Gamelan Gender Wayang Dalam Konteks Etnomusikologi

Gamelan Gender Wayang Dalam Konteks Etnomusikologi

Oleh I Wayan Diana (Mahasiswa PS Seni Karawitan)

Etnomusikologi sebagai disiplin ilmu musik yang unik. Etnomusikologi mempelajari musik dari sudut pandang sosial dan kebudayaan. Istilah “etnomusikologi” pertama dikemukakan oleh ahli musik berkebangsaan Belanda yang bernama Jaap Kunst (1950). Seorang pakar etomusikologi barat yang bernama Mantle Hood menyatakan bahwa penelitian etnomusikologi merupakan studi musik dari berbagai bangsa yang ditinjau dari konteks sosial dan kebudayaan. Musik itu dipelajari melalui peraturan-peraturan tertentu yang dihubungkan dengan bentuk kesenian lainnya; seperti tari, drama, arsitektur, dan ungkapan kebudayaan lain termasuk bahasa, agama, dan filsafat (I Made Bandem, Etnomusikologi Penyelamat Musik Dunia, ISI Yogyakarta, 1987 : hal.1.). Begitu juga halnya gamelan Gender Wayang sebagai salah satu alat musik tradisional Bali dalam jangkauan ilmu etnomusikologi tidak saja hadir sebagai sebuah bagian dari musik itu sendiri, melainkan sebagai bagian dari kebudayaan yang menyangkut kearifan lokal (local genius) masyarakat pendukung, agama, dan tatanan falsafat sesuai tempat, waktu, dan situasi (desa, kala, patra) dari tempat tumbuh kembangnya gamelan Gender Wayang itu sendiri.

Jika dicermati lebih dalam lagi, gamelan Gender Wayang selain ditinjau dari unsur musikologinya mampu hadir sebagai identitas budaya Bali, kalau berbicara dalam konteks budaya sebagai penanda jati diri suatu daerah. Budaya orang Bali begitu kental dengan sebuah tatanan, aturan, etika, dan susila dengan toleransi yang sangat tinggi, dan semua itu apabila dikaitkan dengan gamelan Gender Wayang, maka akan terlihat sebuah persamaan dari dimensi yang berbeda sebab budaya orang Bali yang penuh dengan kearifan, kesantunan, dan kelembutan seperti sebuah refleksi dari untaian-untaian nada slendro yang memiliki kesan dan karakter anggun, tenang, dan damai. Kedamaian, anggun, dan kesan tenang dari suara yang ditimbulkan oleh gamelan gender wayang menjadikan salah satu faktor penyebab dan pembentuk manusia Bali dengan budayanya yang penuh dengan tatanan, etika, aturan, susila, dan toleransi tinggi.

Dari tinjauan filsafat, merupakan sebuah pengungkapan suatu yang hakiki dari sebuah nilai (I Ketut Gede Asnama, MA, Facebook, 31 Januari 2010), gamelan Gender Wayang kaya akan nilai-nilai adi luhung berkenaan dengan konteks filsafat apabila dikaitkan dengan konteks musikologinya, salah satunya adalah tertanamnya sebuah konsepsi bayu, sabda, dan idep atau energi/tenaga, ungkapan/kesan, dan pikiran/konsep. Dalam konteks bayu yaitu energi tenaga dari Gender Wayang yang memiliki sebuah energi tenaga sangat halus dan lembut apabila ditinjau dari countur atau efek dari suara slendro dari instrument Gender Wayang. Namun dibalik kesan halus dan lembut, tersimpan sebuah kekuatan atau energi yang sangat besar menghentakkan rohani apabila ditinjau dari sebuah kepekaan rasa.

Gamelan Gender Wayang dalam Konteks Etnomusikologi Selengkapmnya

Comments are closed.