Garapan Ekperimental Tari Baris Dan Lawung “KEBO IWA”

Garapan Ekperimental Tari Baris Dan Lawung “KEBO IWA”

IMG_1727Denpasar- Sebagai implementasi atas keberhasilan ISI Denpasar dalam memenangkan Program Hibah Kompetisi (PHK) –B-Seni Bacht IV 2009, Jurusan Tari akan mementaskan garapan Eksperimental Tari Baris dan Lawung bertajuk “Kebo Iwa”. Garapan tersebut akan dipentaskan pada 1 Desember 2009 nanti. Guna memantapkan garapan tersebut para penari, penabuh serta pendukung acara sudah memulai kegiatan latihan sejak 21 November 2009. Latihan awal adalah latihan sektoral yang terbagi menjadi  3 sektor latihan, yaitu latihan tabuh, tari pria dan tari wanita.

Menurut konseptor garapan, Prof. Dibya, dalam garapan ini dicoba untuk mempertemukan dua tradisi tari klasik dari dua budaya yang berbeda yaitu Bali dan Jawa. Tari Bali diwakili dengan Baris sedangkan tari Jawa dengan tari Lawung. Keduanya merupakan tari kepahlawanan yang menggunakan senjata tombak. Garapan ini merupakan sebuah eksperimen untuk mempertemukan tari Baris dengan tari Lawung. Dalam dance and drama disebutkan bahwa eksperimen menunjukkan kedekatan antara tari Baris dengan tari Lawung.

Garapan ini dilatar belakangi dengan dua wilayah budaya yang berbeda (Jawa dan Bali), namun sejak berabad-abad yang lalu, telah memiliki interaksi kultural yang sangat akrab. Oleh sebab itu banyak perwujudan ekspresi budaya yang datang dari kedua daerah ini memiliki kedekatan walaupun secara fisik Nampak berbeda. Baris dan Lawung adalah dua jenis tari klasik/ tradisional dengan latar belakang budaya yang berbeda; Baris dari Bali, Lawung dari Jawa Tengah. Dibalik perbedaan wujud fisik dari keduanya, terdapat beberapa kedekatan rasa estetis yang kiranya dapat dipertemukan untuk menghasilkan suatu garapan tari yang bernafaskan Jawa-Bali sebagai satu strategi untuk melahirkan tari-tarian yang bernafaskan Nusantara.

IMG_1706Ekperimen tari “Baris Lawung” pada dasarnya sebuah upaya kreatif untuk mempertemukan unsur-unsur dua budaya Indonesia yang berbeda. Garapan ini lebih mengutamakan olah tari, dengan mengedepankan bahasa gerak, dari pada bahasa verbal. Oleh sebab, kisah Kebo Iwa hanya dijadikan “tali” untuk menjalin rangkaian tari yang dihasilkan dari pengolahan kembali terhadap untus-unsur tari Baris dan Lawung.

Pembabakan

Babak I – Arus Selat Bali

Gambaran tarik menarik arus air laut di Selat Bali yang digambarkan dengan munculnya Baris dan Lawung (dalam jumlah masing-masing 4 orang)

  • Baris
  • Lawung
  • Interaksi kedua kelompok

Babak II – Di Kerajaan Bedahulu

Patih Kebo Iwa menghadap Raja Bedahulu untuk memohon restu dari Sang Raja menjelang keberangkatannya ke tanah Jawa guna memenuhi undangan Maha Patih Gajah Mada.

  • Pasukan Baris
  • Patih Kebo Iwa
  • Raja Bedahulu (diiringi dayang-dayang)
  • Kebo Iwa meninggalkan Bedahulu

Babak III – Di Kerajaan Majapahit

Mahapatih Gajah Mada senantiasa mengawasi pasukan kerajaan. Tiba-tiba dating laporan akan tibanya pasukan Kebo Iwa dari Bali. Dalam suasana tegang, Gajah Mada menjelaskan bahwa yang dating bukan musuh melainkan Patih Kebo Iwa dari Bali atas undangan dirinya. Pasukan Majapahit kemudian bergerak menjemput pasukan bali.

  • Patih Gajah Mada
  • Pasukan Lawung
  • Utusan Jawa
  • Gajah Mada dan pasukan bergerak menjemput Kebo Iwa

Babak IV- Pertemuan Pasukan Bedahulu dan Majapahit

Dalam mengiringi Kebo Iwa dan Gajah Mada ke istana Majapahit, pasukan Bali dan Jawa bergabung dalam suasana yang penuh persaudaraan.

  • Pasukan kebo Iwa bertemu pasukan Gajah Mada
  • Gajah Mada menyambut Kebo Iwa dan mengantarnya ketempat peristirahatan
  • Kedua pasukan (Baris dan Lawung) bergerak bersama-sama mengiringi Gajah Mada dan Kebo Iwa.

Comments are closed.