Ekspresi Interior Tropis Pada Arsitektur Kolonial Di Kota Singaraja

Ekspresi Interior Tropis Pada Arsitektur Kolonial Di Kota Singaraja

Oleh : I Nyoman Adi Tiaga, S.Sn., Jurusan FSRD, DIPA 2008

Abstract Penelitian

Secara global wilayah kepulauan Indonesia tewrmasuk wilayah yang memiliki iklim tropis.  Perubahan iklim dan suhu yang terjadi di Indonesia ini menjadi arsitektur rumah tinggal di I ndonesia dapat digolongkan ke dalam bangunan tropis. Salah satu contoh bangunan-bangunan trop[is di Indonesia dapat di temukan di Singaraja, Bali. Singaraja sebagai Ibu Kota Kabupaten Buleleng, Bali sekain dijuluki sebagai kota “panas” berlambangkan patung Singa Ambararaja dan sebagai cikal bakal ibu kopta  “Sundan kecil” tempo dulu ternyata menyimpan kekayaan Arsitektur kolonial Belanda yang jarang dijinpai di kota-kota lain yang ada di Bali. Arsitektur kolonial ini dapat dijumpai di lingkungan Sukasada, Liligundi, Jalan Ngurah Rai, Jln. Gajahmada, Pelabuhan Buleleng dan lin-lain.

Munculnya rumah kolonial yang ada di Singaraja dikarenakan masuknya penjajah Belanda ke Bali Khususnya Singaraja di mana arsitektur kolonial ini sudah di pengaruhi oleh bangunan tropis yang ada di Indonesia ciri-ciri memadukan unsur-unsur seni dan budaya, menjadikan proses kolaborasi mengawali kointak budaya Bali dengan budaya barat. Bentuk bangunan pada masa pemerintahan Belanda di Buleleng memiliki arti yang sangat penting, karena dapat menggambarkan bentik arsitektur kolonial Belanda yang dapat di kolompokan kedalam jenis gaya ‘Landhuis’ The empire Style. Pengelompokan ini didasarkan pada rentang waktu periode perkembangan gaya arsitektur kolonial di Indonesia secara umum.

Pada prinsipnya wujud arsitektur rumah tinggal kolonial yang ada di kota Singaraja merupapkan bangunan yang selalu mempertimbankan iklim tropis basah di Indonesia. Ekpresi bangunan tropis diwakili oleh penggunaan bentuk dan kemiringan atap yang cukup tajam berkisar antara 35˚ hingga 40˚. Kemiringan atap yang tajam ini ditujukan untuk menghadapi curah hujan yang tinggi dan mengakibatkan jumlah air menimpa atap cukup banyak. Bentuk dasar denah sangat kental terlihat pengaruh arsitektur tropisnya. Ekspresi tropis pada denah ditujukan dengan adanya serambi/beranda pada masing-masing bangunan. Ketebalan dinding pada seluruh bangunan sampel dibuat satu batu bata (30 cm). Bidang dinding d3engan ketebalan 30 cm pada bangunan ini akan membuat kesejukan udara pada masing-masing ruang tetap terjaga. Ekspresi bangunan ptropis pada elemen pintu dan jendela diwakili dengan bentuk dan ukuran yang berskala besar. Daun pintu dan jendela di buat rangkap (dua lapis), yaikni: daun pintu jendela kaca di bagian dalam dan daun pintu jendela panil berkisi pada bagian luar. Letak jendela dan pintu yang saling berhadapan khususnya pada masing-masing ruang tidur memungkinkan adanya cross ventilation. Walaupun sebagaian besar arsitektur yang ada di daerah Buleleng tidak meninggalakn dengan jelas nama perancang atau arsiteknya, namun melalui tahun pendiriannya, konsep, dan ciri-ciri gaya yang ditampilkan mengindikasikan bahawa arsitektur kolonial yang ada adalah arsitektur kolonial yang berkonsep tropis dan bergaya ‘The Empire Style’ Dengan demikian tidak dapat dipungkiri lagi bahwa arsitektur kolonial yang ada di kota Singaraja merupakan bangunan yang mempertimbangkan iklim tro[pis basah di Indonesia. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa terdapat benang merah antara arsitektur kolonial yang ada di Kota Singaraja dengan arsitektur kolonial yang umumnya ada di Indonesia.

Comments are closed.