk, fungsi dana makna, dan dampak pariwisata dilihat dari aspek estetik, sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan. Sebagai jalur wisata yang banyak dilewati oleh para wisatawan, transaksi bisnis antara para wisatawan dengan para pengusaha sangat besar pengaruh pariwisata terhadap eksistensi budaya lokal khusunya seni patung tradisional.

Dampak Pariwisata Terhadap Seni Patung Tradisional Di Desa Silakarang, selengkapnya

Comments are closed.