Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Gelar Lomba Cipta dan Sarasehan Seni Pertunjukan Kontemporer

Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Gelar Lomba Cipta dan Sarasehan Seni Pertunjukan Kontemporer

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar menggelar Lomba Cipta Seni  dan Sarasehan Pertunjukan Kontemporer, selama dua hari dari tanggal 4 November 2009 hingga 5 November 2009. Kegiatan melibatkan seluruh mahasiswa dari semester I, III, V, dan VII dari ketiga Jurusan di FSP yaitu Pedalangan, Karawitan dan Pedalangan. Para mahasiswa dari ke tiga jurusan ini dikelompokkan menjadi empat kelompok berdasarkan semesternya. Menurut Dekan FSP ISI Denpasar I Ketut Garwa, S.Sn. M.Sn., lomba yang pertama kali digelar ini merupakan tantangan bagi mahasiswa dan dosen untuk bisa menunjukkan kemampuan mereka di bidangnya masing-masing, dan bagaimana mereka mampu bekerjasama lintas jurusan untuk menghasilkan karya terbaik. Garwa menambahkan dipilihnya lomba kontemporer bertujuan menggali sedalam-dalamnya kemampuan mahasiswa untuk bebas berekspresi, serta untuk memutuskan anggapan bahwa seni budaya Bali sangat identik dengan seni tradisi. Dengan berkembangnya inspirasi mahasiswa di bidang kontemporer maka mampu nenambah wawasan mereka untuk menjadi seniman yang professional. Namun diharapkan mahasiswa jangan terlalu terlena dengan budaya kontemporer, karena budaya local yang kita miliki harus terus dipijak dan dilestarikan. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mereka bisa mengimbangi antara tradisi dan kontemporer.

Ketua Pelaksana sekaligus PD III FSP ISI Denpasar, I Wayan Berata, S.SKar., M.Sn., kegiatan berlangsung selama dua hari, dimana hari pertama (4 Nov 09) pk. 18.30 wita akan digelar Lomba Cipta Seni Pertunjukan Kontemporer dengan pementasan masing-masing karya sekitar 15 menit. Keesokan harinya (5 Nov 09) pk. 09.00 wita bertempat di Natya Mandala ISI Denpasar akan dilaksanakan sarasehan/ seminar dari karya hasil lomba. Yang menarik dari lomba ini adalah juga keterlibatan para juri dan narasumber yang didatangkan dari Yogyakarta, mereka adalah Miroto, M.FA. dari ISI Yogyakarta, Slamet Gundono yang dikenal juga dengan dalang Wayang Sukat dari Komunitas Pedalangan Solo, serta Agus Santosa, S.Sn., M.Sn dari Komunitas Kontemporer Surabaya.

Acara ini dibuka langsung oleh Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A dan dalam sambutannya Prof. Rai berpesan agar terus mengembangkan kesenian kontemporer dengan menggali konsep dan akar-akar seni dan budaya lokal yang disesuaikan dengan fenomena sosial yang terjadi. Sehingga akan menjadi

Dari Sarasehan Seni Kontemporer (5/11) terungkap bahwa kontemporer tidak semata-mata merusak tradisi, tapi ada konsep disana, tidak sekedar gagasan, tapi ada pesan2 dibalik karyanya. Konsep sangat penting dalam kontemporer. Kontemporer menggali, kontemporer tidak berorientasi untuk pasar, tapi perkembangan sejarah seni. Penting kiranya mengandung kebaruan2/ kekinian2. Contohnya Gong dalam keramat, penentu segala2nya, titik nadir suatu pencapaian.  Kontemporer tidak bisa dinilai baik/ benar. Titik tolak kontemporer itu pembongkaran suatu nilai yang diciptakan atas dasar kekuasaan, ini dielaborasi untuk menjadi sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama. Kontemporer harus ada konsep, ide yang ada dalam pikiran. Merancang ide pikiran itu konsep. Konsep memberi tekanan secara estetis.

Esensi seni kontemporer adalah keterbukaan pikiran, kreativitas. Menurut Slamet Gundono” kontemporer tidak harus datang di lingkungan akademis, di lumpurpun bisa lahir kontemporer, yang mengangkat local genius. Lain lagi dengan pandangan Agus Santosa: penggarapan seni kontemporer harus memiliki wawasan, seni kontemporer di in donesia itu ada, di barat juga. Ketika membuat seni kontemporer hendaknya dilandasi oleh konsep, yang menyangga seni kontemporer.Semua memberikan dukungan yang penuh, kehidupan seni kontemporer di Bali harus didukung. Karena realita seni kontemporer adalah kesenian yg terpinggirkan/ termarginalkan. Sejarah seni kontemporer di Bali sudah ada sejak tahun 30an. Yaitu Tari Kecak yang ada sekarang diambil dari tari sanghyang yang ada dulu. Walaupun ada pencekalan terhadap seni kontemporer. Kini seni kontemporer sudah mulai diterima di masyarakat. Kontemporer ada di Bali tapi dari segi sosial kontemporer masih diabaikan oleh masyarakat, karena kokohnya seni budaya masyarakat bali.

Sebelum pengumuman pemenang lomba, secara spontanitas Slamet Gundono “sempat” menunjukan kebolehannya dengan menampilkan Dalang Sukat dibarengi oleh seluruh dewan juri yang sama-sama ingin menunjukkan apa arti Seni Kontemporer bagi mereka. Seluruh yang hadir dalam acara merasa mendapat pengetahuan yang berharga tentang seni kontemporer, semoga semangat kontemporer selalu diterapkan dalam penggalian identitas diri dan dalam konteks penciptaan kesenian yang baru.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.