Denyut Kesenian Bali Di Tengah Geliat Globalisasi

Denyut Kesenian Bali Di Tengah Geliat Globalisasi

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Dunia cipta seni mengalir dan membuncah di Pulau Dewata. Ekspresi keindahan manusia Bali bertumbuh sejak dulu hingga kini. Bunga-bunga karya cipta para kreator seni masa lampu, kini menyemarakkan khasanah kesenian Bali. Seni pertunjukan dengan beragam bentuk, fungsi, dan maknanya hadir dan menyatu dengan sosio-kultural masyarakatnya. Sekarang, di tengah era globalisasi, jagat seni pentas tetap menggeliat. Simaklah pada 24-27 Mei lalu di ISI Denpasar. Puluhan seniman muda menguak menyajikan karya ciptanya yang sarat gereget, dinikmati penonton penuh antusias.

Antusiasisme penonton dan apresiasi para pemerhati seni menyaksikan seni pentas besutan 53 orang seniman muda itu kiranya wajar. Sebab sajian pertunjukan dalam ungkapan seni tari, seni karawitan, dan seni pedalangan itu sejatinya memang dikonstruksi dengan mengerahkan segenap kemampuan masing-masing penggarap. Maklum, garapan seni pentas itu adalah karya tugas akhir--merupakan bagian dari pertanggungjawaban akademik--bagi para mahasiswa yang akan menamatkan pendidikan kesarjanaannya (S-1) di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar. Generasi muda yang menekuni bidang penciptaan, dalam kesempatan itu, menunjukkan karyanya di depan para penguji dan masyarakat penonton.

Masyarakat penonton dapat menikmati beraneka ragam ekspresi karya seni pentas. Para seniman muda itu diberikan ruang yang sangat terbuka untuk mengimplementasikan gagasan artistiknya. Mereka juga mendapatkan kemerdekaan untuk mengolah elemen-elemen estetik, baik yang berakar dari seni tradisi maupun yang menjelajah area seni kontemporer. Tema cerita yang dipetik dari beragam sumber juga begitu variatif. Begitu pula pesan-pesan yang dilontarkan menjamah bermacam fenomena, konteks, dan nilai-nilai moral kehidupan.

Moral dari sebuah kesetiaan ditampilkan oleh Ni Nyoman Wahyu Adi Gotama dengan cipta tari bertajuk “Satyaning Amba“. Tari kreasi yang dibawakan lima penari putri ini bertutur tentang seorang putri raja, Dewi Amba, yang cinta dan harga dirinya merasa dihina oleh Bhisma, seorang ksatria brahmacari. Amba menyimpan dendam dan bertekad membalasnya. Selain moral kesetiaan dari epos Mahabharata, filosofi rwa bhineda dari sumber mitologi, juga digarap dalam sebuah koreografi karya Putu Ryma Febriana. Lewat judul “Siwa Swabhawa“, Ryma berungkap tari mengisahkan wujud ganda dari Dewa Siwa yaitu penuh kasih dan garang menakutkan. Berbeda dengan Wahyu dan Ryma, Ni Made Liza Anggara Dewi terimajinasi oleh kehidupan sehari-hari wanita Bali. Liza menstranformasikan ketulusan wanita Bali dalam aktivitas sosial keagamaannya melalui sebuah karya tari bertajuk “Retna Pradana“.

Sumber inspirasi pijakan karya dapat pula dari “penyakit“. I Gusti Putu Adi Putra yang sejak kecil gehgean (latah), menggarap komposisi karawitan berjudul “Gehgean”. Melalui media Gong Kebyar, Adi Putra berungkap musikal mengelaborasi kelatahannya dalam nuansa musik yang terkaget-kaget, terbata-bata, tergelak riang dalam ramuan ritme, melodi, tempo, dinamika yang tertata apik dibawakan 30 orang penabuh. Sementara itu, I Gusti Ngurah Jaya Kesuma, dalam garapan musiknya, “Kori Agung”, menggebrak dengan konsep estetik nan eksploratif. Tiga ansambel gamelan, Gong Kebyar, Semarapagulingan, Semarandana, dicampuradukannya. Berbagai kemungkinan musikal digali, dibenturkan, dan diharmonisasikannya. Bahkan musik petik gitar dan drum Afrika, jembe, juga dikolaborasikannya. Hasilnya, sebuah eksperimentasi bunyi yang unik.

Dari mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI, juga muncul letupan garapan seni eksperimental. I Made Sukarsa yang menyuguhkan lakon “Aji Amertha Sanjiwani“ hadir dengan konvensi klasik seni pedalangan Bali namun juga bereksperimen pada aspek tata lampunya. Dalam tuturan cerita tentang ilmu menghidupkan orang mati dengan tokoh Begawan Sukra dan Sang Kaca, Sukarsa menyegarkan mata penonton dengan bayangan latar realistis yang dikendalikan komputer lewat semburan proyektor. Semangat mendekonstruksi wayang kulit Bali juga hadir pada garapan pakeliran I Putu Candra Wijaya. Lewat judul “Tri Samaya“  yang bersumber dari mitologi Bhatara Guru, berbagai kemungkinan estetik dan ungkap artistik disinkronisasikan. Dalam sebuah bentangan layar lebar vertikal, kekentalan wayang kulit tradisi dipadukan dengan pemeranan figur-figur penari lewat pencahayaan dinamis sinar belencong, lampu listrik, dan LCD.

Kreativitas adalah denyut nadi dari kesenian. Denyut cipta seni para seniman muda itu telah mengisi ruang kebudayaan kontemporer. Karya cipta seni pertunjukan buah karya generasi muda godokan ISI, beberapa tahun terakhir ini merupakan dinamika berkesenian yang patut diapresiasi tinggi oleh semua kalangan. Masyarakat Bali yang akrab dengan jagat seni perlu menyimaknya. Tetapi ratusan cipta seni tari, karawitan, dan pedalangan karya seniman akademis itu umumnya belum dicerap masyarakat. Karena tak tersosialisasi, tak sedikit masyarakat awam memandang dunia cipta seni pentas Bali telah macet. Untuk membuka pandangan yang menyepelekan itu, para kreator (koreografer, komposer, dalang), perlu memperkenalkan karyanya ke tengah masyarakat, baik dalam lingkungan komunal maupun dalam forum berskala besar. ISI dan Pemda Bali, dapat menjalin komitmen menyajikan garapan para seniman sumber insani masa depan kesenian bangsa ini di arena PKB misalnya, untuk diapresiasi dan dimaknai penonton.

Denyut Kesenian Bali Di Tengah Geliat Globalisasi, selengkapnya

Comments are closed.