Desain dan Teknik Produksi Keramik

Desain dan Teknik Produksi Keramik

Kiriman: Drs. I Wayan Mudra, MSn., Dosen PS. Kriya Seni ISI Denpasar.

A. Pendahuluan

Kriya keramik saat ini perkembangannya cukup pesat, baik dilihat dari produk/karya, material, jumlah perajin/seniman keramik, atau dari wacana tentang kriya. Produk yang berkembang  sangat beragam yang dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama, keramik yang perwujudannya untuk sesuatu yang difungsikan, dimasyarakat sering disebut dengan istilah dengan keramik pakai/keramik fungsi (craft as business). Kedua,  keramik yang perwujudannya sebagai media ekpresi pribadi, dimasyarakat sering disebut dengan istilah dengan keramik seni, keramik personal, (fine art ceramic atau craft as art).

Kalau dilihat dari perkembangan bahan yang dipakai juga mengalami perkembangan yang beragam dan variatif. Bahan yang dipakai oleh pembuat keramik bukan saja dari bahan dasar keramik (tanah liat dan glasir), tetapi sudah mengkombinasikan dengan bahan-bahan pendukung lainnya seperti : cat, pasir, kayu, besi, rotan, dsb. Pemakaian bahan-bahan ini terutama dilakukan pada proses finishing.  Pemakaian bahan tambahan yang berlebihan sering berakibat visualisasi karakter keramik menjadi tidak jelas bahkan hilang. Tentu saja kebanyakan orang tidak sependapat jika hal ini disebut sebagai penyimpangan. Kalau ditelusuri banyak faktor yang melatarbelakangi seperti tuntutan konsumen, kreatifitas seniman, dan sebagainya.

Jumlah perajin keramik yang ada dewasa ini di Indonesia dan di Bali khususnya, secara kuantitas dan kualitas karya yang dihasilkan juga mengalami peningkatan. Di Bali,  telah berkembang perajin keramik yang menghasilkan produk-produk yang mampu menembus pasar internasional. Seperti Cicak Keramik, Cal’ux Ceramik, Bali Pot Keramik, Beji Keramik, dll, memperkaya perusahaan-perusahaan keramik yang telah ada sebelumnya sperti Jenggala Keramik, Jati Agung, Dalung Keramik, dll. Kriyawan keramik yang juga disebut seniman keramik juga mengalami peningkatan, walaupun jumlahnya tidak sepadan dengan perkembangan seniman seni lukis. Di Indonesia kriyawan keramik tersebut dapat disebutkan seperti  almarhum Hildawati Soemantri  (Mother  of Indonesian’s ceramic art), Jane Chen, Suyatna, Widayanto, dan lain-lain. Widayanto terkenal dengan karya-karyanya seperti : serial Loro Blonyo, Ganesha-Ganeshi, dan Ukelan.

Selain perkembangan diatas perdebatan wacana kriya juga menarik untuk disimak. Belakangan ini di Indonesia berkembang wacana kriya kontemporer (contemporary craft), merupakan imbas dari conteporary craft yang berkembang di dunia Barat. Munculnya wacana ini bukan dari kriya tradisi yang ada, tetapi berasal dari tradisi akademik yang secara tegas memisahkan art dan craft. Tentu saja istilah ini masih menyisakan kontroversi karena didalamnya mengandung paradoks. Disatu sisi kriya menempatkan diri bersebrangan dengan seni murni (art), namun disisi lain sebutan kontemporer mengacu pada seni masa kini (modern art). Namun dapat diduga bahwa penggunaan istilah “kontemporer” dimaksudkan untuk membedakan diri dengan praktek kriya tradisi. Kriya tradisi lebih merupakan ekspresi komunal, sebaliknya kriya kontemporer adalah ungkapan ekspresi individu.

Kaitannya dengan contemporary craft, Peter Dormer berpendapat craft tidak perlu penjelasan atau justifikasi wacana dan teori, mengenai eksestensinya sebagai karya craft. Kekuatan dan nilai karya craft terletak pada apa yang tampil dan terlihat (obsorbed simply by looking). Dari penampilan tersebut akan akan terlihat kualitas teknik, pengolahan material, dan keindahan. Pendapat ini akan menimbulkan anggapan bahwa craft tidak perlu diwacanakan atau diteorikan. Namun dikalangan penganut contemporary craft saat ini cukup produktif.

Dari wacana diatas dapat disebutkan jika art adalah pemikiran refleksi idea, dan konsep, craft adalah membuat sesuatu.  Atau art merefleksikan daya imajinatif dan kreatif sedangkan craft adalah ketrampilan membuat sesuatu. Sering dikatakan seni rupa modern adalah art without craft.

Sulitnya meghilangkan garis batas craft adan art karena di Barat masih didikotomikan, dan ada dua pemahaman yang saling bersebrangan. Disatu pihak konsisten dengan wilayah craft dan tidak mau masuk dalam wilayah seni kotemporer  dan dipihak lain justru ingin masuk pada wilayah seni kontemporer sehingga karya-karya kriya yang dihasilkan dapat dinilai dan diapresiasi sebagai karya seni.

Desain dan Teknik Produksi Keramik selengkapnya

Comments are closed.