Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya

Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Pada awalnya, mebarung gamelan menguak dari Buleleng. Dari desa-desa di Bali Utara itu, sekitar tahun 1930-an, merebak ke seluruh Bali. Sejak Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar tahun 1979, duel gamelan dan tari ini sangat populer di tengah masyarakat Pulau Dewata. Tetapi, kini, pentas secara kompetitif gamelan ini mulai merambah pulau Jawa. Pada tanggal 26-27 Nopember lalu misalnya,  masyarakat pecinta seni Jawa Tengah, terpana oleh sajian mebarung gamelan Bali yang digelar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Empat grup gamelan, tiga dari tanah Jawa dan satu dari Bali, tampil adu tangguh. Penonton tampak menikmatinya dengan begitu antusias bak suasana pentas mebarung di Bali.

Pada malam pertama (26/11), pentas secara berhadapan tim gamelan ISI Surakarta dengan ISI Yogyakarta. Sajian konser gamelan dan tari yang ditampilkan mirip dengan festival atau parade Gong Kebyar di arena PKB. Ada tampilan dua konser tabuh dan suguhan nomor tari atau sendratari. Demikian pula mebarung pada malam kedua (27/11) yang menampilkan ISI Denpasar dan grup gamelan Puspa Giri Semarang menyuguhkan materi seni karawitan dan tari yang diwajibkan panitia. Tak dinyana, penampilan tiga grup gamelan Bali dari Jawa tidak kalah tangguh dengan sajian para mahasiswa ISI Denpasar.

Tradisi mebarung gamelan di Bali dan gebrakan mebarung gamelan Bali di Jawa tak bisa dilepaskan dari pesatnya perkembangan Gong Kebyar. Ansambel gamelan yang lahir di Bali Utara pada tahun 1915 ini, kini, hampir dimiliki oleh setiap banjar atau desa di Bali. Belakangan, tak sedikit dari pribadi-pribadi, sanggar-sanggar seni, kantor-kantor pemerintah dan swasta yang memiliki barungan gamelan yang biasanya dimainkan oleh sekitar 30-40 orang penabuh ini. Sedang di Jawa, sekolah-sekolah atau institut-institut seni dan sanggar-sanggar tari juga mengkoleksi dan mempelajari salah satu gamelan yang paling populer ini. Selain itu, kini gamelan Gong Kebyar telah menyebar ke pelosok Nusantara yang dibawa atau diprakarsai oleh para transmigran asal Bali. Ritual agama Hindu di pura pura di daerah transimigrasi di Sulawasi, Kalimantan, Sumatera misalnya telah lazim disertai dengan gemerincing permainan gamelan Gong Kebyar.

Di tengah masyarakat Bali, Gong  Kebyar  berfungsi fleksibel menyertai berbagai kepentingan pentas seni, baik presentasi estetik murni maupun persembahan dalam konteks ritual keagamaan. Gamelan ini sangat umum  dikenal,  baik oleh msyarakat Bali sendiri maupun oleh para peminat musik  luar Bali. Gamelan  ini kini malahan  sudah menyebar  ke luar negeri, di Amerika Serikat ada grup gamelan Gong Kebyar Sekar Jaya dan di Jepang ada grup Sekar Jepun yang sangat aktif menggelar pementasan. Gaya permainan musik Kebyar yang cepat, energik, atraktif, ramai dengan variasi jeda-jeda yang diungkapkan dengan penuh daya pikat, bergairah, dianggap mewakili dan menjadi ciri khas  musik Bali secara keseluruhan.

Fenomena semakin banyaknya sebaran Gong Kebyar di Nusantara bahkan ke seantero jagat memunculkan sebuah wacana yang didiskusikan dalam sebuah seminar pada tanggal 26 Nopember di ISI Surakarta, menjelang pentas Mebarung Gong Kebyar. Tiga pakar seni dan budaya tampil sebagai nara sumber yakni Prof. Dr. Rahayu Supanggah, SKar, Prof. Dr. I Wayan Rai, S.MA, dan Prof. Dr. Ida Bagus Yudha Triguna membahas topik “Musik Bali Mendunia?”, (dengan tanda tanya). Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen serta para peminat seni, mengikuti dengan tekun seminar setengah hari yang berlangsung hangat itu.

Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya, selengkapnya

Comments are closed.