Fungsi Kerajinan kayu di Desa Singakerta

Fungsi Kerajinan kayu di Desa Singakerta

Kiriman: Drs. I Dewa Putu Merta, M.Si., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar.

Seni Kerajinan adalah komponen produk seni yang dibuat melalui ketrampilan tangan  untuk tujuan sebagai kebutuhan hidup manuasia.  Berdasarkan pengertian itu, kerajinan merupakan hasil suatu produk ketrampilan seni yang dibuat oleh manusia. Bentuk-bentuk produksi kerajinan memiliki fungsi untuk memperindah ruangan atau barang penghias ruang. Benda produk kerajinan tersebut diharapkan menjadikan ruangan semakin indah. Barang-barang  produk  kerajinan kayu tersebut memiliki fungsi sebagai berikut :

1.  Fungsi Estetis

Fungsi estetis merupakan fungsi murni untuk memperindah atau mempercantik suasana ruang.  Fungsi yang demikian itu nampak jelas pada produk-produk kerajinan relief dan kerajinan patung yang diproduksi di daerah Singakerta, dan  menggunakan media kayu yang banyak menekankan nilai estetisnya. Estetis yang dimaksud adalah keindahan yang tampak secara pisik dapat dinikmati oleh indria pengelihatan secara nyata.

Dalam buku Pengantar Dasar Ilmu Estetika, dijelaskan bahwa estetika adalah segala         sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, semua aspek dari yang disebut ke-indahan.

Misalnya apakah artinya indah?, apakah yang menumbuhkan           rasa indah itu?,  Dari  mana datangnya rasa indah itu?,  Apa yang       menyebabkan barang yang satu indah dan yang lain tidak?,  Dan apa             sebabnya yang dirasakan oleh orang yang satu indah  dan tidak       dirasakan keindahannya oleh orang yang lain? (Djelantik, 1990: 6).

 

Selanjutnya Djelantik juga menyatakan, benda seni yang menjadi sasaran analisis  estetika atau keindahan setidak-tidaknya mengandung tiga aspek dasar seperti  wujud atau rupa yang mempunyai dua unsur utama ; bentuk/form, dan  susunan/structure, bobot atau isi yaitu aspek utamanya suasana/mood, gagasan/idea, ibarat,             pesan/message, dan penampilan (hasil dari tiga unsure; bakat/talent, ketrampilan/skill, sarana/medium (1990: 14).

Sedangkan Murdana (2001: 19) menjelaskan, estetik menyangkut persoalan-persoalan keindahan yang dapat menimbulkan pengalaman tertentu dan dapat memuaskan jiwa penikmatnya.

Dalam Hermeneutika, Estetika, Dan Religius Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa juga dijelaskan, estetika membicarakan objek-objek estetik, kualitas karya seni serta pengaruhnya terhadap jiwa manusia yaitu perasaan, imajinasi, alam pikiran dan intuisi. Apabila karya seni dikaitkan dengan spiritual dan agama tertentu, pencipta mestilah memahami dan menghayati spiritual dan agama tersebut (Hadi, 2004: 227).  Dalam konteks tersebut, Melvin Rader menjelaskan, bahwa keindahan itu dihasilkan oleh hakikat yang diungkapkan atau berhasilnya cara pengungkapan. Cara pengungkapan itu yang harus indah, seni (dalam Somardjo, Jakob 2000: 26).

Djelantik (1990: 2) menjelaskan, indah dapat menimbulkan pada jiwa manusia rasa senang, rasa bahagia, rasa tenang, rasa nyaman, dan bila kesannya lebih kuat akan membuat terpaku, terharu, dan timbul keinginan untuk menikmati kembali.

Terkait dengan pernyataan tersebut, pengalaman estetis itu mencakup di dalamnya nilai-nilai keindahan yang dapat memberikan pengertian bahwa cakupan estetik bisa beraneka ragam nilai. Nilai yang dimaksud disini adalah suatu ciri yang melekat pada sesuatu yang dapat menimbulkan perasaan tergugah. Apabila sebuah benda disebut indah, hal itu berarti ciri suatu nilai yang dapat melekat padanya.  Teori estetika di atas dalam konteks penelitian ini digunakan untuk mengkaji keindahan hasil produksi seni kerajinan di desa Singakerta. Karena kerajinan kayu  merupakan bentuk ungkapan keindahan dan ketrampilan tangan, maka dalam menganalisisnya juga menyangkut keindahannya dari aspek ilmiah (misalnya hubungan antar elemen atau unsur yang ada untuk membangun struktur kerajinan kayu tersebut).

Fungsi Kerajinan kayu di Desa Singakertaselengkapnya

Comments are closed.