Dari Kukuh Memperkokoh Tari Bali

Dari Kukuh Memperkokoh Tari Bali

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Gemerincing suara gamelan terdengar renyah dari sebuah rumah di Banjar Kukuh, Desa Marga, Tabanan. Bunyi gamelan tari Bali pada pertengahan Desember lalu itu keluar dari rekaman kaset mengiringi sebuah latihan tari Bali. Tampak seorang pelatih tari, Luh Kade Pebria Satyani (18 tahun) mengajar beberapa orang gadis belia membawakan tari Condong (bagian dari Legong Keraton) dan tari Tenun. Luh Satyani tampak sibuk mengarahkan sembari melontarkan istilah dalam tari Bali seperti seledet, agem, ngegol dan sebagainya. Anak asuhnya penuh semangat mengolah tubuh dan berolah rasa mengikuti arahan sang pelatih.

Minggu sore itu, sanggar tari Ratna Mekar yang berlokasi di Desa Marga Tabanan memang sedang melakukan latihan terakhir menjelang mengikuti Lomba Tari Anak-anak Se-Bali 2010 di Denpasar, 24-26 Desember. Dari enam materi yang dipertandingkan, sanggar tari pimpinan Ni Komang Ratni, S.Pd itu hanya mengikuti tari Condong dan Tenun saja. “Ini adalah untuk pertama kalinya kami ikut lomba tari yang paling bergengsi di Bali itu,” ujar Satyani. Menurut Satya, juara bukan menjadi tujuan melainkan memberikan pengalaman dan menumbuhkembangkan kecintaan pada diri murid-muridnya terhadap kesenian luhur bangsa. Sebab, tambahnya, kesenian berkontribusi penting terhadap pembentukan karakter generasi penerus.

Geliat anak-anak Bali bermesraan dengan jagat seni, khususnya seni pertunjukan, belakangan, cukup membanggakan. Suasana yang menggairahkan itu dapat dengan mudah  disimak di tengah-tengah masyarakat, baik yang hadir dalam konteks ritual keagamaan maupun yang teramati lewat peristiwa seni di arena profan. Pesta Kesenian Bali (PKB) yang sudah menggelindang lebih dari seperempat abad, ikut berkontribusi menggiring generasi muda Bali mencintai keseniannya. Festival Gong Kebyar Anak-anak se-Bali, misalnya, adalah forum dan momentum bergengsi anak-anak Bali unjuk kiprah dan keterampilan dalam bidang seni tabuh dan tari, yang, mendapat perhatian antusias masyarakat luas.

Bersanding dan bersaing secara elegan memang semestinya tersemai dalam dunia seni, termasuk di kalangan anak-anak. Tradisi mabarung dalam seni pertunjukan Bali, adalah histeria berkesenian secara bersanding yang menstimulasi pendakian keterampilan dan penampilan seni. Proses latihan-latihan menyongsong pentas bersifat kompetitif itu, misalnya, menampakkan kemajuan skil yang siginifikan. Pentas dalam konteks lomba memunculkan  penampilan yang sarat gairah. Begitu pula proses berkesenian untuk merebut prestasi sekaligus prestise seperti yang terjadi dalam Lomba Tari Anak-anak Se-Bali 2010, sudah pasti menstimulasi gelora jengah nan berkobar-kobar yang berimplikasi pada rasa bangga dengan dunia seni tari.

Semangat bersaing dan bersanding telah menunjukkan fenomena menggembirakan terhadap pewarisan nilai-nilai estetik bangsa. Di kalangan anak-anak Bali, seperti yang mencuat dalam Festival Gong Kebyar, menabuh atau menari dengan dorongan lomba menggedor motivasi mereka untuk berprestasi seni yang biasnya bukan hanya sebatas hasrat berprestasi dalam jagat seni semata namun bisa jadi pula dalam kehidupan yang lebih luas. Lewat kancah seni, anak-anak Bali yang sejak dini berasyik masyuk dengan nilai-nilai keindahan seni tumbuh menjadi generasi kontributif bagi masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan berbangsa.

Seni adalah nilai keindahan yang hidup dan berkembang seturut dengan peradaban kebudayaan manusia. Dipercaya, binar lahiriah keindahan seni menyemburkan kedamaian nurani dan aura terdalam dari jagat seni memiliki dimensi spiritual yang berkontribusi kuat pada moralitas  subjek kemanusiaan. Idealnya, seni malahan dianggap mampu memanusiakan manusia. Untuk mengawal moralitas setiap individu--dengan keyakinan seni sebagai penyejuk moral—jagat kesenian sangat fungsional dijadikan sebagai media pendidikan moralitas bangsa. Kebhinekaan Indonesia yang memiliki puspa warna ekspresi seni, dengan demikian, sangat memungkinkan menjadi bangsa yang menjunjung moral dengan penuh takzim.

Akan tetapi, di tengah gelombang kesejagatan ini, peranan seni sebagai media pendidikan moral telah mulai tergerus. Di tengah masyarakat Bali yang sangat kental dengan kehidupan seninya, tak terkecuali, juga terdegradasi oleh kehidupan modern kekinian. Dulu, kesenian merupakan wahana komunikasi spesifik yang karismatik dalam memberikan pengetahuan dan tuntunan moral pada masyarakatnya. Pementasan Wayang Kulit misalnya, di masa lalu, tak hanya menyajikan tontonan namun juga tuntunan hidup positif pada komunitasnya. Demikian pula Topeng saat ritual keagamaan, Arja di bale banjar sebagai seni balih-balihan sarat dengan muatan moral yang diteladani masyarakat. Akan tetapi kini tidak lagi. Wayang, Topeng, Arja, dan seni tradisional lainnya ditekuk oleh televisi dan hiburan modern lain yang melenakan.

Beruntung di pulau Bali, seni masih kokoh bersemi integral dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya. Dalam peristiwa keagamaan misalnya, seni selalu hadir menyediakan ruang olah rasa bagi setiap orang. Sebagai bagian dari penempaan olah rasa, budaya ngayah dalam ritual keagamaan masih dilestarikan. “Para penari  anak asuh sanggar kami juga sering ngayah dalam upacara adat dan agama yang berlangsung di lingkungannya,“ ungkap Luh Kade Pebria Satyani saat menghias salah satu muridnya menjelang tampil dalam Lomba Tari Anak-anak Se-Bali 2010 di Denpasar itu.

Dari Kukuh Memperkokoh Tari Bali selengkapnya

Comments are closed.