Dari Gladi Kotor Garapan Ekperimental Tari Baris dan Lawung “Kebo Iwa”, Mampu Tingkatkan Intergrasi Bangsa

Dari Gladi Kotor Garapan Ekperimental Tari Baris dan Lawung “Kebo Iwa”, Mampu Tingkatkan Intergrasi Bangsa

IMG_4402Denpasar- Guna lebih memantapkan hasil pementasan garapan eksperimental Tari Baris dan Tari Lawung dengan judul “Kebo Iwa”, tadi pagi (29/11/2009) digelar gladi kotor yang bertempat di Panggung Terbuka Nertya Mandala ISI Denpasar. Garapan yang mempertemukan dua tradisi tari klasik dari dua budaya yang berbeda yaitu Bali dan Jawa ini berdurasi sekitar 1 jam, dengan melibatkan 18 orang Penata Tari,  14 orang Penata Kostum,    12 orang Penata Karawitan dan didukung oleh  sekitar ratusan orang seniman tari dan seniman tabuh. Penciptaan kolaborasi tari yang berjudul “Oratorium Tari Kebo Iwa Sebuah Eksperimen Tari” lebih menekankan pada garapan gerak tari, dan dibalut dengan cerita Kebo Iwa yang mengandung nilai keberagaman dan kesatuan untuk menjalin persatuan dan integrasi bangsa.

Proses garapan ini diawali dengan eksplorasi, improvisasi, forming, selanjutnya melakukan penuangan gerak melalui latihan sektoral tari dan latihan sektoral karawitan secara mandiri. Setelah terwujud baru selanjutnya diadakan latihan gabungan, disesuaikan dengan gerak atau tema yang diangkat. Setelah sesuai dengan ide garapan, dilanjutkan dengan gladi kotor dan gladi bersih. Sebagai puncaknya dilakukan Pementasan dan Perekaman Audio/Visual, kemudian hasilnya ditransfer ke dalam VCD/DVD sebagai wujud pelaksanaan Program Hibah Kompetisi B- Seni jurusan Seni Tari. Hibah Penciptaan ini diharapkan sebagai dokumentasi seni pertunjukan Nusantara bagi jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar sebagai Pusat Dokumentasi Seni Pertunjukan Indonesia.

Prof. Dibya sebagai Penata Artistik Garapan Oratorium Kebo Iwa

Prof. Dibya sebagai Penata Artistik Garapan Oratorium Kebo Iwa

Garapan yang akan dipentaskan pada 1 Desember 2009 nanti, merupakan Model Sosialisasi multimedia melalui penciptaan karya seni tari. Membuat karya seni kolaborasi berdasarkan seni tradisi nusantara untuk tujuan peningkatan integrasi bangsa. Menurut Penata Artistik Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST.MA, dalam karya ini akan digarap kolaborasi seni tari Jawa dan Bali dengan gerak-gerak tari lawung dan tari Baris yang akan dipadukan untuk mendapatkan sebuah gerakan kreasi baru atau model baru. Keduanya merupakan tari kepahlawanan yang menggunakan senjata tombak. Garapan ini merupakan sebuah eksperimen untuk mempertemukan tari Baris dengan tari Lawung. Dalam dance and drama disebutkan bahwa eksperimen menunjukkan kedekatan antara tari Baris dengan tari Lawung.

Garapan ini dilatar belakangi dengan dua wilayah budaya yang berbeda (Jawa dan Bali), namun sejak berabad-abad yang lalu, telah memiliki interaksi kultural yang sangat akrab. Oleh sebab itu banyak perwujudan ekspresi budaya yang datang dari kedua daerah ini memiliki kedekatan walaupun secara fisik Nampak berbeda. Baris dan Lawung adalah dua jenis tari klasik/ tradisional dengan latar belakang budaya yang berbeda; Baris dari Bali, Lawung dari Jawa Tengah. Dibalik perbedaan wujud fisik dari keduanya, terdapat beberapa kedekatan rasa estetis yang kiranya dapat dipertemukan untuk menghasilkan suatu garapan tari yang bernafaskan Jawa-Bali sebagai satu strategi untuk melahirkan tari-tarian yang bernafaskan Nusantara.

Ekperimen tari “Baris Lawung” pada dasarnya sebuah upaya kreatif untuk mempertemukan unsur-unsur dua budaya Indonesia yang berbeda. Garapan ini lebih mengutamakan olah tari, dengan mengedepankan bahasa gerak, dari pada bahasa verbal. Oleh sebab, kisah Kebo Iwa hanya dijadikan “tali” untuk menjalin rangkaian tari yang dihasilkan dari pengolahan kembali terhadap untus-unsur tari Baris dan Lawung.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.