Demokrasi, Berkesenian, Wanita, Dan Anak-Anak Bali

Demokrasi, Berkesenian, Wanita, Dan Anak-Anak Bali

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar.

Suara gamelan bagaikan denyut nadi dan menari adalah bak aliran darah masyarakat Bali. Hasrat berkesenian itu tampak hampir dalam setiap lekuk kehidupan dan pada sebagian besar insan-insannya, tak terkecuali pada kaum wanita dan anak-anak. Tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terkagum-kagum dengan kiprah kaum wanita dan bocah-bocah Bali di bidang seni yang disaksikannya pada pembukaan Bali Democracy Forum (BDF) III, Kamis (9/12) lalu, di Nusantara Room, The Westin Hotel, Nusa Dua.

Begitu SBY memasuki ruangan bersama para pemimpin dunia lainnya, gemerincing suara gamelan yang sayup-sayup merdu menyambut santun. Tak seperti lazimnya, para penabuh gamelan Semara Pagulingan itu bukan kaum pria melainkan dimainkan dengan lentur oleh puluhan wanita dengan senyum tersungging. Suasana terhampar teduh dan hikmat.Setelah alunan gamelan peninggalan zaman kejayaan keraton Bali itu senyap, lalu disambung dengan denting nada-nada magis gamelan Gender Wayang. Perhatian seluruh hadirin kemudian tertuju pada sekelompok bocah gabungan wanita dan laki-laki yang memainkan dengan lincah salah satu gamelan Bali yang memiliki teknik permainan nan kompleks itu.

Seusai pembukaan BDF yang ditandai dengan suguhan tari Selat Segara--sebuah cipta tari yang bertema persahabatan dan perdamaian antar negara yang dibawakan sarat aura oleh lima orang gadis ayu--secara spontan SBY menghampiri para penabuh wanita dan bocah-bocah itu. Terjadi dialog akrab antara presiden dengan para penabuh gamelan Semara Pagulingan dan Gender Wayang tersebut. Sembari memberi salam hangat, SBY menyampaikan apresiasinya dengan seni karawitan dan tari yang dibawakan penuh pesona oleh kaum wanita dan anak-anak Bali.

Tentu saja, para penabuh wanita Asti Pertiwi dan penabuh anak-anak Asti Kumara berbangga dan tersanjung atas apresiasi dari orang nomor satu di negeri ini, Presiden SBY. Para seniman wanita dan anak-anak  keluarga besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu tampak berseri-seri saat menjawab beberapa pertanyaan presiden. Rektor ISI Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA yang mendampingi, juga tampak terharu dengan perhatian SBY terhadap dunia seni. Menurut Prof. Rai, presiden tampak begitu peduli terhadap penanaman nilai-nilai seni dan budaya sebagai bagian dari wahana pembentukan karakter bangsa.

Perhatian eksplisit terhadap khasanah kesenian bangsa sepatutnya memang diberikan secara tulus oleh para pemimpin kita. Masih segar dalam ingatan bagaimana apresiasi yang ditunjukkan Presiden SBY saat menyaksikan sendratari pada pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) di panggung terbuka Ardha Candra, 12 Juli lalu. Kendati gerimis hujan cukup deras, presiden SBY yang didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika dengan berbasah-basah tetap tenang menyaksikan sendratari kolosal “Anggada Duta“ hingga akhir. Ucapan terima kasih yang disampaikannya usai pementasan dengan menyalami para penari, penabuh,  narator, dan penggarap lainnya adalah sebuah kasih maesenasisme yang menggugah nurani para pelaku seni.  Apresiasi yang demikian adalah api yang mampu mengobarkan semangat para seniman mengabdi pada dunianya, jagat seni, barometer kebudayaan sebuah bangsa.

Demokrasi Berkesenian Wanita Dan Anak-Anak Bali, selengkapnya

Comments are closed.