FSP Sukses Menggelar UJian Tugas Akhir Gelombang Ke II

FSP Sukses Menggelar UJian Tugas Akhir Gelombang Ke II

Denpasar- Guna mempercepat kelulusan serta memeri peluang kepada mahasiswa untuk memperbaiki nilai guna memperoleh hasil yang terbaik, maka untuk pertama kalinya Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar menggelar Ujian Sarjana Seni untuk gelombang II, setelah kesuksesan pelaksanaan sebelumnya, gelombang I pada tanggal 24 samapai 27 Mei 2010. Pada ujian gelombang ke dua ini, menghadirkan 5 peserta ujian yang terdiri dari 1 orang Jurusan Tari, 2 orang Jurusan Karawitan serta 2 orang dari Jurusan Pedalangan. Ujian berlangsung pada tanggal 5 Juli 2010, dimulai pada pukul 09.00 pagi hingga selesai. Pementasan pertama akan menampilkan karya pedalangan dengan judul Khang Ci Wi, dengan penata I Dewa Gede Agung Sutresna. Penata mengisahkan bahwa masa lampau dipetik dari Prasasti Dalem Balingkang, menceritakan pertemuan antara Raja Jaya Pangus dengan putri saudagar China bernama Khang Ci Wi. Dikisahkan sekian lama dari perkawinan ini belum juga membuahkan keturunan. Sampai pada suatu waktu Raja Jaya Pangus memutuskan untuk bertapa di lereng Gunung Batur. Pertapaan Jaya Pangus pun terusik akan pesona paras cantik nan rupawan Dewi Danu hingga terjalin hubungan antara Jaya Pangus dan Dewi Danu. Khang Ci Wi menjadi murka setelah mengetahui hubungan ini. Maka terjadilah peperangan antara Khang Ci Wi dengan Dewi Danu. Pada saat peperangan terjadi, akhirnya Batari Batur mengutuk Jaya Pangus dan Khang Ci Wi menjadi Barong Landung yang mengemban misi menyeimbangkan alam dari mara bahaya. Dengan pendukung Karawitan dari Sanggar Rare Angon, garapan ini menghasilkan perpaduan warna antara budaya Cina dan Bali. Ini tercermin dari music iringan yang mengkolaborasikan etnik-entik Cina pada tembang yang dibawakan gerongnya.

Kemudian dilanjutkan dengan judul karya pedalangan ‘Pralaya’ oleh penata Ida Bagus Putra Tenaya dari Jurusan Pedalangan. Garapan Pralaya ini menceritakan akibat perbuatan tidak terpuji yang dilakukan Raden Samba putra Kresna terhadap tiga Maharsi Agung. Akhirnya Dwarawati beserta keluarga besar Yadu dikutuk hingga mengalami kemusnahan. Sebagai antisipasi Sri Kresna memerintahkan seluruh keluarga besar Yadu untuk melakukan penyucian diri ke Prabhasatirta, namun kemusnahan itu tetap terjadi sebagai kehendak alam. Menurut penata, kisah ini diangkat dari Mosala parwa bagian ke enam belas epos Mahabharata, yang melibatkan pendukung Karawitan dari Sekaa Semar Pegulingan Margia Bhuana Abiansemal, Badung.

Karya selanjutnya dari Jurusan Karawitan berjudul  ‘TawaCeng oleh I Ketut Yuliarta. Dengan berpolah tingkah lucu, penata ingin menampilkan garapan karawitan kontemporer yang terilhami dari terjadinya sebuah perubahan. Perubahan sangat berpengaruh dan berperan dalam segala proses yang dilakukan oleh makhluk hidup di dunia ini, Karena perubahan itu abadi keberadaannya. Kata perubahan yang menyebabkan terbesitnya sebuah ide dan konsep, dimana penata mentransformasikan ide dan konsep perubahan lewat bahasa  musikal dengan perubahan fungsi dan teknik pukul dari media ungkap Tawa-tawa dan Ceng-ceng ricik. Dengan tetap mengutamakan unsur-unsur musikal seperti tempo, ritme dan dinamika, penata ingin mempersembahkan sebuah garapan karawitan kontemporer yang begitu harmonis didengar oleh penikmat seni. Penata melibatkan Pendukung Karawitandari Sanggar Sangglir.

Dilanjutkan dengan penampilan dari Ni Luh Putu Eka Oktayanti, mahasiswa dari Jurusan Tari dengan garapan berjudul Jayastri. Menurut penata, Jaya berarti menang, Stri artinya wanita. Jayastri adalah seorang wanita yang mampu memenangkan dalam memperebutkan senjata lawan. Sebuah garapan tari yang menceritakan keberanian seorang wanita pejuang Nyonya Lasti memiliki jiwa patriotisme yang ditugaskan oleh I Gst.Ngurah Rai merebut persenjataan Bali yang telah dikuasai Polisi Jenderal Wagimin dari pasukan Belanda. Penata melibatkan pendukung Karawitan dari Sanggar Nara Iswara Renon, Denpasar.

Sementara untuk akhir pementasan ditampilkan karya dari mahasiswa Jurusan Karawitan yang bernama I Kadek Aryadi Wijaya dengan judul Tetikesan. Dikisahkan perjalanan hidup masing-masing individu selalu diwarnai ungkapan rasa, karsa yang penuh dengan nilai-nilai estetika. Tetikesan mempunyai makna, tingkah laku atau pola sikap. Dari hal tersebut pengekspresian dan perwatakan tari barong sebagai simbolisasi dari Banaspatiraja manjadi latar belakang pijakan untuk ditransformasikan kedalam sebuah tabuh kreasi Bebarongan inovatif, dengan tetap berpedoman pada pola-pola tradisi, menekankan pengolahan teknik atau gegebug serta memaksimalkan pengolahan dengan media ungkap gamelan semara pegulingan. Penata mencoba menjelaskan dalam bentuk bahasa musikal secara subyektif dengan mempertimbangkan aspek garap karawitan “tabuh petegak bebarongan”. Penata menyajikan garapan Tetikesan dengan melibatkan pendukung Karawitan dari Sanggar Sekar Mas, Desa Adat, Desa Adat Peninjoan Denpasar.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.